M. Ma’ruf. Foto Milik Karib Munajat

PDM DEPOK – Oleh: Abdul Mutaqin*

Tubuhnya sudah ringkih. Kulitnya keriput mengendur. Langkah kakinya tidak segesit dahulu. Sudah pula dia sakit-sakitan. Hanya wajah yang tampak masih sedikit segar, sesegar suaranya yang masih menyisakan lantang, ciri khas saat dia berkhutbah di atas mimbar.

Di batang usia 87 pada tahun ini, para perintis Muhammadiyah generasi awal di kampungnya hanya dirinya yang tinggal tersisa, kecuali dua orang yang lebih muda enam sampai sepuluh tahun di bawahnya. Kawan-kawan seusianya yang sama-sama berjuang sudah semua berpulang. H. Mugenih, generasi awal yang setahun lebih tua darinya  sudah pula menyusul berpulang pada Rabu, 7 Juni 2023 kemarin. Begitulah, dia merasa sendiri dan sepi. Dia baru merasa tidak kesepian saat bertemu Nawawi Napih, kawan karibnya, generasi pemuda yang seangkatan dari kampung sebelah.

Namanya M. Ma’ruf. Ma’ruf, begitu biasa dia dipanggil, tokoh dalam narasi ini. Dia pelaku sejarah yang merasakan beratnya permulaan dakwah Muhammadiyah di kampungnya, meski tidak seberat tantangan yang dihadapi Kiai Dahlan di Kampung Kauman. Akan tetapi, beratnya permulaan dakwah Muhammadiyah di kampung Ma’ruf saat itu, dirasanya bak menegakkan benang basah. Boleh jadi karena beratnya tantangan itu, Kaum Tua, penentang dan perintang dakwah Muhammadiyah paling keras sempat melempar sinis. Kata mereka, “Muhammadiyah di kampung lu, paling bertahan cuma dua bulan,” cerita Ma’ruf.

Akan tetapi, berkat kemurahan Allah Yang Maha Kuasa, hari ini mata tua Ma’ruf menyaksikan Muhammadiyah di kampungnya masih lestari. Sementara, para penentang dan perintang itu sudah lama berkalang tanah. Terbesit kesedihan di hati Ma’ruf dari raut wajahnya yang kian menua saat dia bertutur. Sebab, ada di antara para penentang dan perintang yang paling keras itu adalah karib kerabatnya sendiri. Saat itulah, Ma’ruf menelan kepahitan yang disebutnya: “Sebab sepotong furu’, patah nasab seasal.”

Di eranya, Ma’ruf cukup beruntung karena terpelajar. Laki-laki kelahiran 1936 ini mengenyam Pendidikan Sekolah Rakyat (SR) lalu pindah ke madrasah–sekarang madrasah dimaksud berada di bawah naungan Yayasan Al-Hidayah, Depok. Madrasah ini madrasah tertua di Rangkapanjaya. Didirikan atas dukungan Habib Muhammad bin Yahya pada 1948.

Selepas lulus dari madrasah, Ma’ruf diminta mengajar di MWB (Madrasah Wajib Belajar), sekolah yang didirikan Ustaz M. Awab Usman pada 1956. M. Awab Usman merupakan salah satu tokoh kunci Muhammadiyah generasi awal di Ranting Muhammadiyah Rawadenok. MWB merupakan cikal bakal SD Muhammadiyah 2 Depok sekarang.

Sepanjang mengajar di MWB, Ma’ruf pernah belajar di PGA di sekitaran wilayah Depok yang lokasinya berpindah-pindah karena persoalan perizinan gedung yang dipakai. Dari Depok, PGA-nya pindah lagi ke Pondok Cina. Di PGA Pondok Cina, Ma’ruf menjadi murid KH. Muthalib Usman, tokoh Muhammadiyah Kukusan yang mengajar di sekolah ini. Hanya saja, PGA di Pondok Cina ini hanya berlangsung selama dua bulan.

Selepas belajar di PGA Pondok Cina yang berlangsung singkat itu, Ma’ruf pindah belajar ke PGA H. Tabrani, Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat. Saat duduk di kelas 2, dia pindah lagi belajar ke Mu’allimin di Perguruan Ad-Da’wah Madrasah Aliyah Mu’allimin Mu’allimat yang didirikan oleh Prof. DR. H. Jam’an Jamil atas ajakan M. Yusa, kawan karibnya di Mu’allimin ini sampai mereka berdua lulus.

