Detik-Detik Jelang Akhir Ramadan
PDM DEPOK – Oleh: Muhsin MK
Ada yang menghitung hari. Sudah berapa harikah berpuasa? Tinggal berapa harikah shaum Ramadan? Ada pula yang tidak menghitung bilangannya. Tapi menghitung sudah berapa juz Al-Qur’an dibaca? Sudah berapa banyak sedekah dan infak yang dikeluarkan selama Ramadan. Dan banyak lagi hitung-hitungan ibadah lainnya.
Hari-hari jelang akhir Ramadhan juga beragam perhatian dan pikiran yang tercurahkan. Ini bisa menjadi amunisi untuk meningkatkan iman dan takwa menjelang finis ibadah shaum. Itu juga menjadi tantangan dan rintangan menjelang menuju garis finis. Jika tidak hati-hati mencermati justru akan membuat beribadah Ramadan menuju hari akhir yang baik (good ending/yaumul khusnul khair) terhalang. Bahkan gagal mencapai seperti apa yang diharapkan.
Tantangan yang terjadi menjelang finis bagi seorang pelari lebih berat dari saat sehabis start. Begitulah pula ibadah Ramadan. Ketika mulai start dilakukan semangat benar-benar membara. Berpuasa dengan sekuat tenaga. Shalat Tarawih dan memakmurkan masjid sedemikian giat dilakukan. Namun, menjelang finish Ramadan mulai berubah, sesuai tantangan dan rintangan yang dihadapinya.
Pertama, tuntutan pulang mudik bagi yang punya kampung halaman. Apalagi, mereka yang masih memiliki orang tua tercinta. Mau tidak mau perlu persiapan. Mulai dari uang dan kendaraan yang digunakan untuk biaya perjalanan. Bingkisan dan hadiah lebaran, amplop/angpao, buat yang akan dikunjungi. Saat berangkat bersama keluarga baik naik kendaraan umum atau pribadi, saat hari-hari Ramadhan tentu ada hambatan dalam beribadah, tidak seperti pada saat di rumah.
Kedua, tuntutan pakaian baru bagi keluarga tentu memerlukan uang tersendiri. Harga-harga barang jelang lebaran berbeda dengan hari-hari biasanya. Belum lagi saat mereka pergi ke tempat-tempat belanja, mall atau pasar ada hambatan dalam beribadah Ramadhan. Kelelahan bisa terjadi pada saat-saat mencari kebutuhan yang sesuai dengan harapan dan keinginan. Ini juga merupakan suatu hambatan tersendiri dalam beribadah Ramadan. Sejatinya akhir Ramadan mendekatkan diri pada Allah, dengan iktikaf di masjid. Ini malah sebaliknya.
Ketiga, kebutuhan makanan lebaran membuat kesibukan tersendiri bagi keluarga muslim di akhir bulan Ramadhan. Kesibukan ini pun dapat menguras energi jasmani dan rohani. Urusan belanjanya di mana yang cocok. Keadaan uang cukup atau tidak untuk belanja yang diinginkan. Jika makanan dimasak sendiri memerlukan waktu tersendiri. Belum lagi makanan untuk diberikan kepada kerabat, tetangga dan handai taulan memerlukannya energi dan finansial tidak sedikit.
Padahal Rasulullah SAW mengingatkan pada istri dan keluarganya, bahwa pada jelang akhir Ramadhan, kencangkan ikat pinggang. Sebagaimana hadits dari bunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika (beliau) memasuki (hari-hari) 10 Ramadan terakhir, beliau mengencangkan ikat pinggangnya, (benar-benar) menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).
Saat jelang finish Ramadan, Rasullullah justru menyuruh istrinya beribadah kepada Allah pada saat itu, bukan menyuruh yang lainnya. Artinya beliau mengajarkan kepada umat Islam, bahwa pada detik-detik jelang akhir Ramadan, untuk mengurangi aktivitas dunia, termasuk urusan perut, faraj dan kebutuhan material lainnya. Ibadah dan persiapan akhirat seharusnya yang lebih diutamakan.
Jelang finis Ramadan yang perlu dikencangkan bukan hanya ikat pinggang, tapi juga ketaatannya dalam beribadah dan meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Itikaf di laksanakan di masjid. Melakukan aktivitas shalat malam, baik setalah isya maupun jam dua/tiga malam kembali menghadap Nya. Selain itu mengkhatamkan Al-Qur’an, membayar zakat dan fitrah dan umrah bagi yang memiliki kelapangan uang, waktu dan kesempatan. Hal-hal utama ini yang perlu dikedepankan dari pada urusan duniawi yang ada batasnya.
Pulang mudik bisa dilakukan kapan saja. Namun, Ramadan tidak bisa, kecuali setahun sekali. Itu pun belum tentu setiap muslim berjumpa dengannya di masa yang akan datang.



