PDM DEPOK – Oleh: Dani Yanuar Eka Putra, S.E, A.kt, M.A*

Segala hal yang diciptakan Allah SWT hakikatnya adalah kasih sayang-Nya. Manusia, hewan, tumbuhan, dan seluruh alam semesta diciptakan sebagai wujud kasih sayang-Nya. Karena kasih sayang-Nyalah hingga saat ini kita masih dipelihara agar tetap hidup, menikmati seluruh sajian-sajian-Nya yang tak pernah mampu dari kita untuk mengkalkulasikannya (QS. Ibrahim (14): 34, QS. An-Nahl (16): 18).

Kasih sayang-Nya telah ditegaskan sebagai sifat utama sebelum sifat-sifat lainnya (QS. Al-An’am (6):54). Jika merujuk pada asma’ Al-Husna, susunannya diawali dengan ar-Rahman dan ar-Rahim (Maha Pemurah dan Maha Penyayang) sebelum nama-nama dan sifat-sifat yang lain. Al-Qur’an yang diturunkan oleh-Nya sebagai panduan manusia disebut sebagai Kitab ar-Rahmah beridentitas pada seluruh surat diawali dengan bismillahirrahmanirrahim (dengan menyebut nama Allah Swt yang Maha Pemurah dan Penyayang) kecuali surat at-Taubah. Nabi yang diutus-Nya pun adalah Nabi ar-Rahmah yang kasih sayangnya lebih dominan daripada kebenciannya (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107).

Kebaikan Perintah dan Larangan-Nya

Jika Allah SWT memerintahkan sekaligus juga melarang, sesungguhnya yang demikian itu untuk kebaikan manusia yang begitu disayangi sebagai makhluk paling sempurna (QS. At-Tin [95]: 4). Perintah dan larangan-Nya dapat kita temui di dalam Al-Qur’an dan dijelaskan dalam Hadits-hadits Nabi Saw. Maka, siapa saja yang bersungguh-sungguh mengikuti perintah-perintah, larangan-larangan, serta petunjuk-petunjuk kedua hal tersebut, maka niscaya keselamatan dan kemaslahatan akan diperoleh baik di dunia dan pasca dunia.

Demikian halnya dengan perintah Shiyam dengan makna Imsak di bulan Ramadhan yang disyariatkan pada tahun ke-2 Hijriyah bertepatan pada hari ke-10 bulan Sya’ban (QS. Al-Baqarah [2]: 183). Imsak dengan makna menahan sekaligus mengendalikan adalah syariat yang sepenuhnya untuk kebaikan orang beriman. Kebaikannya mengantarkan menjadi orang bertakwa (beretos kebaikan tinggi), kebaikannya menjadikannya orang bersyukur (QS. Al-Baqarah [2]: 185), dan kebaikannya mengantarkan mendapatkan petunjuk tentang kebenaran (QS. Al-Baqarah [2]: 186). Kebaikan-kebaikan tersebut dikarenakan imsak memberikan gizi terhadap ruh orang beriman.

Manusia terdiri atas jasad dan ruh. Ketika asupan berlebihan terhadap jasadnya, maka yang cenderung adalah kerusakan, kemaksiatan, dan berbagai kemudharatan. Karena demikianlah sifat-sifat yang ada pada materi. Namun, jika gizi atau asupan yang diberikan lebih dominan pada ruhnya, yang hadir adalah kebaikan, ketundukan, dan kemaslahatan. Karena ruh sejak awal bersifat kebaikan (QS. Al-A’raf [7]: 172). Layaknya malaikat sebagai makhluk ruh yang memiliki sifat selalu tunduk kepada-Nya dan memberikan cahaya hidayah kepada manusia (HR. Muslim).

Sejarah dan Keutamaan Imsak

Jika menelisik sejarah puasa, lalu merujuk pada penjelasan tentang “sebagaimana telah diwajibkan kepada kaum sebelum kalian” dalam surat al-Baqarah tentang syariat kewajiban puasa di atas, mayoritas ulama bersepakat bahwa yang dimaksud “sebelum kalian” adalah puasa tanggal 10 Muharram yang telah dilakukan oleh Yahudi saat Nabi Saw tiba di Madinah. Puasa yang dilakukan tersebut bertujuan untuk memperingati terbebasnya Bani Israil dari kejaran Fir’aun melewati laut Merah yang kemudian bagi umat Nabi Saw menjadi ibadah sunah dengan nama puasa asy-Syura.

Selain daripada itu, sebenarnya puasa dengan makna imsak telah diperintahkan oleh Allah SWT kepada manusia pertama Nabi Adam as beserta dengan istrinya Hawa pada saat berada di surga Allah SWT. Ketika Nabi Adam as dan pasangannya ditakdirkan oleh Allah SWT tinggal di surga dengan segala macam fasilitas dan kenikmatan, keduanya hanya diperintahkan untuk imsak mendekati pohon terlarang apalagi memakan buahnya (QS. Al-Baqarah [2]: 35).

Itulah imsak pertama kali yang disyariatkan oleh Allah SWT dalam sejarah umat manusia. Sejarah puasa yang sejak manusia tercipta sesungguhnya mengandung hikmah bahwa manusia diminta untuk dapat menahan dan mengendalikan terhadap godaan syahwat materi berkoalisi dan berkongsi dengan iblis yang begitu merusak kehidupan mereka. Bahkan akibat dari pelanggaran tersebut, Allah SWT mengusir Nabi Adam as beserta istrinya keluar dari surga-Nya (QS. Al-Baqarah [2]: 36).

Maka demikian pula dengan kita sebagai keturunannya. Ketika kita diperintahkan untuk imsak terhadap hal-hal tertentu dengan batasan waktu tertentu yang berbeda dengan kakek dan nenek moyang kita tersebut di atas, maka sesungguhnya kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk meninggalkan hal-hal yang seringkali merusak kehidupan kita. Dengan imsak saat Ramadhan kita diajarkan untuk dapat mengendalikan hawa nafsu yang selalu cenderung pada materi. Dengan imsak Ramadhan kita dilatih untuk lebih mendahulukan ruh kita dibandingkan jasad sebagai materi.

Oleh karena itu, puasa dengan makna imsak adalah wujud kasih sayang Allah SWT untuk kebaikan manusia. Kita tidak akan pernah bisa membayangkan jikalau Allah SWT tidak pernah menetapkan syariat imsak pada kita. Betapa hancur dan luluh lantaknya perilaku manusia kepada manusia dan juga lingkungannya.

Dengan imsak saja masih banyak para pelaku pemakan harta dengan cara batil, mengeksploitasi dengan korupsi, dan berbagai perilaku yang merusak lainnya, apalagi tanpa adanya perintah imsak. Mari bersungguh-sungguh menjalankan kasih sayang-Nya dalam bentuk imsak dengan sepenuh hati dan ketulusan jiwa. Semoga dengan imsak pada bulan Ramadhan kita selalu memperoleh kebaikan, keberkahan, dan kasih sayang-Nya. Wallahu a’lam

*Wakil ketua PDM Kota Depok bidang Tarjih, Tajdid, Pendidikan Kader dan SDI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini