Militansi untuk Islam atau Organisasi?

PDM Depok – Oleh: Laskar Badar Muhammad*
Dalam sepekan terakhir lanskap dunia maya tengah hangat membicarakan materi stand up comedy bertajuk Mens Rea yang ditampilkan oleh komika senior Indonesia, Pandji Pragiwaksono. Menanggapi hal itu, terjadi percakapan yang seru di masyarakat antara pihak pro dan kontra atas materi-materi yang disampaikan Pandji dalam acara tersebut.
Materi-materi Pandji memang sangat sensitif, kritis, tajam, juga menohok pihak-pihak yang sekiranya berseberangan dengannya. Pandji bak menguliti segala ketidakberesan yang nyata-nyata memang terjadi nyaris di segala lini negara Indonesia.
Tak ayal, respons masyarakat bermunculan pun beragam. Tak terkecuali di antaranya ialah sekumpulan anak-anak muda yang merasa tersinggung atas salah satu materi yang disampaikan Pandji. Mereka lalu beramai-ramai menggelar demonstrasi dalam rangka melaporkan Pandji yang menurut mereka diduga melakukan penghasutan dan penistaan agama.
Anak-anak muda itu mengaku sebagai aliansi pemuda dari organisasi NU dan Muhammadiyah. Tak butuh waktu lama pengakuan itu dibantah dengan pernyataan resmi dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdhatul Ulama. Kedua ormas tersebut membantah bahwa aksi demontrasi tersebut sama sekali tidak merepresentasikan organisasi Muhammadiyah ataupun NU.
Dalam poin-poin maklumatnya, Muhammadiyah merespons dengan tegas, lugas, intelek, tapi tetap santun dan beradab. Ini memang menjadi ciri khas ormas berlambang sinar dua belas tersebut. Sebuah respons yang terhitung sangat cepat tanggap, tentu saja demi menjaga nama besar dan marwah organisasi muhammadiyah. Para warga juga kader tak ketinggalan untuk me-repost dan share maklumat itu demi mendukung, mempertegas sikap, dan loyalitasnya pada persyarikatan.
Dalam pandangan penulis, ihwal cepatnya pimpinan pusat dalam merespon kasus pelaporan Pandji yang kemudian didukung oleh kader serta warga Persyarikatan tersebut, perlu untuk dikritisi. Hampir bisa dipastikan hal itu terjadi akibat masifnya narasi “militan” dalam proses pembentukan kader yang nantinya akan melajutkan roda kepemimpinan organisasi di segala tingkatan.
Tentu yang demikian itu tak ada salahnya dan boleh-boleh saja. Keberadaan kader militan memang menjadi motor utama dalam keberlangsungan dakwah Muhammadiyah. Kader-kader militan itu punya tanggung jawab atas terwujudnya visi mulia yang terangkum dalam Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM) maupun Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM).
Namun jika dicermati lebih saksama, terdapat kontras yang begitu mencolok di organisasi Muhammadiyah perihal narasi militansi ini. Untuk urusan perkaderan dan semangat berorganisasi, narasi militan atau yang semisalnya akan sering diucapkan untuk membakar semangat para kader. Sedangkan hal yang sama tidak didapati atau sangat jarang sekali diucapkan untuk urusan-urusan yang berkaitan dengan keberislaman dan keumatan.
Faktanya untuk urusan yang bersifat keberislaman dan keummatan, Muhammadiyah lebih suka dengan narasi-narasi seperti; moderasi beragama, wasathiyyah, inklusivitas, berkemajuan, mencerahkan, kesantunan, keadaban, dan yang semisalnya. Narasi yang keluar cenderung begitu halus, berintelek, dan terasa sekali menghindari konfrontasi.
Di sisi lain, entah mengapa jika masuk ke ruang kaderisasi narasi yang keluar menjadi sangat maskulin, keras, konfrontatif, dan menuntut loyalitas total kader-kadernya. Seolah-olah kader sedang dipersiapkan maju ke medan peperangan untuk memperjuangkan dan mengangkat marwah organisasi setinggi-tingginya.
Dalam hal ini mestinya Muhammadiyah berhati-hati. Kondisi “standar ganda” peggunaan narasi militan tersebut bisa bermuara pada disorientasi kader maupun warga persyarikatan. Mereka bisa terjebak dalam fanatisme atau fetisisme organisasi. Mereka akan lebih aktif atau sibuk untuk membela nama besar organisasi dan segala hal yang sifatnya struktural organisatoris.
Ketika narasi militansi hanya digaungkan dalam urusan perkaderan, kader atau warga persyarikatan akhirnya menempatkan kepentingan organisasi di atas segalanya. Bukan tidak mungkin bahkan ditempatkan di atas agama Islam sekalipun. Akibatnya Muhammadiyah menjadi lebih reaktif terhadap serangan yang sekiranya bisa merusak citra organisasi.
Contohnya, respons cepat dalam membantah aksi demontrasi yang mengatasnamakan pemuda Muhammadiyah. Maklumat tersebut seperti sangat terukur baik dari segi timing-nya maupun materinya. Menjadi semakin mantap ketika maklumat tersebut benar-benar keluar dari mimbar PP Muhammadiyah.
Namun, untuk urusan keberislaman dan keumatan reaksi Muhammadiyah cenderung lambat dan sangat normatif. Contonya ketika Muhammadiyah menerbitkan pernyataan sikap atas aksi demontrasi Agustus 2025 silam. Respons yang terbilang sangat terlambat dan terasa begitu normatif-diplomatis. Pernyataan itu baru keluar setelah demo tersebut memakan korban (terlindas kendaraan taktis brimob).
Dalam pandangan penulis, yang demikian itu sudah terbaca polanya dan bukan terjadi untuk yang pertama kalinya. Maka, benarkah saat ini Muhammadiyah telah benar-benar mengalami disorientasi dari makna dan tujuan organisasi yang sesungguhnya? Jika hal itu yang terjadi, Muhammadiyah akan bergeser dari gerakan dakwah yang mulia menjadi birokrasi organisasi yang profan. Tentu saja yang demikian itu tidak kita inginkan bersama.
Mengatasi kondisi di atas, sebenarnya tidaklah sulit. Sebab, Muhammadiyah punya banyak rumusan canggih baik dalam hal ideologis maupun praktis gerakannya. Ada MADM, MKCHM, PHIWM, Kepribadian Muhammadiyah, Khittah Muhammadiyah, dan Risalah Islam Berkemajuan. Yang mana kesemuanya itu bernafaskan Al-Qur’an dan Sunnah.
Selanjutnya tinggal bagaimana nilai-nilai suci yang terkandung dalam rumusan-rumusan itu benar-benar terimplementasi dalam kehidupan nyata. Serta benar-benar menjadi napas bagi setiap gerak dan langkah dakwah Muhammadiyah di setiap tingkatannya. Tentu saja rumusan-rumusan itu dibuat bukan untuk sekadar menjadi materi kemuhammadiyahan yang disampaikan berapi-api saat kegiatan perkaderan, tetapi loyo dalam tindakan.
Sebagai penutup, mari mulai kita tinggalkan segala hal yang bersifat formalistik, basa-basi, normatif, dan diplomatis belaka. Sebab, perilaku-perilaku tersebut jelas tak ada juntrungannya kepada perilaku K.H Ahmad Dahlan. Lebih jauh lagi tak ada juntrungannya kepada perilaku Nabi Muhammad SAW. Semua cita-cita suci nan luhur Muhammadiyah tak akan pernah terwujud dengan perilaku-perilaku tersebut. Ya, tak akan pernah terwujud. Wallahu A’lam bis Shawaab.
*Penulis adalah kader akar rumput ber-NBM 1202 9817 1276981 yang mengasuh anak-anak yatim dan duafa di Panti Asuhan Yatim ‘Aisyiyah Banyudono, Boyolali.



