Gus Bah

PDM DEPOK, Parung, Bogor – Muhammadiyah adalah organisasi gerakan. Muhammadiyah terbiasa dengan kerja dan tindakan nyata. Sebab, dalam pandangan Muhammadiyah amal sosial merupakan cerminan spiritualitas. “Muhammadiyah tidak pandai berkata-kata,” ujar Ketua MPK-SDI PP Muhammadiyah Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., M.P.A. dalam Baitul Arqom Pimpinan dan Pembinaan Ideopolitor Muhammadiyah Kota Depok, Ahad (3/12/2023).

Menurut pria yang akrab disapa Gus Bah tersebut, gerakan dakwah Muhammadiyah begitu identik dengan amal sosial, sehingga tidak terbiasa berkata-kata ataupun berjargon, semisal “Aku Pancasila”, “Aku Indonesia”, “NKRI Harga Mati”, dan seterusnya. Muhammadiyah hadir di tengah kehidupan masyarakat bukan dengan jargon-jargon, tetapi dengan tindakan dan kerja nyata. “Sedikit bicara banyak bekerja” begitulah adagium yang sering digaungkan.

Meskipun begitu, Gus Bah menjelaskan bahwa Muhammadiyah harus bisa beradaptasi dengan kenyataan sekarang. Di era media sosial, kata dia, Muhammadiyah harus banyak berkata-kata, harus banyak bicara, di samping juga banyak bekerja. “Itu bukan untuk tujuan riya, tetapi syiar,” ujarnya dalam kegiatan yang berlangsung pada 1-3 Desember itu.

Menurut dia, Muhammadiyah harus menyesuaikan gaya dakwahnya dengan zaman yang menuntut syiar yang luas di jagat digital. Maka dari itu, Gus Bah menekankan agar Muhammadiyah, terutama di Kota Depok, harus banyak bekerja juga banyak bicara. “Syiar itu upaya untuk membangun public accountability. Kenapa harus disyiarkan, supaya publik percaya bahwa Muhammadiyah betul-betul menjalankan amanahnya, misalnya menyampaikan zakat yang dititipkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gus Bah juga menegaskan agar para peserta dapat menguatkan komitmennya dalam bermuhammadiyah. “Komitmen bermuhammadiyah perlu dibina dan dikuatkan. Muhammadiyah itu memiliki sistem yang teratur dan regulasi secara baku. Sebab itu berorganisasi harus taat asas, sesuai SOP dan aturan organisasi,” tegasnya.

Selain itu, dia menjelaskan, Muhammadiyah telah didesain dan dibingkai oleh kerangka pemikiran. Hal itulah yang harus terus dipelajari segenap kader Persyarikatan untuk menjalankan agenda bermuhammadiyah. “Pelajari rumusan-rumusan ideologis, pelajari Risalah Islam Berkemajuan, pelajari PHIWM, pelajari HPT,” ungkapnya dalam kegiatan yang digawangi MPK-SDI PDM Kota Depok tersebut. (sho)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini