Heri Solehudin Soroti Krisis Lingkungan Dalam I’tikaf Ramadhan Muhammadiyah Jawa Barat
PDMDEPOK.COM – Akademisi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Dr. Rd. Heri Solehudin Atmawidjaja, menyoroti pentingnya penguatan kesadaran ekologis dalam merespons krisis lingkungan yang semakin kompleks. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan I’tikaf Ramadhan 1447 H yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat di Kampus STIKes Muhammadiyah Ciamis, 7–8 Maret 2026.
Kegiatan bertema “Islam dan Kesadaran Ekologis dalam Perspektif Muhammadiyah Jawa Barat” ini diikuti sekitar 300 peserta yang berasal dari unsur pimpinan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Jawa Barat, organisasi otonom, perguruan tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah, pesantren, sekolah, hingga civitas akademika.
Dalam forum tersebut, Dr. Heri Solehudin menekankan bahwa krisis lingkungan saat ini tidak hanya berkaitan dengan persoalan teknis pembangunan, tetapi juga berkaitan erat dengan persoalan sosial dan ketimpangan masyarakat.
“Krisis lingkungan memperdalam ketimpangan sosial. Karena itu, kesadaran ekologis harus dikaitkan dengan keadilan sosial dan pemberdayaan ekonomi umat,” ujar Heri Solehudin dalam keterangan yang diterima, Minggu (08/03/2026).
Menurut Heri Solehudin yang juga Tokoh Masyarakat Ciamis, dampak krisis ekologis tidak bersifat netral. Kelompok masyarakat yang rentan seperti masyarakat miskin perkotaan, perempuan, anak-anak, serta kelompok yang memiliki keterbatasan akses layanan publik seringkali menjadi pihak yang paling terdampak.
Wakil Ketua PDM Kota Depok tersebut juga menegaskan bahwa gerakan dakwah Muhammadiyah perlu mengembangkan pendekatan kebijakan yang lebih komprehensif dan interseksional dalam menangani isu lingkungan. Pendekatan tersebut harus melibatkan aspek sosial, ekonomi, serta kebijakan publik yang berorientasi pada keberlanjutan.

Selain itu, Heri Solehudin yang juga sebagai pebisnis mendorong penguatan konsep kewirausahaan hijau (green entrepreneurship) sebagai bagian dari strategi gerakan Muhammadiyah dalam menghadapi krisis lingkungan. Menurutnya, pendekatan ini dapat mendorong lahirnya model ekonomi umat yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Konsep kewirausahaan hijau dapat menjadi instrumen strategis untuk mendorong UMKM ramah lingkungan, pengelolaan wakaf produktif berbasis energi terbarukan, serta inovasi sosial dalam mitigasi bencana dan pengelolaan limbah,” jelas Keturunan Raja Panjalu ke-17 tersebut.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Prof. Dr. Ahmad Dahlan, M.Ag., dalam pidato kuncinya menegaskan bahwa krisis ekologis merupakan tantangan besar bagi peradaban modern. Menurutnya, organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan solusi yang berorientasi pada keberlanjutan.
“Krisis ekologis adalah ujian peradaban. Muhammadiyah harus hadir dengan kepemimpinan moral dan kebijakan yang berorientasi keberlanjutan,” tegas Heri yang juga Wakil Ketua Forum Doktor Sosial Politik Universitas Indonesia.
Melalui forum I’tikaf Ramadhan 1447 H ini, Muhammadiyah Jawa Barat berupaya memperkuat agenda tajdid ekologis sebagai bagian dari dakwah strategis organisasi. Berbagai sesi diskusi membahas isu lingkungan dari berbagai perspektif, mulai dari ekonomi, fikih lingkungan, kebijakan publik, filantropi, pendidikan, hingga kesehatan.
Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi strategis yang dapat diimplementasikan di tingkat wilayah, daerah, cabang, hingga ranting Muhammadiyah di seluruh Jawa Barat. Dengan jaringan organisasi yang luas, Muhammadiyah dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak gerakan kesadaran ekologis berbasis komunitas.
Melalui penguatan nilai keislaman, kebijakan kelembagaan, serta aksi nyata di tengah masyarakat, Muhammadiyah Jawa Barat menegaskan komitmennya untuk menjadikan dakwah tidak hanya sebagai gerakan moral dan spiritual, tetapi juga sebagai gerakan transformasi sosial dan ekologis yang berkelanjutan.
Wallohu a’lam bisshowab.


