PDM Depok – Oleh: Juju Djuairiah*

Dahulu orang tua kita mendidik anak-anaknya agar memelihara kesantunan dalam berbahasa baik lisan maupun tulisan, selalu mewanti-wanti kita untuk memelihara akhlak berkomunikasi, seolah-olah kesantunan berbicara menjadi ukuran tinggi rendahnya peradaban anak manusia.

Kepribadian seseorang dapat diukur berdasarkan tutur kata dalam berkomunikasi, konsisten dalam memelihara kesantunan baik lisan maupun tulisan. Jika sesekali berucap kasar, apalagi kalau sering, maka menandakan kepribadian orang itu tidak santun. Bahasa santun tidak hanya terucap oleh mulut atau tertulis di media, tetapi juga melalui bahasa tubuh (body language).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan betapa mulianya beliau bertutur kata, beliau adalah sosok yang paling lembut kepada manusia. Beliau sungguh-sungguh mempertimbangkan kondisi dan latar belakang mereka. Beliaulah yang telah memberitakan: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menyukai sifat lemah-lembut dalam seluruh perkara. Ini perlu menjadi perhatian kita bersama karena ada kecenderungan bahasa yang santun akan tergerus oleh peradaban modern, arus globalisasi dan modernisasi.

Al-Qur’an berulang kali mengingatkan kepada manusia agar bertutur santun. Dicontohkan, berbahasa kepada kedua orang tua, kita sebaiknya menggunakan bahasa yang mulia (qoulan kariman) “…dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Al-Isra: 23). Terhadap anak-anak kita menggunakan bahasa yang baik (qoulan ma’rufan) “…dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik” (QS An-Nisa: 5). Untuk mengungkapkan data dan fakta, kita diminta untuk menggunakan Bahasa yang tepat dan valid (qoulan sadidan) “… dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS An-Nisa: 9. Terhadap kelompok oposisi atau kaum munafik kita diminta menggunakan bahasa yang komunikatif (qoulam balighon)”… dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka” (QS an-Nisa: 63). Terhadap orang yang kasar dan jahat tetap kita diminta menggunakan bahasa yang lemah lembut (qoulan layyinan) “… maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (QS Thoha: 44).

Terhadap musuh pun kita tetap diminta untuk menggunakan bahasa yang pantas (qoulan maisuran) “…katakanlah kepada mereka perkataan yang pantas”. (QS Al-Isra: 28). Allah meminta kita untuk menghindari bahasa yang keras (qoulan ’azima)”…. Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya)”. (QS Al-Isra: 40). Hanya Allah yang berhak menggunakan bahasa yang berat (qoulan tsaqila), “Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat”.

Jika kita ingin dikenal sebagai seorang yang beradab atau Islami, maka yang pertama harus ditampilkan adalah kesantunan berbicara yang merupakan akhlak dalam berbahasa.

*Alumnus Pendidikan Kader Mubaligh 2023

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini