Esai/OpiniFeaturedPersyarikatan

Membangun Pendidikan Berkemajuan di Depok: Antara Tantangan dan Tanggung Jawab

PDMDEPOK.COM – Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei seyogianya menjadi ruang hening untuk menimbang arah pendidikan kita. Merefleksikan diri tentang Pendidikan di Kota Depok menjadi bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional itu sendiri, terlebih Kota Depok yang dikenal sebagai Kota Pendidikan, yang ditandai banyaknya Institusi Pendidikan baik Pendidikan Dasar, Menengah maupun Pendidikan Tinggi, diantara refleksi yang perlu dihadirkan Adalah : sejauh mana pendidikan benar-benar hadir secara adil, sekaligus memampukan warganya bertumbuh sebagai manusia seutuhnya?

Secara makro, capaian Depok patut dicatat. Indeks Pembangunan Manusia berada pada level tinggi, dan tingkat melek huruf nyaris menyentuh batas maksimal. Namun, angka-angka tersebut tidak selalu memotret kenyataan yang lebih kompleks di lapangan. Di baliknya, tersimpan persoalan daya tampung sekolah negeri yang terbatas, sebaran kualitas pendidikan yang belum merata, serta tantangan pembentukan karakter di tengah lanskap digital yang terus berubah. Sebagai kota penyangga Jakarta, Depok berada dalam tekanan demografis yang meningkat. Setiap tahun, puluhan ribu lulusan sekolah dasar melanjutkan ke jenjang berikutnya, sementara kapasitas sekolah negeri belum sepenuhnya sebanding. Situasi ini mendorong sebagian besar siswa melanjutkan pendidikan ke sekolah swasta—sebuah kenyataan yang sesungguhnya tidak perlu dibaca sebagai keterbatasan, melainkan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang lebih luas. Perbandingan dengan Bekasi dan Bogor menunjukkan bahwa tantangan serupa juga dihadapi kota-kota penyangga lainnya. Beberapa di antaranya mulai merespons dengan penambahan unit sekolah baru dan penataan zonasi yang lebih adaptif. Di titik ini, Depok memiliki peluang untuk memperkuat langkah, tidak hanya dalam memperluas akses, tetapi juga dalam merawat keseimbangan kualitas.

Namun demikian, penting kiranya untuk menata ulang cara pandang kita. Pendidikan pada dasarnya merupakan tanggung jawab bersama. Negara melalui Pemerintah Daerah memiliki kewajiban utama, tetapi masyarakat—termasuk lembaga pendidikan swasta—memegang peran yang tidak terpisahkan. Dalam konteks Depok, keberadaan sekolah swasta selama ini telah menjadi penopang penting dalam menjamin keberlanjutan akses pendidikan. Karena itu, dikotomi antara sekolah negeri dan swasta menjadi kurang relevan untuk dipertahankan. Keduanya hadir dalam satu tujuan yang sama: memberikan layanan pendidikan yang bermutu bagi masyarakat. Yang lebih mendasar bukanlah pada status kelembagaannya, melainkan pada kualitas proses pendidikan yang dijalankan. Langkah Walikota Depok, Supian Suri yang menghadirkan rintisan program Rintisan Sekolah Swasta Gratis (RSSG) dapat dibaca sebagai upaya untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Kebijakan ini, apabila dijalankan secara konsisten dan akuntabel, berpotensi memperluas akses sekaligus memperkuat kemitraan antara pemerintah dan penyelenggara pendidikan swasta. Dalam jangka panjang, pendekatan semacam ini membuka ruang bagi hadirnya sistem pendidikan yang lebih inklusif.

Di sisi lain, persoalan kualitas dan karakter tetap menjadi perhatian utama. Perkembangan teknologi digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Akses informasi yang luas tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman. Di sinilah pendidikan dituntut untuk kembali pada akar maknanya. Ki Hajar Dewantara pernah mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses menuntun kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Sementara KH Ahmad Dahlan menekankan pentingnya melahirkan manusia yang memberi manfaat bagi sesama. Kedua pandangan ini mengisyaratkan bahwa pendidikan tidak berhenti pada capaian akademik, melainkan menyentuh dimensi nilai dan tanggung jawab sosial. Dalam kerangka itulah, kehadiran Muhammadiyah di bidang pendidikan menjadi relevan. Melalui jaringan sekolahnya, Muhammadiyah berupaya memadukan penguasaan ilmu pengetahuan dengan pembinaan karakter. Berbagai program pembinaan dan inovasi pembelajaran dikembangkan untuk menjawab tantangan zaman, tanpa meninggalkan akar nilai yang menjadi fondasinya. Lebih jauh, pengalaman Muhammadiyah menunjukkan bahwa pendidikan yang kuat selalu bertumpu pada kolaborasi. Sekolah, keluarga, dan masyarakat tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan. Dalam konteks ini, pendidikan dapat dipahami sebagai kerja kebudayaan sebuah ikhtiar bersama untuk membentuk generasi yang tidak hanya cakap, tetapi juga beradab.

Momentum Hari Pendidikan Nasional kiranya dapat menjadi pengingat akan hal tersebut. Bahwa pendidikan tidak cukup diletakkan dalam kerangka administratif semata, tetapi juga sebagai tanggung jawab moral bersama. Bahwa keberadaan sekolah swasta merupakan bagian integral dari upaya pemerataan akses. Dan bahwa kualitas pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh kesungguhan kita merawat prosesnya. Depok memiliki modal yang memadai untuk melangkah ke arah itu: sumber daya manusia yang dinamis, keberagaman lembaga pendidikan, serta kedekatan dengan pusat pertumbuhan nasional. Tantangannya adalah bagaimana Dinas Pendidikan sebagai Pemangku Kebijakan Pendidikkan di Kota Depok mengelola seluruh potensi tersebut dalam satu arah yang berkesinambungan, Semoga Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok mampu mewujudkannya.

Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang angka, daya tampung, atau status kelembagaan. Ia adalah tentang bagaimana sebuah masyarakat menyiapkan masa depannya. Dan dari ruang-ruang belajar di Depok hari ini, masa depan itu perlahan sedang dibentuk. Karena Masa Depan Kota Depok ditentukan oleh Pendidikan hari ini!. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026!

Penulis: Ali Wartadinata (Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok)

Pasang Iklan-Mu di Sini (In Content)

Related Articles

Back to top button