Muhammadiyah backgorund Kota Depok

Oleh: Ahmad Soleh*

Muhammadiyah bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan sebuah gerakan Islam (harakatul Islam). Kita akrab mengenalnya sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Prof. Kuntowijoyo (2000) menyebut organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada 1912 ini sebagai gerakan yang memiliki semangat pembebasan (liberasi). Hal ini disebabkan apa yang diupayakan Muhammadiyah sebetulnya tidak lepas dari upaya transformasi sosial.

Hal tersebut tidaklah berlebihan, sebab jika kita melacak kembali jejak sejarah KH. Ahmad Dahlan dalam mendirikan Muhammadiyah, kita dapat melihat bagaimana Muhammadiyah menghadirkan aksi-aksi nyata. Muhammadiyah begitu identik dengan teologi Al-Maun, sebuah dasar gerakan kemanusiaan dan gerakan pembebasan.

Sebagai organisasi gerakan, Muhammadiyah tentu memiliki ideologi dan paham agama yang sejatinya harus dipahami, diyakini, dan ditaati oleh pimpinan, anggota, kader, warga, dan juga simpatisannya. Ideologi dan paham keagamaan dalam Muhammadiyah ibarat dua hal yang melekat dan tak bisa dipisahkan satu sama lain. Maka, bermuhammadiyah artinya berideologi sekaligus berpaham-keagamaan Muhammadiyah.

Muhammadiyah memang kerap digambarkan sebagai organisasi puritan atau pemurnian, terutama yang menyangkut hal-hal akidah dan ibadah mahdhah. Selain itu, Muhammadiyah begitu lekat dengan etos gerakan sosial, semangat welas asih, semangat “tangan di atas”, yang dalam sejarahnya diwujudkan dalam gerakan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan filantropi. Selain itu, Muhammadiyah juga berwatak tajdid atau pembaruan, yang mencakup bidang-bidang Muamalah duniawiah. Bisa dikatakan nyawa gerakan Muhammadiyah terletak pada gerakan tajdid dan gerakan sosialnya.

Rumusan ideologi dan paham keagamaan yang merupakan dasar fundamental sebagai landasan bergerak, berkhidmat, dan mewujudkan komitmen Muhammadiyah. Hal itu tergambarkan secara gamblang. Bahwa Muhammadiyah tidak hanya sebuah gerakan permurnian agama yang berkutat pada urusan akidah. Melainkan, Muhammadiyah mendorong agar umat manusia memaksimalkan akal pikiran dan akal budinya.

Memahami Ideologi Muhammadiyah

Ideologi secara umum merupakan sistem paham, cara pandang, ide, dan keyakinan yang diyakini dan dianut oleh seseorang atau sekelompok masyarakat. Ideologi juga jamak dipahami sebagai pandangan dunia (world view), di mana orang yang memegang ideologi tersebut akan melihat dunia sebagaimana sistem paham yang berlaku dalam ideologinya.

Menurut Riberu (1986) yang dikutip Prof. KH. Haedar Nashir, ideologi memiliki unsur-unsur pokok, antara lain: 1) Pandangan yang komprehensif tentang manusia, dunia, dan alam semesta dalam kehidupan; 2) Rencana penataan sosial-politik berdasarkan paham tersebut; 3) Kesadaran dan pencanangan dalam bentuk perubahan-perubahan berdasarkan paham dan rencana dari ideologi tersebut; 4) Usaha mengarahkan masyarakat untuk menerima ideologi tersebut yang menuntut adanya loyalitas dan keterlibatan pengikutnya; 5) Usaha memobilisasi seluas mungkin para kader dan massa yang akan menadi pendukung ideologi tersebut.

Jika kita merunut kembali sejarah, wacana mengenai ideologi di dalam tubuh Muhammadiyah sebetulnya sudah muncul sejak tahun 1930-an. Rumusan-rumusan pemikiran yang lahir dari Muhammadiyah kemudian mulai disusun secara sistematis dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah pada 1946. Selanjutnya, dalam Tanwir Muhammadiyah yang digelar di Ponorogo pada 1969, dicetuskan pemikiran resmi Muhammadiyah mengenai ideologi, yakni Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup (MKCH). “Keyakinan dan cita-cita” merupakan bahasa selingkung untuk padanan kata “ideologi”.

Prof. Haedar menjelaskan, ideologi Muhammadiyah bukan sekadar sistem paham dan pemikiran, tetapi di dalamnya terdapat teori dan strategi perjuangan. Jadi, dalam keyakinan dan cita-cita Muhammadiyah terdapat apa yang kita sebut dengan khittah perjuangan. Dengan begitu, secara mendasar rumusan tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, bagaimana, dan untuk apa Muhammadiyah hadir.

Apa yang terkandung dalam ideologi dan rumusan pemikiran resmi Muhammadiyah, secara jelas menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki spirit menegakkan ajaran Islam, nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin, serta mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dengan berlandaskan pada Al-Quran dan sunah sebagai fondasinya, Muhammadiyah membawa misi dakwah kenabian, dakwah pencerahan, dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, gerakan sosial, dan upaya membangun tatanan masyarakat yang ideal. Bahkan, Muhammadiyah memiliki komitmen kebangsaan dalam rangka mendorong terwujudnya kehidupan kebangsaan yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.

Dengan keluwesan dan watak berkemajuan, Muhammadiyah mampu menghadirkan wajah Islam yang relevan dengan perkembangan dan kemajuan zaman. Sebab itulah semangat Islam yang dibawa Muhammadiyah dikenal dengan tagline Islam Berkemajuan. Islam yang tidak hanya bicara prinsip-prinsip ideologis, tauhid, dan perkara-perkara ibadah, melainkan juga berbicara soal kemajuan, inovasi, kemanusiaan universal, kesemestaan, dan pembaruan demi mewujudkan peradaban yang utama.

Paham Keagamaan Muhammadiyah

Memahami Muhammadiyah harus dibarengi dengan memahami bagaimana paham keagamaan dalam Muhammadiyah. Jika kita merujuk pada Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup (MKCH) Muhammadiyah, kita dapat menemukan penjelasan mengenai landasan keyakinan Islam dalam Muhammadiyah. Penjelasan mengenai pembahasan ini terdapat dalam poin 3 dan 4, yang isinya sebagai berikut:

3. Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan: a) Al-Quran: Kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW; dan b) Sunah Rasul: Penjelasan dan pelaksanaan ajaran-ajaran Al-Quran yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa Islam.

4. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam meliputi: a) Akidah; b) Akhlak; c) Ibadah; dan d) muamalah duniawiyah.

Dengan demikian, paham agama dalam Muhammadiyah adalah paham Islam sebagai agama Allah SWT yang diturunkan kepada Rasul-Nya, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir yang membawa risalah syariat agama yang sempurna untuk seluruh umat manusia dan berlaku sepanjang masa. Maka, upaya Muhammadiyah untuk memurnikan ajaran Islam, tak lain merupakan ikhtiar untuk menjalankan risalah agama tersebut. Dengan slogan yang sangat populer, “ar-ruju ilal Quran wa as-sunnah“, kembali kepada Al-Quran dan as-sunah.

Selain itu, perlu kita pahami, dalam perkara fikih Muhammadiyah tidak mengikat diri pada imam mazhab tertentu, kendati tidak juga mengingkarinya. Sikap semacam ini memungkinkan Muhammadiyah untuk mengakomodasi pandangan-pandangan dari mazhab-mazhab yang ada, untuk kemudian kembali meninjau mana pandangan/pendapat yang paling dekat dengan Al-Quran dan as-sunah.

Di sisi lain, Muhammadiyah juga berpandangan bahwa pintu ijtihad selalu terbuka. Sehingga, mendorong terciptanya cara pandang baru yang tetap sejalan dan berakar pada ajaran Islam yang murni dan lurus. Terutama dalam bidang muamalah duniawiyah, Muhammadiyah mendorong adanya pembaruan dan ijtihad pemikiran untuk kemajuan peradaban manusia.

Islam Berkemajuan, Risalah Masa Depan

Dalam pernyataan pikiran Muhammadiyah Abad Kedua hasil Muktamar ke-46 yang ditetapkan tahun 2010 di Yogyakarta, Muhammadiyah meluncurkan “Pandangan Islam yang Berkemajuan“. Dalam dokumen pikiran resmi itu disebutkan bahwa Muhammadiyah memandang Islam sebagai agama yang mengandung nilai-nilai agama tentang kemajuan untuk mewujudkan peradaban umat manusia menuju peradaban utama.

Islam diyakini sebagai agama yang selalu relevan kapan pun dan di manapun. Hal ini mendorong terciptanya tradisi beragama yang lentur, bahkan menjadi pelopor inovasi. Dalam hal ini, dapat kita saksikan bagaimana Muhammadiyah menjadi pelopor kemajuan-kemajuan di bidang pendidikan, kesehatan, gerakan zakat, hingga internasionalisasi yang telah menempuh sejumlah langkah praktis, mulai dari pendirian cabang istimewa, amal usaha, forum internasional, hingga keterlibatan dalam filantropi di wilayah konflik.

Risalah Islam Berkemajuan yang dirilis pada Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Solo tahun 2022 pula kembali meneguhkan dan menegaskan bahwa gerakan pencerahan Muhammadiyah yang sudah begitu menyejarah mesti terus diwujudkan dalam kerja-kerja nyata. Dalam risalah tersebut gerakan pencerahan Islam Berkemajuan itu harus diwujudkan dalam gerakan dakwah, gerakan tajdid, gerakan ilmu, dan gerakan amal dengan sejumlah risalah pengkhidmatan yang berorientasi universal, global, dan jauh ke masa depan.

Sejalan dengan ungkapan KH Ahmad Dahlan, “Muhammadiyah hari ini lain (berbeda) dengan Muhammadiyah yang akan datang (di masa depan).” Itulah alasan betapa pentingnya kita sebagai warga Persyarikatan memahami ideologi dan paham keagamaan Muhammadiyah, agar semakin yakin, teguh, istiqamah, dan bergembira dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab ini. Semoga ringkasan singkat ini dapat menjadi pemantiknya. Wallahu a’lam bisshawab.

 

*Mahasiswa Pascasarjana Univ. Prof. DR HAMKA (Uhamka), Sekretaris MPI PDM Kota Depok

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini