Esai/Opini

Menyetel Ulang Frekuensi Bangsa

PDM Depok – Oleh: Ahmad Soleh*

Indonesia sering kali diimajinasikan sebagai “tanah surga” dengan keragaman suku, budaya, dan alamnya yang melimpah. Secara historis, bangsa Indonesia disatukan oleh rasa senasib sepenanggungan dan visi besar para pendiri bangsa. Namun, di tengah hiruk-pikuk kehidupan berbangsa hari ini, di mana pragmatisme politik dan pertarungan kepentingan golongan kian terasa, pertanyaan pun menyeruak: Ke mana sebenarnya arah pembangunan bangsa ini?

Inilah kegelisahan utama yang coba dijawab oleh Fahd Pahdepie dalam buku terbarunya, 45 Hz; Frekuensi Masa Depan Indonesia (2025). Fahd mengajak kita menepi sejenak dari kebisingan hiruk-pikuk politik, hingga keriuhan isu perselingkuhan di media massa. Melalui buku ini, Fahd mengajak kita kembali merenung tentang kondisi bangsa yang terasa kian jauh dari apa yang dicita-citakan para pendahulu.

Narasi, Imajinasi, Integritas

Keresahan utama yang dicetak tebal dalam buku ini adalah bagaimana arah pembangunan bangsa di masa depan? Apakah Indonesia Emas 2045 sudah menjadi narasi besar dan imajinasi bersama untuk 100 tahun kemerdekaan Indonesia? Atau hanya membentur pada program-program teknis yang menghabiskan anggaran negara, yang pajaknya dari masyarakat?

Fahd mencoba menjawab pertanyaan itu dengan mengajukan sebuah formula masa depan. Formula yang dibangun oleh narasi, imajinasi, dan integritas. Kita sudah lama merindukan narasi kebangsaan. Cuap-cuap para politikus dan pejabat negara hari ini sangat minim narasi kebangsaan. Padahal, Indonesia sebagai sebuah bangsa yang besar membutuhkan narasi kebangsaan yang hidup dalam jiwa dan sanubari setiap warganya. Jika pejabat saja tidak menggaungkan narasi, bagaimana dengan rakyat?

Meskipun, bagi Fahd, narasi kebangsaan tidak boleh berhenti di tataran elite. “Narasi bukan semata milik elite. Ia lahir dari ruang sosial masyarakat, diserap dalam bahasa, kesenian, simbol, perayaan, bahkan idiom sehari-hari.” (hlm 53). Sementara imajinasi masa depan menjadi arah ke mana narasi itu akan bermuara.

Seperti diungkapkan Benedict Anderson, suatu bangsa sebagai komunitas yang terbayang (imagined communities) yang bersatu karena direkatkan oleh adanya imajinasi kebangsaan. Bukan hanya imajinasi kebangsaan, bahkan kita harus mendorong hadirnya imajinasi masa depan. Tanpa imajinasi masa depan, kita akan berjalan tanpa tujuan, tanpa visi, dan nyaris tanpa harapan.

Narasi dan imajinasi adalah dua hal yang terlalu sering absen dalam percakapan para pejabat dan politikus kita hari ini. Percakapan publik kita dipenuhi dengan sentimen politik, omon-omon yang mengandung kekacauan logika, hingga laporan-laporan tidak berimbang yang menyebabkan misinformasi.

Tidak hanya kegagalan komunikasi kepada publik. Ternyata misinformasi juga terjadi di lingkaran pemerintah karena pejabat kita masih ada yang bermental ABS, asal bapak senang atau asal bos senang. Misinformasi bagi pemerintah bisa menyebabkan terjadinya kesalahan pengambilan kebijakan dan ini sangat berbahaya.

Maka, tak heran jika isu mengenai integritas menjadi salah satu prasyarat penting untuk dibahas. Dalam buku setebal 189 halaman ini, Fahd menggarisbawahi integritas dalam tata kelola negara. “Sebuah negara tidak dinilai dari seberapa besar rencananya, tetapi seberapa nyata menunaikan janjinya.” (hlm 67).

Negara yang berhasil membangun budaya integritas dalam tata kelola ataupun birokrasinya akan lebih mudah dalam membangun integritas publik. Dengan tata kelola yang mengedepankan akuntabilitas, kejujuran, dan birokrasi yang efisien akan membangun kepercayaan publik.

Sebaliknya, tanpa adanya integritas, negara akan kehilangan kepercayaan publik sepenuhnya. Bukankah riak-riak ini sudah mulai terasa?

Tantangan Kesenjangan

Perjalanan untuk berubah, tentu tak selalu mulus. Pasti ada penghambat yang menyertai usaha yang tengah dilakukan. Sebab itulah, Fahd menempatkan ini sebagai tantangan yang harus diperhitungkan segala kemungkinannya. Tantangan itu ialah potensi adanya disparitas atau kesenjangan kesadaran.

Hal ini cukup kuat karena selain terjadi kesenjangan ekonomi yang begitu lebar, Indonesia juga merupakan negara kepulauan. Konsekuensinya, ada jarak yang memisahkan satu pulau dengan pulau lain. Hal yang paling mudah untuk kita amati ialah soal pemerataan informasi. Meskipun telah terjadi digitalisasi informasi dan meluasnya jejaring internet, ternyata tidak serta merta membuat semua orang melek informasi.

Ada wilayah terisolasi, wilayah 3T, dan wilayah terdampak bencana yang masih terbatas jaringan internet, bahkan tidak dialiri listrik. Ini menjadi PR besar bagaimana menghadirkan pemerataan informasi di semua daerah tanpa diskriminasi dan tanpa kecuali.

Menyetel Ulang

Narasi dan imajinasi kebangsaan harus dihidupkan. Dengan begitu rakyat dan mula-mula negara harus memiliki kesadaran untuk membangun jembatan emas itu. Jembatan yang membawa perjalanan kita ke cita-cita bangsa yang adiluhung. Jangan sampai negara berjuang sendiri. Juga jangan sampai rakyat merasa ditinggal oleh pemimpin atau negaranya.

Fahd, sebagai seorang intelektual publik, melalui buku ini menguatkan tentang perlunya ada getaran batin kolektif untuk mencapai itu semua. Barangkali frekuensi getaran itulah yang perlu kita setel ulang agar bisa satu frekuensi untuk mencapai masa depan bangsa. Masa depan yang sama-sama kita cita-citakan.

Identitas Buku

Judul: 2045 Hz; Frekuensi Masa Depan Indonesia
Penulis: Fahd Pahdepie
Penerbit: KPG
Cetakan I: Desember 2025
Tebal: xi + 189
ISBN: 978-623-134-498-4

*Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Depok; Ketua IKABSI 2026-2030

Pasang Iklan-Mu di Sini (In Content)

Related Articles

Back to top button