SMAM 4 Depok Hidupkan Bahasa dan Sastra Lewat Teater Pena Basanta

PDM Depok, Parung Bingung – Dalam semangat menghidupkan seni dan budaya, Teater SMA Muhammadiyah 4 Depok kembali menggelar acara Teater tahunan bertajuk Pena Basanta (Pena Bahasa dan Sastra), yang berlangsung meriah di Lapangan Futsal Al Husein. panggung megah menjadi saksi kolaborasi lintas angkatan yang penuh semangat dan kreativitas.
Acara diawali dengan seremoni pembukaan yang dihadiri oleh Duta SMA Nasional, Duta Bahasa DKI Jakarta, Pimpinan Ranting Muhammadiyah Parung Bingung, Pengawas KCD Wilayah 2 Jawa Barat, Kepala SMA Muhammadiyah 4 Depok, dan komite sekolah. Pementasan teater ini juga didukung penuh oleh Direktorat SMA Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Dalam sambutan pembukanya, Pengawas KCD Wilayah II Jawa Barat menyampaikan apresiasi kepada siswa-siswi SMA Muhammadiyah 04 Depok yang telah mempersiapkan pentas seni ini dengan sebaik-baiknya. Ia mengapresiasi upaya para siswa dalam menghadirkan sebuah karya besar yang bertujuan untuk memperkenalkan sastra dan bahasa kepada khalayak.

“Sesuai dengan edaran Gubernur Jawa Barat, tidak perlu mengundang artis dari luar. Justru kita jadikan para siswa sebagai artisnya. Dengan begitu, mereka dapat mengembangkan jiwa entrepreneurship, kemampuan berkolaborasi, serta menjadi event organizer yang keren dan hebat,” ujar Sugiarti.
Pementasan teater ini sukses menarik lebih dari 1.000 penonton dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat, siswa-siswi, orang tua, guru, hingga tamu undangan yang antusias menyaksikan penampilan memukau para siswa.
Kegiatan yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 24 Mei 2025 tersebut menghadirkan penampilan spektakuler dari para siswa Kelas X dan XI. Kelas XI menampilkan 3 pementasan teater dan Kelas X menampilkan kreasi tari tradisional yang menjadi penampilan pembuka dari masing masing sesi penampilan teater.
Tiga pementasan teater dari siswa kelas XI menghadirkan beragam nuansa cerita yang menggugah. Kelas XI.3 menampilkan “Once Upon a Princess”, sebuah drama fantasi yang memadukan imajinasi dengan pesan tentang keberanian dan kejujuran. Sementara itu, kelas XI.2 membawakan “Pulang”, adaptasi mendalam dari novel karya Tere Liye yang menggambarkan pencarian jati diri serta makna keluarga. Adapun kelas XI.1 mempersembahkan “Tarawih Terakhir”, adaptasi dari buku karya Abdul Muttaqin Oleh kelas XI.1 diangkat dari kisah nyata perjuangan Muhammadiyah di Kampung Pulo yang penuh akan cobaan dan tantangan yang berliku.

Setiap pementasan mengangkat tema berbeda yang menggugah perasaan dan menyuarakan nilai-nilai kehidupan. Tak hanya sebagai pertunjukan, teater ini menjadi ajang unjuk kreativitas, keberanian berekspresi, serta kecintaan siswa terhadap sastra dan budaya Nusantara serta, mendukung perkembangan siswa mahir berbahasa Indonesia.
Wakil Kepala Sekolah, Farulianan Sari, menyampaikan bahwa sekolah sangat mendukung penuh kegiatan Pena Basanta, baik secara moril maupun materil. Dukungan ini menjadi bentuk nyata komitmen sekolah dalam mewadahi kreativitas siswa ” Kami dari pihak sekolah sangat memfasilitasi kegiatan pena basanta ini, salah satunya baik dari segi moril maupun materil” Ujarnya.
Sementara itu, guru Bahasa Indonesia, Mela Santika, menilai bahwa pentas seni seperti ini merupakan bagian dari pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa, “Proses pembelajaran ini merupakan analisis dari kebutuhan siswa dengan menerapkan praktik seni peran. Banyak siswa siswi yang lebih tertarik menerapkan praktik berbahasa melalui pagelaran pentas seni seperti ini” Ungkapnya.
Dalam kegiatan ini, juga menghadirkan bazar menarik yang diisi oleh perwakilan komite sekolah. Bazar tersebut menyajikan beragam pilihan, mulai dari aneka makanan dan minuman, pernak-pernik, hingga souvenir khas acara. Kehadiran bazar ini tidak hanya menambah semarak acara, tetapi juga menjadi wadah untuk mendukung kreativitas dan partisipasi orang tua.
Lebih dari sekadar hiburan, Pena Basanta 2025 adalah ruang ekspresi generasi muda, dan media untuk menginspirasi serta menghibur lewat karya. Di balik setiap dialog, gerakan, dan alur cerita, terpancar semangat untuk menjaga dan merayakan kekayaan seni bangsa.