***

Sebagai kaum muda di antara perintis awal Muhammadiyah di kampungnya, Ma’ruf banyak menyimpan kisah pergulatan dua kubu; kubu perintis Muhammadiyah atau kubu Pembaharu dan kubu Kaum Tua. Namun, kisah heroik perintis Muhammadiyah menggali pasir di sungai Ciliwung dan pengusiran Kaum Tua dari masjid paling membekas dalam ingatannya. Dua kisah ini begitu jernih dituturkan Ma’ruf, seakan baru berlangsung kemarin pagi.

“Setiap Jum’at pagi, orang-orang tua kita jalan kaki pergi ke kedung kali Ciliwung. Rame-rame menggali pasir buat bangun masjid,” tutur Ma’ruf sembari menyebut beberapa nama. Sepanjang ingatannya, beberapa dari mereka itu tidak pernah alpa. Jarak 16 km berangkat dan pulang dari Ciliwung ke masjid mereka jalani dengan gembira. Masih pula pundak memikul keranjang pasir. Kisah ini berlangsung pada awal sampai pertengahan tahun 50-an.

Bermula dari sebuah langgar. Sebutannya Langgar Pak Kiran, langgar tertua di kampung Ma’ruf. Dibangun oleh Isnaen. Isnaen yang juga kakek buyut Ma’ruf, menyerahkan langgar itu diurus Kiran, menantunya yang santri. Karena itu, disebutlah langgar itu “Langgar Pak Kiran”. Pada kisaran tahun 1949, langgar itu diubah menjadi masjid. Bangunannya diperbaiki.

Saat masjid dibangun, Kaum Tua menarik diri. Mereka tidak lagi hadir dalam shalat-shalat maktubah. Pada hari Jum’at pun, mereka pergi ke masjid di luar kampung. “Jadi, sembayang pun tidak mau sama-sama lagi, apalagi ikut ngangkutin pasir,” tutur Ma’ruf.

Kaum Tua tidak ikut berpeluh-peluh. Entah, apa yang ada di benak mereka alpa dari “jihad” mengangkut pasir. Mereka hanya bertopang dagu sambil menonton dari jauh. Hanya saja, para perintis Muhammadiyah tidak mau ambil pusing, Kaum Tua bergabung berjuang bersama atau tidak, sama saja bagi mereka.

Ma’ruf, sekali dua kali ikut memikul pasir. Kaki rampingnya rancak melangkah menuju kedung sungai Ciliwung di mana sumber pasir diambil bersama sepuluh sampai lima belas orang para perintis Muhammadiyah. Tiga orang dari mereka kakak-kakak kandung Ma’ruf, yakni Nafis, Majen, dan Menur. Majen dan Menur menjadi yang tidak pernah alpa turun ke Ciliwung.

Pemuda Muhammadiyah Rawadenok pada Apel Kewaspadaan Gerakan G30S PKI Tingkat Desa Rangkepanjaya Tahun 1966. Berdiri paling kiri Ustaz M. Awab Usman, dan M. Yusa. Ma’ruf, berdiri nomor 4 dari kanan. Nawawi Napih, sahabat karib Ma’ruf jongkok nomor 2 dari kanan. Foto milik Nawawi Napih.

Ada tiga lokasi kedung sumber pasir Ciliwung; kedung Plangpo, kedung Jago, dan kedung Petir. Rute dari masjid ke kedung Plangpo melintasi Kampung Pitara, Kampung Baru, Kampung Belimbing, dan terus ke kedung Plangpo. Rute ke kedung Jago melintasi Kampung Pitara atau Cipayung, Ratu Jaya, Kampung Baru, terus ke kedung Jago. Namun, yang sering disambangi adalah kedung Petir. Letaknya dekat gereja paling tua di Depok. Rute yang ditempuh melintasi Kampung Pitara, Kampung Sengon, pasar Depok Lama, kemudian ke arah gereja tua, lalu ke Petir.

Singkat cerita, dari butiran pasir yang mereka pindahkan dengan susah payah, dibangun pondasi, tiang, tembok, dan lantai yang menghampar. Masjid berdiri kokoh. Kaum Tua yang tadinya menyingkir, kembali ikut berjamaah seorang demi seorang, tak ubahnya perantau balik ke kampung halaman. Tiap waktu shalat tiba, mereka tak sungkan membuka pintu masjid laiknya akan menempati rumah baru dengan wajah berseri-seri.

Para perintis Muhammadiyah tidak mempermasalahkan, tidak pula mengusik, apalagi mencegah kepulangan mereka. Malah, dengan kebesaran hati, kubu Pembaharu menyilakan Kaum Tua turut memakmurkan masjid. Kaum Tua yang cakap berilmu mengambil peran sebagai khatib dan imam rawatib.

Ma’ruf dan Muhammad Mansyur (Allahuyarham) menjadi dewan khatib. Ma’ruf yang cakap membaca Arab Pegon merujuk Kitab Ruhul Mimbar, naskah bercorak pembaharu karya ulama asal Betawi, KH. Ali Alhamidi Matraman (1909-1985 M) sebagai materi khutbah. Muhammad Mansyur lah yang menyuplai naskah Kitab Ruhul Mimbar itu yang didapatnya tiap kali kembali dari berdagang di Jakarta.

Dewan khatib dari kubu Kaum Tua diwakili almarhum H. Ti’ih dan Najeh berpegang dari kitab tipis berbahasa Arab. Kitab itu satu-satunya rujukan yang dibaca tiap kali jadwal mereka berkhutbah. Durasi khutbah yang disampaikan tidak kurang dari lima menit saja. Dan, hampir dipastikan, mayoritas jamaah tidak mengerti isi khutbah meskipun disampaikan berulang-ulang karena persoalan bahasa.

Sekian lama, ritual Jumat berlangsung dalam dua corak di masjid ini. Ma’ruf dan Muhammad Mansyur berkhotbah dengan bahasa yang dimengerti jamaah, tanpa mengenakan jubah, dan tanpa menggenggam tongkat sebagaimana tradisi yang dipakai H. Ti’ih dan Najeh. Selain itu, kubu Pembaharu tidak mengamalkan qabliyah jum’at sebagaimana amalan rutin kubu Kaum Tua setelah azan pertama dikumandangkan.

Semula, perbedaan berlangsung damai. Kubu Pembaharu yang memahami bahwa perbedaan itu hanya soal furu’ dan khilafiyah bersikap biasa saja. Soal qabliyah jum’at pun, kubu Pembaharu tidak pernah mengusik dan melarang.

Akan tetapi, reaksi keras kubu Kaum Tua malah meletup-letup. Mereka tega menyindir dengan sebutan “Anjing Nagog” kepada kubu Pembaharu lantaran tetap duduk tenang di saat mereka berdiri mengerjakan qabliyah Jum’at.

Arifnya, kubu Pembaharu menahan diri dari membalas sindiran “Anjing Nagog” itu. Namun, Kaum Tua semakin provokatif dan naif. Mereka sempat melakukan tindakan tercela menyeret memindah paksa H. Sabenih, salah seorang dari kubu Pembaharu dari saf depan ke saf belakang. Sampai di sini pun, kubu Pembaharu masih tetap menahan diri.

Tak pelak, keterbelahan tampak mencolok tiap Jumatan berlangsung. Jamaah tidak membaur. Kubu Kaum Tua mengelompok pada sisi kiri masjid. Maka, dengan sendirinya, saf kubu Pembaharu mengelompok pula secara alami.

Provokasi Kaum Tua semakin gencar pada bulan Ramadhan. “Pokoknya, mulai nanti malam, orang-orang Wahabi tidak boleh lagi teraweh di masjid!” tutur Ma’ruf menirukan ancaman kubu Kaum Tua yang menuding kubu Pembaharu sebagai Wahabi.

Puncaknya, kubu Pembaharu dipaksa keluar dari masjid yang mereka bangun dengan susah-payah. “Siapa yang tidak masygul?” Ma’ruf seakan bertanya pada dirinya sendiri menutup kisahnya.

Peristiwa pengusiran itu terjadi di malam kedua shalat Tarawih. Ma’ruf tidak ingat, itu Tarawih pada Ramadhan tahun berapa. Yang pasti, malam itu menjadi Tarawih terakhir para perintis Muhammadiyah di masjid mereka.

Jangan sangka air mata tidak ­mengalir. Ia mengalir, deras mengalir, tapi hanya di dalam jiwa. Jangan sangka tidak ada isak tangis melengking. Ada, tapi diredam di dalam dada masing-masing. ­Jangan sangka tidak ada keluh-kesah. Ada, tapi ditelan sendiri di alam sepi. ­Jangan pula disangka tidak ada gejolak amarah yang menggelegak. Ada, tapi didinginkan sendiri-sendiri di dalam kalbu. Air mata itu, isak tangis itu, keluh-kesah itu, dan gejolak amarah itu, tidak dijadikan mesiu oleh kubu Pembaharu untuk memantik aksi kekerasan fisik. Mereka tidak ingin berdarah-darah di medan “menang jadi arang, kalah jadi abu” dengan saudara seiman.

Di penghujung usia senjanya kini, Ma’ruf ingin mewariskan sikap arif para perintis Muhammadiyah di kampungnya dahulu. Ma’ruf menegaskan tidak boleh ada dendam, jangan ada sakit hati, dan tidak perlu disesali atas peristiwa masa lalu itu. Bila Robert Brault sebatas berkata: “Jika kamu tidak bisa mema’afkan dan melupakan, pilih satu di antaranya,” Ma’ruf tidak memilih salah satu di antaranya, melainkan dia mengambil kedua-duanya; memaafkan dan melupakan.

Ma’ruf yakin betul bahwa pahala amal jariyah tidak akan pernah salah alamat, kecuali pasti akan menjumpai sahibul amal. Apalagi pahala jariyah membangun masjid, di mana imbalannya dibangunkan rumah di surga meski masjid itu dikuasai orang lain. Keyakinan inilah yang menjadi dasar bagi Ma’ruf tak patut seorang muslim memelihara dendam. Buktinya, Allah memberikan hadiah bagi para perintis Muhammadiyah di kampungnya di belakang hari.

Tiga hari setelah Idul Fitri pada tahun pengusiran itu, tokoh-tokoh kunci perintis Muhammadiyah itu bermusyawarah untuk memikirkan langkah perjuangan ke depan. Apalagi, pada malam ketiga Tarawih, saat mereka pindah melanjutkan Tarawih di langgar panggung wakaf keluarga H. Saenan, langgar panggung itu roboh tak kuat menampung beban jamaah. Robohnya langgar itu menambah beban kesedihan mereka.

Hasil musyawarah disepakati, setiap mereka mengeluarkan iuran untuk membeli tanah. Mulailah mereka mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sampai mampu membeli tanah seluas 600 meter seharga Rp45.000. Di atas tanah itu dibangun langgar seluas 12 x 12 m. Nanti, pada 1965, langgar ini diresmikan menjadi masjid pada hari Jum’at sekaligus ibadah shalat Jumat pertama digelar pada tahun itu. Tokoh yang meresmikan, berkhutbah, dan memimpin shalat adalah Kiai Abdul Halim, Pegawai Tinggi Departemen Agama Pusat. Semula, Kiai Abdul Halim datang hanya untuk memenuhi undangan ceramah pada Kamis malam di rumah kerabat H. Mugenih. Atas inisiatif beliaulah pula langgar itu segera diresmikan menjadi masjid.

Pada 1966, Ranting Muhammadiyah Pulo Cabang Depok Barat resmi didirikan. Langgar yang diikrarkan menjadi masjid setahun sebelumnya dijadikan sebagai pusat kegiatan dakwah Muhammadiyah di kampung itu tanpa harus memedulikan gangguan Kaum Tua yang belum juga mereda. Hanya saja setelah ranting resmi berdiri, meskipun Kaum Tua tetap mengganggu dan menghalangi lebih keras dakwah Muhammadiyah, dianggap sebagai “Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu”. Itulah Masjid Al-Huda yang sekarang berdiri megah. Inilah hadiah dari Allah yang Maha Murah di belakang hari kepada pejuang Muhammadiyah di Kampung Pulo, kampung kelahiran Ma’ruf.

 

*Tentang Penulis: Abdul Mutaqin, kelahiran 1972, alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN (sekarang UIN Jakarta) Jurusan Pendidikan Agama Islam pada 1999. Aktif di Persyarikatan dan pernah menjadi Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pulo periode 1995-2000. Seterusnya aktif di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Depok Barat sejak 2000 sampai sekarang. Guru Sejarah Kebudayaan Islam di MTS Pembangunan UIN Jakarta ini menaruh minat pada pengembangan literasi menulis. Sekarang menjadi anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok periode 2022-2027.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini