Esai/Opini

Depok di Usia 27, Bukan Sekadar Tempat Tinggal

PDM DEPOK – Oleh: Dodi Sutrisno*

Tanggal 27 April selalu punya cara sendiri untuk membuat Depok berhenti sejenak—bukan untuk diam, tapi untuk berkaca. Sejak 1999, ketika ia resmi menjadi kota mandiri, Depok seperti anak muda yang tumbuh agak cepat. Tiba-tiba sudah 27 tahun, tapi masih sering ditanya, “sebenarnya maunya jadi apa?”.

Di usia ini, Depok mulai terlihat lebih rapi. Ia belajar menyisir prioritasnya sendiri, mencoba menata langkah-langkah yang dulu mungkin masih setengah yakin. Sesekali ia tampak sibuk berdandan—mempercantik sudut-sudut kota, menambah warna, memperbaiki kesan pertama. Walau, seperti anak muda kebanyakan, kadang masih ada yang terlewat—sepatu sudah bersih, tapi jalan yang dilalui masih suka becek.

Depok lahir di era yang sama dengan tumbuhnya generasi yang akrab dengan layar dan internet. Generasi yang serba cepat, serbainstan, dan penuh ide. Namun, di saat yang sama, ia juga dikelilingi semangat generasi sebelumnya yang percaya bahwa segala sesuatu akan lebih kuat jika dikerjakan bersama. Maka, tak heran jika Depok sering terasa seperti ruang campuran—antara kecepatan dan kehati-hatian, antara inovasi dan pertimbangan.

Secara geografis, posisi Depok memang menarik—kalau tidak mau dibilang strategis dengan konsekuensi. Di utara, ada Jakarta, yang setiap pagi seperti memanggil dengan janji-janji besar. Di selatan, ada Bogor, yang menawarkan jeda, udara, dan sedikit ketenangan.

Depok berdiri di tengah-tengah, seperti ruang tunggu yang nyaman—cukup untuk singgah, cukup untuk beristirahat, tapi kadang belum cukup kuat untuk membuat orang benar-benar tinggal dalam pikirannya.

Padahal, di dalam dirinya ada “ruang berpikir” besar bernama Universitas Indonesia. Tempat ide-ide lahir, diperdebatkan, dan dibawa pulang oleh banyak orang. Menariknya, ide-ide itu sering bepergian lebih jauh daripada kota tempat ia dilahirkan.

Hari-hari di Depok pun punya ritme yang khas. Pagi hari terasa seperti pelepasan besar-besaran—orang-orang berpamitan, berangkat dengan penuh harap. Sore menjelang malam, mereka kembali, membawa lelah, cerita, dan mungkin sedikit rindu. Depok menerima semuanya dengan tenang, seperti rumah yang tahu penghuninya akan pergi lagi esok hari.

Di usia 27, Depok mulai peka. Ia tahu ada hal-hal kecil yang sering membuat orang mengernyit: perjalanan yang terasa lebih panjang dari jaraknya, udara yang kadang terasa “terlalu penuh”, atau hujan yang tidak hanya membawa air, tapi juga kenangan untuk menggulung celana hingga betis.

Namun, alih-alih mengeluh keras, Depok memilih cara yang lebih halus—ia memberi tanda. Di sudut-sudutnya, di jalannya, di ruang-ruang yang masih mencari bentuk, ia seperti berbisik: “aku sedang berbenah, tunggu sebentar lagi.”

Di sinilah anak muda punya peran penting. Bukan sebagai penonton yang duduk di kursi kafe estetik sambil berkata, “tempatnya enak, tapi…”, melainkan sebagai bagian dari cerita itu sendiri.

Karena pada akhirnya, Depok bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah ruang bertumbuh. Tempat seseorang bisa memilih untuk sebatas singgah atau ikut membangun.

Di usia yang sama-sama muda, mungkin ini saat yang tepat untuk saling menguatkan. Bukan agar Depok menjadi kota yang sempurna—karena itu terlalu jauh—tapi agar ia menjadi kota yang terasa cukup—cukup nyaman, cukup hidup, dan cukup berarti untuk tidak hanya ditinggali, tapi juga dipikirkan.

Siapa tahu suatu hari nanti orang-orang tidak lagi berkata, “badannya di Depok, pikirannya ke mana-mana.” Tapi, “di sinilah semuanya terasa pas.”

*Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Depok

Pasang Iklan-Mu di Sini (In Content)

Related Articles

Back to top button