PDM DEPOK – Oleh: Laskar Badar Muhammad*

Membicarakan relativitas waktu maka tidaklah lepas dari teori-teori fisika maupun psikologi. Relativitas terhadap waktu muncul baik secara subjektif (tergantung yang menjalani waktu) maupun objektif (waktu itu sendiri). Waktu bersifat relatif secara subjektif mungkin sudah masyhur kita ketahui karena kemungkinan besar setiap manusia pasti merasakannya.

Contoh paling sederhana adalah ketika seseorang melakukan suatu hal yang disukai maka berapa pun lamanya waktu akan terasa berjalan sangat cepat dan singkat. Sebaliknya, waktu seakan berjalan melambat manakala seseorang sedang melakukan suatu yang tak disukainya.

Hal di atas bukanlah sebuah keanehan atau keajaiban. Faktanya dunia psikologi membenarkan hal tersebut. Menurut para psikolog, otak kitalah yang bertanggung jawab atas hal itu. Otaklah yang membuat persepsi waktu dalam kepala kita menjadi lebih cepat atau lambat.

Tentu saja, ketika sedang melakukan suatu hal yang menyenangkan ketika itu pula otak akan mempersepsikan waktu menjadi lebih cepat. Itu dikarenakan saat melakukan hal yang meyenangkan kita akan cenderung fokus kepada bagian (horizon) akhir dari suatu hal yang menyenangkan tersebut. Itulah yang kemudian menjadikan waktu terasa lebih cepat berjalan.

Pendapat lain mengatakan ada jaringan syaraf dalam tubuh manusia yang melepaskan zat dopamin. Zat dopamin adalah zat kimia yang penting untuk memberikan rasa senang. Pelepasan zat dopamin ini memengaruhi cara otak mempersepsikan waktu. Sedang ketika melakukan suatu hal yang tidak disukai maka otak cenderung fokus pada horizon yang paling dekat dari hal yang tidak disukai tersebut. Itulah mengapa waktu berjalan seakan melambat dan seperti tak selesai-selesai.

Ternyata waktu bisa bersifat serelatif itu tergantung persepsi dari subjek yang sedang menjalaninya. Adapun waktu itu sendiri menurut teori fisika juga merupakan objek yang relatif. Teori relativitas yang ditemukan oleh Einstein di dalamnya banyak mengungkapkan bahwa waktu bisa mengalami dilatasi (pemuluran). Sering kita dapati dalam kehidupan sehari-hari istilah “waktunya molor” ketika sedang menggambarkan situasi di mana sesuatu tidak terjadi sesuai dengan waktu yang sudah terjadwal atau disepakati bersama.

Namun bukan itu yang dimaksud dengan dilatasi waktu. Penguluran atau melambatnya waktu ternyata benar adanya bahkan yang paling ekstrim kita bisa menghentikan laju dari sang waktu. Hal itu merupakan konsekuensi dari teori relativitas yang mengatakan dalam rumusnya bahwa semakin cepat pergerakan suatu benda maka waktu akan berjalan lebih lambat dari biasanya.

Maka, sederhanya ketika ada sebuah benda yang melaju dengan kecepatan yang hampir mendekati kecepatan cahaya saat itulah waktu akan berjalan lebih melambat daripada pengamat dari pengamat benda tersebut.

Teori di atas sudah terbukti secara eksperimental ketika seorang astronaut melakukan perjalanan ke luar angkasa menggunakan pesawat ulang alik yang berkecepatan tinggi. Di dalam pesawat tersebut astronaut mengalami perlambatan waktu dibandingkan orang-orang diam atau tetap yang berada di bumi.

Akibatnya, ketika astronaut kembali ke bumi didapati bahwa lebih banyak waktu yang telah berlalu di bumi daripada yang dia alami selama berada di luar angkasa sana. Jika masih bingung, para pembaca bisa melihat film Interstellar atau Sonic the Hedgehoc. Dalam film itu memberlakukan hukum teori relativitas khusus, yaitu dilatasi waktu.

Bagaimana Menurut Pandangan Islam?

Dari beberapa penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa waktu berjalan relatif, baik itu secara objek waktu itu sendiri maupun secara persepsi manusia yang sedang menjalaninya. Lalu bagaimana konsep waktu menurut agama Islam? Apakah menurut Islam waktu juga merupakan sesuatu yang relatif?

Dalam Islam, waktu bukanlah bergulirnya tiap detik ke menit, menit ke jam, dan jam ke hari. Konsep waktu dalam Islam adalah soal pemaknaan atau kualitatif. Banyak dijumpai ayat-ayat dalam al-quran yang membicarakan waktu dan bilangannya. Jika diperhatikan dalam ayat-ayat itu, bisa kita temukan bahwasannya Allah kerap beberapa kali menyindir hamba-Nya dengan kisah-kisah yang sulit dinalar rentang waktu kejadiannya yang kemudian menuntut kita untuk berpikir.

Bisa kita baca kisah pemuda Ashabul Kahfi yang ditidurkan oleh Allah selama 300 tahunan lebih di dalam gua. Mustinya tanpa makan dan minum mustahil seseorang bisa bertahan hidup 300 tahun.

Pun, demikian ketika kita membaca kisah terjadinya Isra dan Miraj oleh Nabi Muhammad SAW. Di mana ada seorang manusia yang melakukan perjalanan dari Makkah ke Al-Aqsa lalu naik ke Sidratul Muntaha lalu kembali lagi ke tempat tidurnya hanya dalam waktu semalam saja. Juga ketika kita membaca tentang keistimewaan Lailatul Qadar, di mana satu malam saja punya nilai kebaikan yang melebihi seribu malam banyaknya. Dan masih banyak lagi ayat yang lain.

Hampir bisa dipastikan semua ilmu-ilmu Al-Quran ketika mengkaji nilai, keutamaan serta kandungan ayat-ayat di atas tidak fokus pada bilangan atau jumlah waktu yang Allah sebutkan. Melainkan fokus pada kejadian demi kejadian yang sarat akan nilai serta hikmah yang berimplikasi pada meningkatnya kadar keimanan.

Hal ini menandakan bahwa memang konsep waktu dalam islam adalah bagaimana seorang Muslim mampu menghadirkan makna pada setiap detik, menit, jam yang telah atau sedang dan akan ia lalui. Berapapun singkat atau lamanya waktu tersebut.

Maka, gambaran paling sederhana tentang bagaimana seorang Muslim memaknai waktu adalah perkataan Ali bin Abi Thalib: “Beramallah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok.” Seorang Muslim pastilah akhirat yang menjadi orientasi dan prioritas dalam menjalani hidup. Oleh karena itu, pemaknaan terhadap waktu yang dipunyai akan maksimal manakala ia merasa jarak antara dirinya dengan maut hanya sejengkal saja.

Dengan pemaknaan waktu yang transenden itu maka waktu bagi seorang muslim berapapun itu lamanya akan selalu autentik atau lebih kita kenal dengan istilah waktu yang berkah. Tiap-tiap manusia memiliki waktu yang sama, tapi dari segi keautentikan atau keberkahannya boleh jadi berbeda. Ketersediaan waktu yang sama yang dimiliki oleh tiap-tiap manusia berkah tidaknya ditentukan dengan bagaimana manusia itu bisa menghadirkan makna atas waktu tersebut.

Tidak mengherankan jika sering kita jumpai Allah bersumpah atas nama waktu dalam mengawali firman-firman-Nya. Yang paling populer adalah ketika Allah berfirman tentang siapa itu orang-orang yang merugi. Ini menandakan betapa pentingnya pemaknaan waktu bagi seorang muslim. Pada akhirnya memang waktu itu sendiri bersifat relatif, namun sebagai muslim kesadaran terhadap pemaknaan waktu haruslah bersifat absolut. Waallahu a’lam bis shawab.

*Penulis adalah kader persyarikatan dan pengasuh anak-anak yatim dan dhuafa yang menjabat sebagai anggota bidang tabligh IMM komisariat Hajjah Nuriyah Shabran periode 2018-2019.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini