Esai/Opini

Aisyiyah yang Biasa Tapi Luar Biasa

Oleh: Muhsin MK

Aisyiyah benar-benar pendamping setia bagi Muhammadiyah. Bahkan, pendiri dan tokoh utamanya, Nyai Walidah pendamping setia bagi KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Keduanya pun berdampingan menjadi pahlawan nasional. Keluarga ideal dan pemimpin yang patut menjadi uswatun hasanah, suri teladan yang baik bagi warga persyarikatan Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Nyai Dahlan sebelum memimpin Aisyiyah menjadi pemimpin anak-anak suaminya. Bersama dengan KH. Ahmad Dahlan berhasil membangun rumah tangga sakinah mawadah warahmah (QS. Ar- Rum:27). Sesudah berdiri Aisyiyah, dia sama- sama memimpin sebagaimana juga suaminya. Mereka berdua menjadi teladan utama bagi kader dan generasi penerus persyarikatan

Nyai Dahlan Sosok Biasa Sederhana

Warga Muhammadiyah yang berstatus suami istri aktif memimpin persyarikatan dewasa ini benar-benar meneladan KH Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah. Bukan hanya yang menjadi Ketua Umum di pusat, teladan itu juga diikuti hingga pimpinan cabang dan ranting-ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah. Mereka bukan karena kemauan sendiri dan berdua, melainkan karena diminta dan terpilih dalam musyawarah persyarikatan.

Nyai Dahlan orang Kauman sosok perempuan sederhana. Dia orang biasa-biasa saja. Dia bukan ulama dan bangsawan juga bukan ilmuwan. Dia hanya seorang ibu dan istri. Dia mengurus rumah tangga suaminya, mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Namun setelah dia memimpin Aisyiyah dirinya menjadi orang yang luar biasa. Di zaman kolonial dia sudah berhasil memimpin organisasi besar kaum perempuan yang terlibat dalam perjuangan bangsa.

Dengan demikian Aisyiyah itu di satu sisi sebagai organisasi biasa-biasa saja. Pada awalnya hanya mengurusi Taman Kanak-kanak Bustanul Athfal (TK- ABA) yang sederhana. Tapi kini Aisyiyah luar biasa TK nya telah mencapai ribuan lebih yang tersebar di seluruh Indonesia dan dunia. Seperti di Mesir sudah berdiri TK ABA. Bahkan baru saja di soft launching TK ABA Semesta yang bertaraf internasional di Sleman Yogyakarta.

Dilihat dari pakaian seragamnya juga biasa-biasa saja. Baju warna hijau berkebaya batik. Budaya Jawa dalam berpakaian memengaruhi corak pakaian seragam Aisyiyah. Dari pakaian seragam sederhana dan biasa itu telah memberikan spirit luar biasa dalam melakukan gerakan dan amal usahanya. Tumbuh dan berkembang amal usaha nya, tidak hanya di bidang pendidikan saja, tapi juga sosial, kesehatan dan ekonomi.

Gerakan Aisyiyah tidak bisa dipandang sebelah mata baik dari internal dan eksternal. Kiprahnya di bidang pendidikan bukan cuma bisa ngurusi TK ABA saja yang kecil-kecil. Tapi Aisyiyah sudah bisa mengurusi urusan dan amal usaha besar-besaran yang luar biasa. Kini organisasi kaum hawa ini telah memiliki Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang terakreditasi unggul. UNISA juga berdiri di Bandung, Surakarta, Palembang, Sumsel, dan terus bergerak maju.

Rumah Sakit dan Universitas Aisyiyah Luar Biasa

Rumah sakit Aisyiyah juga tumbuh berkembang di mana-mana. Bahkan di beberapa daerah di Jawa bangunan rumah sakitnya luar biasa. Bangunan RS Aisyiyah lebih megah dari RS Muhammadiyah. Seperti di daerah Kudus, Jateng, Aisyiyah mengelola dua rumah sakit megah. RS Aisyiyah Kudus dan RS Sarkies Aisyiyah Kudus. Di Jatim, RS Aisyiyah Bojonegoro dan Ponorogo, Jatim malah lebih megah bangun fisiknya dari RS Muhammadiyah. Semoga juga fasilitas dan juga pelayanan kesehatannya.

Dalam milad yang ke-109 Aisyiyah telah memberi bukti posisinya bukan sebagai pendamping bagi Muhammadiyah lagi. Melainkan telah membuat dirinya sebagai kompetitor dalam berfastabiqul khairat. Namun, tetap keberadaan dan amal usaha nya masih dalam lingkungan Muhammadiyah. Aisyiyah walau badan otonom yang bebas dalam mengurus rumah tangganya sendiri namun tetap satu tubuh dalam Muhammadiyah yang tidak terpisahkan.

Selamat milad ke-109 Aisyiyah, semoga tetap menjadi ibu sejati bagi kemakmuran keluarga, jamaah, bangsa, dan seluruh umat manusia.

Pasang Iklan-Mu di Sini (In Content)

Related Articles

Back to top button