PDM DEPOK – Oleh: Mursin

Di Pasar Agung Depok II Timur, Kec. Sukmajaya pada awal berdiri ada bangunan toko di seberang sungai kecil. Di antara toko yang berada di atasnya, ada yang berdagang jasa permainan dindong, yang disukai anak anak, tapi menghabiskan uang. Anak-anak yang bermain jika kehabisan uang, sementara dia tidak berani meminta pada orang tua, tak segan mencuri uang bapak ibunya. Ternyata di tempat itu juga ada aktifitas permainan bilyar atau bola sodok dan banyak penggemarnya.

Dalam perkembangannya, Pasar Agung yang lama di bongkar dan dibangun baru tiga lantai (2002). Tempat dindong dan biliar itu tidak termasuk yang dibongkar, karena milik pribadi. Hanya pedagang toko karena sepi pembeli tidak melanjutkan usahanya di tempat itu lagi. Ternyata toko-toko itu dimiliki oleh pengusaha bilyar pribadi. Akhirnya hanya usaha biliar yang tetap jalan saat Pasar Agung sudah selesai dibangun dan berfungsi kembali.

Tidak jauh, sekitar 100 meter sebelah timur tempat biliar, dibangun Masjid Al Bahar (2014) oleh pemilik tanahnya. Masjid itu awalnya hendak di wakafkan kepada Muhammadiyah Ranting Abadijaya. Namun, dari pihak keluarga ada yang tidak menyetujuinya. Hingga sekarang ini tidak ada kejelasan tentang wakaf masjid itu gimana jadinya. Namun demikian, jamaah pengajian Muhammadiyah dan Aisyiyah Abadijaya tetap menggunakannya. Baik itu tempat pengajian dan kegiatan lainnya.

Kegiatan pengajian dilaksanakan setiap hari Ahad pagi sekali sepekan. Pengajarnya Ir. H. Syamsul Qamar M.Sc, pengurus Muhammadiyah Kota Depok asal Bugis, Sulawesi Selatan. Saat itu, masjid dikelola oleh takmir, ketuanya Abdul Karim Tan. Ketua Muhammadiyah Ranting Abadijaya, asal Cina keturunan. Namun, masjid itu tidak dipakai untuk Jumatan. Alasannya menunggu wakaf masjid diserahkan.

Jamaah masjid, Muhsin MK. atas dorongan tentang keharusan masjid digunakan untuk sholat Jumat berinisiatif melaksanakannya. Apalagi masjid dekat pasar banyak pedagang yang berasal dari Sumatera Barat yang diharapkan menjadi jamaahnya. Dengan izin pengurus masjid maka disusunlah jadwal khatib dan dimulai Jumatan pertama.

Sholat lima waktu berjalan, termasuk waktu Subuh. Di waktu Subuh ini berkumpul pedagang muda yang aktif berjamaah. Mereka inilah yang memulai pembicaraan tentang aktivitas tempat biliar yang dekat Masjid Baitullah. Walau bangunannya sudah mulai rusak, tapi aktivitasnya tidak berhenti dan mengalah. Menurut informasi aktifitasnya tidak semata permainan, tapi juga ada untuk kemaksiatan: minum minuman keras, pelayannya wanita dan unsur judi, yang dilarang Allah.

Dalam diskusi Subuh beberapa kali, jamaah kalangan muda mengusulkan beberapa opsi. Pertama dilaporkan kepada polisi. Tapi siapa yang berani. Apalagi jamaah bukan pengurus Masjid Al Bahar yang punya legalitas administrasi. Kedua, diobrak abrik tempatnya dengan mengerahkan masa untuk beraksi. Ini bisa berurusan dengan polisi juga dan masuk terali besi. Ketiga, ramai-ramai demonstrasi. Ini juga mengundang polisi untuk menginterogasi.

Diskusi  jamaah Subuh tak berhenti, namun tanpa ada tindakan nyata. Sementara bilyar tetap beroperasi tanpa henti, tapi lama kelamaan makin berkurang pengunjungnya. Aktivitas biliar berangsur angsur sepi dan akhirnya berhenti tanpa ada yang menghentikannya. Jamaah masjid bersyukur tempat biliar sudah tidak ada lagi kegiatannya. Bahkan bangunan tempat bilyar itu lama lama hancur dan tinggal tanah kosong yang ada.

Melihat kenyataan itu salah satu jamaah Masjid Al Bahar yang ikut diskusi Subuh soal biliar menyarankan kepada istrinya di rumah yang menjadi pengurus organisasi Aisiyah. Tanah bekas tempat bilyar itu sebaiknya dibeli ibu-ibu Aisyiyah untuk dibangun sekolah. Ternyata istrinya menyampaikan kepada pengurus Aisyiyah. Mereka bermusyawarah. Bunda Endang yang saat itu menjadi pengurus teras Pimpinan Ranting Aisiyah (PRA) segera melangkah. Tanah seluas 200 m2 itu akhirnya dibeli PRA dengan harga 70 juta rupiah.

Dengan dibelinya tanah itu dengan sendirinya kegiatan maksiyat di tempat itu tidak tumbuh lagi. Ibarat bekas tanaman bambu yang ditebangi. Supaya bambunya tidak tumbuh lagi maka harus ditanami pohon singkong yang daun dan umbinya  bermanfaat untuk dikonsumsi. Karena itu tanah bekas biliar itu kemudian direncanakan untuk mendirikan TK ABA satu lagi.

Mulailah PRA Abadijaya menyusun progres pembangunan gedung di atas tanah yang dibelinya. Kembali bunda Endang menggerakkan pengumpulan dana bekerja sama dengan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Abadijaya. Dana berhasil dikumpulkan untuk pembangunan gedung dakwah Muhammadiyah sekaligus ruang sekolah TK ABA kedua. TK ABA 10 di jalan Batur Depok II Timur, itu yang dibangun pertama. TK ABA 10 telah banyak muridnya. Sementara yang mendaftar melebihi daya tampungnya. Untuk itu diperlukan TK ABA yang baru agar bisa menerima murid lebih banyak jumlahnya.

Pembangunan gedung Muhammadiyah-Aisyiyah Ranting Abadijaya (2015) dilakukan secara bertahap  sesuai keadaan dananya. Lokasi pembangunan dekat pasar yang ramai memudahkan masyarakat memberi bantuannya. Tahap pertama, membangun gedung lantai bawah untuk ruang belajar, kantor dan dapur TK ABA. Tahap kedua membangun lantai dua untuk kegiatan dakwah Muhammadiyah dan Aisiyah Abadijaya. Kurang dari dua tahun pembangunan gedung dakwah dan TK ABA selesai juga.

Dengan berdirinya gedung dakwah dan TK ABA (2016) bertambah amal usaha Muhammadiyah dan Aisiyah Abadijaya. Berbagai kegiatan Muhammadiyah pun dilaksanakan di gedung ini, baik pertemuan anggota, maupun acara acara lainnya. Bahkan acara Pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah Cabang Sukmajaya juga dapat memanfaatkan gedung dakwah ini dengan leluasa. Kehadiran gedung ini pun bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya.

Manfaat yang dirasakan langsung antara lain: Pertama, mereka tidak lagi terganggu dengan hiruk pikuk kegiatan dan orang yang menjadi pelanggan tempat biliar, apalagi bau minuman orang orang mabuk dan wanita yang bisa mengganggu rumah tangga mereka. Pengaruh negatif kerusakan moral yang ditimbulkannya menjadi berkurang bahkan tidak ada.

Kedua, saat pembangunan dilaksanakan, mereka mendapat Rezki dengan ikut bekerja menjadi tukang dan pembantunya. Ketua RT di lingkungan setempat ikut merasakannya. Ia ikut bersama tukang yang masih karib kerabat. Tukang bangunan yang diminta adalah orang asli Cipayung Depok yang dikenal baik kerjanya.

Ketiga, anak-anak mereka bisa sekolah di TK ABA Abadijaya. Tanpa mereka harus jauh mengantarkannya. Apalagi biaya masuknya murah sesuai tingkat ekonominya. Kualitas pendidikannya cukup baik karena Aisyiyah sudah punya sistem pendidikan sendiri dan berjalan lama.

Keempat, kegiatan di gedung itu dapat menjadi lapangan pekerjaan bagi anak anak muda baik menjadi guru atau stafnya. Kebutuhan guru dan karyawan TK ABA membuka peluang kerja. Selain itu, dengan adanya sekolah dan kegiatan di tempat itu dapat membuka usaha makanan, minuman dan sebagainya.

Kelima, bila PRM dan PRA Abadijaya mengadakan kegiatan sosial atau baksos tentu masyarakat sekitar akan menjadi sasaran utamanya. Termasuk penyaluran zakat, zakat fitrah dan penyembelihan hewan kurban di hari raya, Idul Adha. Penyaluran itu dapat diberikan kepada masyarakat sekitar apalagi yang duafa.

Keenam, bagi masyarakat yang menjadi pedagang di Pasar Agung, terutama mereka yang punya anak berusia kanak kanak menjadi mudah menyekolahkannya di TK ABA sambil berdagang dan berusaha. Keberadaan pasar itu pun besar pengaruhnya berkaitan dengan informasi dan promosi sekolah sehingga dengan cepat dikenal dalam masyarakat di Kecamatan Sukmajaya dan sekitarnya.

Depok, 1 April 2024

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini