PRM Tajur Halang Jadi Narasumber Training Masjid Profesional

PDMDEPOK.COM – Masjid bukan sekadar tempat ibadah. Dalam pandangan Muhammadiyah, masjid adalah pusat peradaban, tempat tumbuhnya gerakan pencerahan, dan laboratorium sosial umat. Sayangnya, masih banyak masjid hari ini yang dikelola secara tradisional dan belum mampu menjawab tantangan zaman.
Melihat urgensi itu, Masjid Al-Madinah Zona Madina Dompet Dhuafa menggelar Training Manajemen Masjid dengan mengangkat tema ‘Menuju Masjid yang Lebih Profesional Untuk Kebangkitan Umat’, Rabu (30/07/2025).
Yang istimewa, salah satu narasumber utama dalam pelatihan ini adalah kader Muhammadiyah, Ust. Jabaludin, SKM, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tajur Halang. Beliau tak hanya mengelola Masjid Al-Madinah sebagai pelaksana harian, tetapi juga aktif menggagas transformasi masjid berbasis komunitas di lingkup PRM Tajur Halang. Kehadirannya menjadi cerminan konkret bagaimana Muhammadiyah melaksanakan tajdid (pembaruan) dalam dakwah dan pengelolaan masjid.
Dalam narasinya, Jabaludin menegaskan, Masjid bukan hanya untuk bapak-bapak pengajian. Masjid harus jadi rumah bersama, ramah anak, ramah ibu menyusui, ramah lansia.
Di Masjid Al-Madinah yang dia kelola, hal itu bukan teori. Sudah ada ruang menyusui, tempat bermain anak, toilet lansia, bahkan loker jamaah. Hal-hal kecil yang bikin nyaman, tapi sering luput dari perhatian pengurus masjid konvensional.
Jabaludin menyebut, pendekatan ini sebagai bentuk konkret tajdid, spirit pembaruan khas Muhammadiyah yang selalu menyesuaikan dengan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar Islam.
“Bukan sekadar renovasi bangunan, tapi renovasi cara berpikir.Kalau CEO perusahaan harus tahu siapa konsumennya, bagaimana alur kerja karyawannya, dan ke mana arah perusahaannya hal yang sama seharusnya berlaku bagi takmir masjid,” tuturnya.
Jabaludin dengan gaya khas kader Muhammadiyah yang rapi dan terukur, mendorong agar pengurus masjid mulai mengadopsi prinsip-prinsip manajerial. Mulai dari database jamaah, pelaporan keuangan yang transparan, program kerja yang terukur, hingga pengelolaan aset yang profesional.
“Masjid itu punya aset, punya jamaah, punya SDM. Artinya, masjid adalah organisasi. Maka harus dikelola dengan sistem, bukan sekadar semangat,” ujarnya.
Kalimat ini bukan basa-basi. Sebagai Pimpinan Ranting Muhammadiyah Tajur Halang, pendekatan ini diterapkan. Mereka rutin membuat rencana kerja, membentuk tim sesuai fungsi, dan melakukan evaluasi. Masjid tak lagi hanya jadi tempat salat, tapi juga pusat pendidikan, pemberdayaan ekonomi, bahkan ruang dialog sosial.
Bicara soal Muhammadiyah, sebagian orang mungkin hanya ingat sekolah atau rumah sakit. Tapi yang kadang luput adalah peran masjid sebagai titik awal perubahan sosial. Muhammadiyah sejak awal berdirinya selalu punya DNA pembaruan. Di masa KH Ahmad Dahlan, masjid tidak boleh eksklusif hanya untuk orang dewasa, tapi harus mendidik, menghidupkan, dan membuka diri bagi siapa saja yang mau belajar Islam secara rasional dan sosial.
Kini, semangat itu diterjemahkan dalam manajemen masjid yang modern, adaptif, tapi tetap ikhlas dan rendah hati. Total ada 55 peserta dalam pelatihan ini. Mereka datang dari berbagai latar belakang dan masjid. Ada yang baru jadi takmir, ada pula yang sudah bertahun-tahun jadi pengurus. Tapi satu benang merahnya semua ingin masjidnya jadi lebih hidup.Diskusi berlangsung hangat. Ide-ide berseliweran. Beberapa peserta bahkan langsung menyusun rencana tindak lanjut untuk masjid mereka masing-masing. Di akhir sesi, peserta diberi sertifikat dan diajak membentuk jaringan komunikasi antar-masjid untuk berbagi praktik baik.
Pelatihan ini memang hanya sehari. Tapi gaungnya bisa jadi panjang. Karena ketika masjid mulai dikelola secara profesional, efeknya bisa dirasakan semua anak-anak jadi betah, orang tua merasa dihargai, dan generasi muda menemukan ruang pulang.
Apa yang dilakukan Jabaludin sebetulnya sederhana menyadarkan kita bahwa masjid tidak boleh stagnan. Dalam dunia yang bergerak cepat, umat butuh tempat yang bisa menjawab tantangan spiritual, sosial, dan budaya sekaligus. Masjid adalah jawabannya asal dikelola dengan baik.
Muhammadiyah, lewat kader-kadernya di lapangan seperti Jabal, membuktikan bahwa pembaruan itu bukan jargon. Ia hadir nyata di kampung-kampung, di ujung-ujung kota, lewat aksi konkret dan manajemen yang rapi.



