Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. KH Haedar Nashir, M.Si.

PDM Depok – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. KH. Haedar Nashir, M.Si, menyampaikan pesan agar kader dan pimpinan Muhammadiyah betul-betul memahami manhaj tarjih. Amanat ini disampaikan dalam pembukaan Baitul Arqam dan Pelatihan Instruktur Perkaderan yang diadakan PWM Maluku Utara, Rabu (27/12) secara daring.

Haedar menekankan tentang pentingnya kaderisasi bagi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam. Perkaderan di Muhammadiyah dimaksudkan untuk memperkuat ideologi, sistem organisasi, dan sistem gerakan.

Sesuai dengan amanat Muktamar 48, kaderisasi bagian dari proses untuk membina, menanamkan, dan diaktualisasikan mengenai paham Islam di Muhammadiyah, paham Islam Berkemajuan.

Sebagai gerakan Islam yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar gerakan. Haedar berpesan supaya kader tidak memahami kedua wahyu tersebut secara tekstual, melainkan secara utuh, yaitu melalui bayani, burhani, dan irfani.

“Setiap anggota dan kader di manapun harus betul-betul memahami Manhaj Tarjih, agar paham Islamnya betul-betul mendalam, meluas, dan multiaspek,” kata Haedar Nashir.

Melalui cara memahami Islam dengan bingkai Manhaj Tarjih, kata dia, warga, kader, dan pimpinan persyarikatan menjadi Muslim yang berkemajuan, berislamnya jujur dan tidak parsial.

Menurut Haedar, cara pandang keagamaan yang dimiliki oleh Muslim akan berdampak luas dalam kehidupan. Dia mengungkapkan, konstruksi cara pandang Islam Berkemajuan akan mampu menjadi solusi terhadap masalah kehidupan yang kompleks.

Tentang pandangan Islam Berkemajuan, pada Muktamar 48 lalu Muhammadiyah menghasilkan Risalah Islam Berkemajuan. Risalah ini memiliki aspek dan karakteristik yang kokoh.

Karakter tersebut meliputi rujukan kepada Al-Qur’an dan Sunnah, menjadikan tauhid sebagai landasan dan multiaspek, berorientasi pada tajdid dan ijtihad, wasathiyah, dan melahirkan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin).

“Maka kami harapkan peserta darul arqam, pelatihan instruktur, dan seluruh warga persyarikatan kader dan pimpinannya, pahami baca kembali seluruh pemikiran yang menyangkut paham Islam dalam Muhammadiyah,” ujar Haedar.

Dia berharap peserta tidak hanya berhenti membaca pemikiran Muhammadiyah saat agenda perkaderan saja, tetapi ada upaya untuk terus mendalami, membaca ulang, dan mengaktualisasikan. Sehingga, jangan sampai kader terinfiltrasi ideologi atau paham lain. (Sumber: Muhammadiyah.or.id)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini