Merajut Asa Meningkatkan Mutu Pendidikan

PDM DEPOK – Oleh: Dodi Sutrisno*
Hari Pendidikan “Nasional” kini terasa hidup hampir setiap hari. Sebab, hampir setiap hari pula para pendidik berikhtiar memberikan dedikasi terbaiknya untuk pendidikan. Di tengah berbagai dinamika bangsa, pendidikan tetap menjadi ruang penting untuk menyiapkan generasi yang tangguh, sungguh-sungguh, mampu bertahan, kreatif, inovatif, dan terus bertumbuh mengikuti zaman.
Tidak pernah ada harapan dari seorang pendidik untuk melahirkan generasi yang korup, kehilangan nurani, gemar mengingkari janji, ataupun menjauh dari nilai kemanusiaan. Pendidikan selalu diikhtiarkan untuk menumbuhkan manusia-manusia yang berakal, berbudi pekerti, dan memiliki rasa cinta.
Namun, di tengah perjalanan itu, para pendidik hari ini juga belajar memahami realitas bahwa pendidikan bukan hanya tentang bagaimana seseorang menerima ilmu untuk hidup. Melainkan bagaimana akal pikiran mampu mencari jalan agar kehidupan tetap berjalan dengan layak dan bermartabat.
Jika berbicara tentang seremoni, 2 Mei 2026 kemarin adalah Hari Pendidikan Nasional. Semua tentu memiliki porsinya masing-masing dalam merayakan momentum kebangsaan, bahkan sehari sebelumnya terlihat penuh dengan euforianya. Dan itu baik adanya. Hanya saja, rasanya akan terasa lebih hangat apabila gema perayaan itu juga benar-benar sampai kepada mereka yang setiap hari menjaga ruang-ruang belajar tetap menyala: para pendidik.
Tema Hari Pendidikan Nasional tahun ini, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” terdengar begitu indah dan penuh harapan. Tema itu terasa dekat dengan kenyataan banyak pendidik di berbagai pelosok negeri yang terlihat begitu “akrab” dengan semesta, masih menempuh perjalanan panjang demi sampai ke sekolah.
Ada yang harus menumpang kendaraan seadanya, melintasi sungai, melewati jembatan sederhana, hingga mengandalkan perahu kecil untuk mengajar. Semua ditempuh demi memastikan pendidikan tetap hadir bagi generasi penerus bangsa. Mungkin perjuangan itu memang belum selesai karena pendidikan selalu meminta kesabaran yang panjang.
Kini, akses dan fasilitas perlahan mulai berkembang. Meski begitu bukan tertuju pada “kita”, masih ada banyak harapan kecil yang diam-diam disimpan para pendidik: tentang perhatian, tentang keberpihakan, dan tentang rasa bahwa perjuangan mereka benar-benar dilihat sebagai bagian penting dalam perjalanan bangsa.
Sebab bagi saya, Hari Pendidikan bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah tentang menjaga keyakinan bahwa masa depan bangsa sedang dipersiapkan setiap hari, di ruang-ruang kelas sederhana, di pelosok desa, kota, di jalanan panjang yang ditempuh para pendidik, dan di tangan anak-anak yang masih menyimpan cita-cita.
Industri, perusahaan, dan berbagai kemajuan yang dibanggakan hari ini pada akhirnya juga lahir dari ruang belajar yang dibangun oleh pendidikan, bukan malah ruang tersebut tersudut seolah “suara denyit” daun pintu yang aus. Karena itu, pendidikan sesungguhnya bukan sekadar sektor pelengkap pembangunan, melainkan fondasi yang membuat pembangunan itu dapat berdiri dengan arah dan nilai.
Ada pula satu peristiwa yang begitu menyentuh hati: tentang seorang anak setingkat sekolah dasar yang mempunyai sikap self-efficacy (efikasi diri) yang tinggi, memilih pergi selamanya. memendam keinginannya demi tidak ingin membebani orang tua untuk memenuhi kebutuhan alat tulis sekolahnya. Kisah kecil seperti itu sering kali mengingatkan bahwa semangat belajar kadang tumbuh dari kesederhanaan yang luar biasa.
Semoga perhatian terhadap hal-hal seperti ini tidak hadir hanya sesaat. Semoga juga menjadi pengingat bahwa masih banyak anak-anak yang sedang berjuang mempertahankan harapannya melalui pendidikan.
Maka bagi saya, Hari Pendidikan Nasional bukan hanya tentang upacara atau rangkaian seremoni.
Ia adalah tentang bagaimana kita terus menjaga pendidikan tetap hidup, menyala, bermakna, dan tetap dapat dirasakan oleh semua. Karena sesungguhnya masa depan bangsa sedang duduk belajar hari ini.
*Pendidik & Ketua PDPM Kota Depok



