Dr Heri Solehudin Jadi Narasumber PKM Internasional dan Perkuat Sinergi di KBRI Tokyo
PDMDEPOK.COM – Dosen Prodi Ilmu Komunikasi dan Prodi MM Pascasarjana Uhamka Jakarta, Dr. Rd. Heri Solehudin, menjadi narasumber pada kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Internasional dan Kunjungan Kolaborasi ke KBRI Tokyo-Jepang pada 6-8 September 2025.
Kegiatan PKM Internasional dan Kunjungan ke KBRI Jepang terselenggara berkat kolaborasi Prodi Ilmu Komunikasi dan Prodi Magister Manajemen Uhamka dengan Diaspora Indonesia di Tokyo-Jakarta.
Dua agenda kegiatan itu dilaksanakan masing-masing di Aula IPMI (Ikatan Perawat Muslim Indonesia), Saitama Soka Haracho, Astugi-Tokyo 3106 dan di Kantor KBRI 5-2-9 Higashi Gotanda, Shinagawa, Tokyo, Jepang.
Topik PKM Internasional adalah “Pendampingan Keterampilan Digital dan Wawasan Sosial Budaya Untuk Meningkatkan Produktifitas Ekonomi Diaspora Indonesia di Tokyo Jepang” secara Hybrid (offline dan online).
Selain Dr. Heri (offline- Uhamka) sebagai Narasumber 1, kegiatan PKM Internasional juga menghadirkan empat narasumber lainnya. Mereka adalah Dr. Erna Budiarti, M.Pd. (offline-Prodi PAUD Univ Pancasakti Bekasi), Dr. Sunarta (online-Prodi MM Uhamka), Rifma Ghulam Dzaljad, M.Si. (online-Prodi Ilkom Uhamka), dan Rani Darmayanti, M.Pd. (online-Prodi Pendidikan Univ Nahdlatul Ulama-Pasuruan).
Ahmad Naeni, S.Kp. selaku Sekretaris IPMI Jepang memberikan sambutan pada kegiatan PKM Internasional ini.
Sedangkan kunjungan ke KBRI Tokyo Jepang bertujuan untuk penjajagan kolaborasi Penelitian, PKM, Kewirausahaan dan Kerjasama dengan sekolah dan diaspora Indonesia serta perguruan tinggi dan perusahaan di Jepang. Kunjungan ini mendapat sambutan baik dari Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo-Jepang, Bpk Prof. Amzul Rifin, Ph.D.
Dalam presentasinya, Dr. Heri menyampaikan bahwa terjadi peningkatan jumlah penduduk asing di Jepang dari tahun ke tahun, termasuk jumlah diaspora Indonesia.
Berdasarkan data dari Immigration Services Agency Jepang, jumlah total penduduk asing (residen jangka menengah hingga panjang dan special permanent residents) telah mencapai 3.768.977 jiwa pada akhir tahun 2024, meningkat 357.985 orang dibanding tahun sebelumnya—atau naik sekitar +10,5%.
Data resmi juga mencatat bahwa pada 1 Januari 2025, populasi penduduk asing meningkat sekitar 354.089 orang, mencapai kisaran 3,98 juta jiwa—angka tertinggi sejak survei dimulai pada 2013.
Berdasarkan Negara Asal dan Visa, pada akhir 2024 jumlah penduduk asing asal Tiongkok mencapai ±844.600, Vietnam ±589.900, Korea Selatan ±410.300, Filipina ±336.200, dan Indonesia ±173.400.
Seiring dengan bertambahnya jumlah diaspora di Jepang, Dr. Heri menilai diaspora Indonesia memiliki potensi besar di Negeri Matahari Terbit itu.
“Diaspora Indonesia di Jepang, khususnya di Tokyo, memiliki potensi besar dalam kontribusi sosial-ekonomi. Banyak yang memiliki keterampilan profesional, semangat kewirausahaan, serta jaringan diaspora yang kuat,” kata motivator bidang sosial dan politik ini dalam keterangan kepada KBA News, Selasa, 9 September 2025.
Menurut Dr. Heri, potensi ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sektor jasa, industri kreatif, pendidikan bahasa, hingga perdagangan internasional.
Namun demikian, ahli marketing dan entrepreneur ini juga menyampaikan bahwa diaspora Indonesia di Jepang juga menghadapi tiga hambatan utama.
Pertama, dalam hal bahasa. Dia menilai penguasaan bahasa Jepang menjadi prasyarat penting untuk mendapatkan pekerjaan layak, mengakses pendidikan, dan berinteraksi sosial.
“Banyak diaspora mengalami keterbatasan di aspek ini sehingga memperlambat integrasi,” jelas Dr. Heri yang juga seorang Tokoh Masyarakat Ciamis dan Keturunan Raja Galuh Panjalu ke-17 ini.
Kedua, tantangan akses layanan digital. Dalam konteks ini, dia menyebut tidak semua diaspora terbiasa menggunakan layanan publik berbasis digital Jepang yang sering hanya tersedia dalam bahasa Jepang.
“Hal ini membatasi akses terhadap layanan kesehatan, administrasi, dan peluang kerja daring,” tambah Dr. Heri.
Ketiga, tantangan terkait adaptasi budaya, terutama karena perbedaan nilai dan norma sosial, seperti etos kerja, sistem hierarki, serta gaya komunikasi.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Dr. Heri menyampaikan empat rekomendasi dan praktis. Pertama, dukungan bahasa dan digital di pusat pelayanan (multibahasa). Kedua, insentif untuk perusahaan yang merekrut dan melatih diaspora. Ketiga, struktur pendanaan kolaboratif: Pemerintah Daerah, Donor dan Swasta. Keempat, Riset lanjutan: studi longitudinal tentang dampak ekonomi program.



