Esai/Opini

Menyekolahkan Anak di “Rumah” Sendiri: Keteladanan, Air Mata, dan Nyala Ta’awun dalam Muhammadiyah

PDM Depk – Oleh: Ali Wartadinata*

Pesan Ahmad Dahlan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” adalah suluh yang tak pernah padam. Ia bukan sekadar kalimat, melainkan jalan hidup—yang menuntun kita untuk memberi sebelum meminta, berkorban sebelum berharap, dan mengabdi tanpa syarat. Namun, di balik keteguhan itu, ada satu ruang yang sering menjadi saksi pergulatan paling sunyi: rumah tangga. Di sana, seorang pimpinan bukan hanya penggerak dakwah, tetapi juga seorang ayah, seorang ibu—yang memikirkan masa depan anak-anaknya dengan cinta yang tak terukur. Dan di titik itulah, pilihan tentang pendidikan menjadi ujian yang sesungguhnya.

Menyekolahkan anak di sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi Muhammadiyah adalah impian yang sederhana, namun sarat makna. Ia bukan sekadar keputusan administratif, melainkan pernyataan iman dan loyalitas. Di “rumah” itulah, kita berharap anak-anak kita tumbuh dalam naungan tauhid yang lurus, akhlak yang kokoh, dan semangat berkemajuan yang diwariskan oleh para pendiri. Di sana, anak-anak kita belajar bukan hanya tentang dunia, tetapi juga tentang akhirat. Mereka mengenal Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi sebagai pedoman. Mereka belajar ilmu bukan sekadar untuk mencari pekerjaan, tetapi untuk memberi manfaat. Mereka dididik bukan hanya menjadi orang sukses, tetapi menjadi manusia yang benar. Lalu, jika kita sebagai pimpinan tidak menaruh kepercayaan itu di “rumah” sendiri, kepada siapa lagi harapan itu akan disandarkan?

Namun kehidupan tidak selalu seideal cita-cita. Ada banyak keluarga pimpinan yang menjalani hari-harinya dengan perhitungan yang ketat. Kebutuhan hidup berjalan tanpa kompromi, sementara biaya pendidikan terus menuntut untuk dipenuhi. Ketika satu anak bersekolah, mungkin masih terasa ringan. Namun ketika beberapa anak harus belajar dalam waktu bersamaan—dari TK, SD, SMA, hingga perguruan tinggi—beban itu berubah menjadi gelombang yang datang silih berganti. Di meja makan yang sederhana, seringkali terselip pembicaraan yang tak terdengar oleh siapa pun: tentang biaya yang harus dibayar, tentang kebutuhan yang harus dipenuhi, tentang pilihan-pilihan yang tidak pernah mudah. Ada malam-malam panjang yang diisi dengan hitungan angka, bukan untuk mencari keuntungan, tetapi untuk menjaga harapan agar tetap hidup. Ada doa-doa lirih yang dipanjatkan, bukan untuk kemewahan, tetapi agar anak-anak tetap bisa melanjutkan pendidikan tanpa harus berpaling dari nilai yang diyakini.

Dan di tengah semua itu, terkadang muncul godaan yang sangat manusiawi—memindahkan anak ke sekolah yang lebih terjangkau, yang mungkin tidak membebani secara finansial. Sebuah pilihan yang rasional, bahkan mungkin bijak dalam kacamata dunia. Namun hati sering berkata lain. Ada cinta yang menahan langkah itu. Cinta kepada Muhammadiyah. Cinta kepada nilai-nilai yang telah diperjuangkan. Cinta kepada harapan bahwa anak-anak ini kelak akan menjadi bagian dari mata rantai perjuangan yang tidak terputus. Di sinilah kita diingatkan kembali pada satu nilai luhur yang menjadi nafas persyarikatan: ta’awun—saling menolong dalam kebaikan. Muhammadiyah tidak dibangun oleh orang-orang yang hidup dalam kelapangan semata, tetapi oleh mereka yang saling menguatkan dalam keterbatasan. Ta’awun bukan sekadar slogan, tetapi jiwa yang harus hidup dalam setiap amal usaha, terutama dalam dunia pendidikan.

Sekolah dan madrasah Muhammadiyah tidak boleh hanya berdiri sebagai institusi pendidikan yang unggul dalam prestasi, tetapi juga harus hadir sebagai rumah yang hangat—yang memahami, yang merangkul, yang tidak membiarkan anak-anak kadernya berjalan sendiri. Sudah saatnya kita membangun kesadaran bersama bahwa mendidik anak-anak pimpinan dan kader, terutama yang berada dalam keterbatasan, adalah bagian dari menjaga ideologi. Ini bukan sekadar urusan biaya, tetapi tentang keberlangsungan ruh perjuangan. Kebijakan afirmatif harus menjadi bagian dari sistem, bukan sekadar kebijaksanaan insidental. Beasiswa kader, subsidi silang, keringanan biaya yang manusiawi—semua itu adalah bentuk nyata dari ta’awun yang hidup, atau paling tidak ada keluangan waktu. Sebab jangan sampai, di tengah megahnya gedung-gedung sekolah Muhammadiyah, justru ada anak-anak kader yang terpaksa pergi karena tidak mampu bertahan.

Bayangkanlah sejenak…

Di sebuah ruang kelas sederhana, ada seorang anak yang datang dengan seragam yang mungkin tidak sempurna, dengan buku yang dijaga sebaik mungkin, dengan semangat yang tidak pernah berkurang. Ia belajar dengan sungguh-sungguh, menyerap setiap pelajaran, menatap masa depan dengan harapan yang jernih. Ia mungkin adalah anak dari seorang pimpinan yang hari-harinya dihabiskan untuk mengurus umat, yang mengorbankan banyak hal untuk dakwah ini tetap hidup.

Dan anak itu bertahan… karena Muhammadiyah tidak menutup pintu untuknya. Kelak, bisa jadi anak itulah yang akan berdiri di depan, memimpin, mengajar, menggerakkan. Ia tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga membawa pengalaman tentang bagaimana persyarikatan ini pernah memeluknya di saat sulit. Dan dari pengalaman itulah, lahir kecintaan yang tidak tergantikan. Maka kepada para pimpinan Muhammadiyah di semua tingkatan, tetaplah teguh. Jangan ragu untuk mempercayakan pendidikan anak-anak kita di Muhammadiyah, meskipun jalan yang ditempuh tidak selalu mudah.

Sampaikan keadaan dengan jujur, karena kejujuran adalah bagian dari kemuliaan. Dan kepada seluruh pengelola Amal Usaha Pendidikan Muhammadiyah, mari kita buka hati lebih luas lagi. Jadikan sekolah-sekolah kita bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat bertumbuh bersama. Tempat di mana tidak ada anak kader yang merasa asing di rumahnya sendiri. Sebab sejatinya, setiap keringanan yang diberikan bukanlah pengurangan, tetapi penambahan—penambahan keberkahan, penambahan kepercayaan, penambahan kekuatan bagi Muhammadiyah itu sendiri.

Ketika keteladanan para pimpinan bertemu dengan kepedulian institusi, ketika pengorbanan bertemu dengan kasih sayang, ketika idealisme bertemu dengan empati—maka di situlah Muhammadiyah menemukan kekuatannya yang sejati. Kekuatan yang tidak hanya tampak dalam bangunan dan angka, tetapi hidup dalam hati manusia. Dari “rumah” yang saling menguatkan inilah, generasi penerus akan lahir—bukan hanya cerdas, tetapi juga tangguh. Bukan hanya berhasil, tetapi juga berakar. Dan kelak, ketika mereka melangkah jauh ke depan, mereka akan selalu ingat… Bahwa mereka pernah dibesarkan oleh sebuah rumah yang tidak hanya mendidik, tetapi juga mencintai.

Nasrun minallah wa fathun qariib.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok

Pasang Iklan-Mu di Sini (In Content)

Related Articles

Back to top button