PDM DEPOK – Oleh: Ust. Imamudin Muchtar, M.Si.*

Melakukan perjalanan/safar merupakan satu hal yang sering dilakukan oleh kaum muslimin, tidak terkecuali warga persyarikatan Muhammadiyah, karena acara acara seperti Muktamar dari setiap ortom selaku dilakukan di tempat yang berbeda beda, atau agenda silaturahim ke keluarga sehingga mengharuskan untuk melakukan perjalanan, baik dengan pesawat, kapal air, kendaraan roda empat atau dua.

Islam sebagai agama yang sempurna tentu mengatur perihal safar dan adab-adabnya, baik sebelum, saat hingga selesai melakukan perjalanan. Di antara tuntunan agam dalam melakukan safar adalah melaksanakan shalat dua rakaat sebelum berangkat safar/keluar rumah dan setelah safar sebelum sampai ke rumah.

Perihal shalat sunah safar disebutkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dalam HPT jilid 1 hal 320 tatkala menyebutkan macam-macam shalat Tathawwu’.  Di antara dalil akan kesunnahannya ialah:

Pertama:

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: “جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، إني أريد أن أخرج إلى البحرين في تجارة، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (صل ركعتين) ” (رواه الطبراني في الكبير)

Dari Ibnu Mas’ūd berkata: pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Ya Rasulullah, saya hendak pergi ke Bahrain untuk urusan dagang”. Lalu Rasulullah menyuruh orang itu: “Pergilah shalat 2 raka’at” [HR. Thabrāniyy dalam Al-Kabīr].[1]

Kedua:

أن صلى الله عليه وسلم أنه قال: إذا خرجت من منزلك فصل ركعتين يمنعانك من مخرج السوء، وإذا دخلت إلى منزلك فصل ركعتين يمنعانك من مدخل السوء. رواه البزار وغيره. وصححه الشيخ الألباني في السلسلة الصحيحة.

“Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukan shalat dua rakaat yang dengan ini ia akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.” (HR Al-Bazar dan disahihkan oleh Al-Albāniyy dalam silsilah hadis sahih)[2]

Ketiga:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنْزِلُ مَنْزِلًا إِلَّا وَدَّعَهُ بِرَكْعَتَيْنِ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ

Dari Anas bin Mālik berkata, bahwa Nabi SAW tidaklah berhenti di suatu tempat dan meninggalkannya, kecuali dengan melakukan shalat sunah dua rakaat. (HR Al-Hakim)[3]

Keempat:

عَنِ الْمُطْعِمِ بْنِ الْمِقْدَامٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ( مَا خَلَفَ عَبْدٌ عَلَى أَهْلِهِ أَفْضَلَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ يَرْكَعُهُمَا عِنْدَهُمْ حِينَ يُرِيدُ سَفَرًا) .

Dari Muṭ’im bin Al-Miqdam menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tidaklah ada hal yang sangat utama bagi seseorang yang hendak meninggalkan sesuatu pada keluarganya melebihi shalat 2 raka’at di tengah mereka kalau ia hendak bepergian”

Al-Imām Al-Munāwiyy ketika menjelaskan hadits diatas menyatakan bahwa kesunnahan shalat sebelum keluar rumah karena safar atau yang lainnya sudah tercapai dengan shalat fardhu ataupun sunnah yang lainnya. [4].

Kesunnahan shalat ini juga merupakan pendapat ulama lintas generasi dan mazhab sebagaimana Al-Imām At-ṭahṭāwiyy dari kalangan hanafiyah[5], Al-Imam An-Nafrāwiyy dari kalangan mālikiyah[6], Al-Imām An-Nawawiyy dari kalangan Syāfi’iyyah[7] dan Ibnu Muflih dari kalangan hanābilah[8] .

Demikian juga disunnahkan melaksanakan shalat sunah dua rakaat di masjid ketika pulang dari bepergian sebelum memasuki rumah. Sebagaimana Dari Ka’ab bin Mālik Raḍiyallahu ‘anhu, dia berkata:

أَنَّ النَّبيَّ صلَّى الله عليه وسَلَّم كان إذا قَدِمَ من سفر بدأ بالمسجِدِ فركع فيه ركعتين ثُمَّ جلس

“Nabi SAW jika beliau pulang dari safar, beliau mendahulukan masuk masjid kemudian sholat dua rakaat di masjid kemudian duduk.” (HR Bukhāri)[9].

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما, أن رسول الله صلى الله عليه وسلم حين أقبل من حجته دخل المدينة فأناخ على باب مسجده ثم دخل فركع فيه فركعتين ثم انصرف إلى بيته

Dari Ibnu Umar Raḍiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya Rasulullah SAW datang ke Madinah setelah pulang dari ibadah Haji, lalu Rasulullah menuju ke pintu masjid, lalu beliau masuk ke masjid dan mengerjakan sholat dua raka’at, setelah itu beliau pulang ke rumah..” (HR. Abu Dāwud)[10].

عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَقْدَمُ مِنْ سَفَرٍ إِلَّا نَهَارًا فِي الضُّحَى فَإِذَا قَدِمَ بَدَأَ بِالْمَسْجِدِ فَصَلَّى فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ جَلَسَ فِيهِ

Artinya: Diriwayatkan dari Ka’b bin Malik bahwa kebiasaan Rasulullah pulang dari bepergian itu pada waktu dhuha, lalu beliau menuju ke masjid melaksanakan shalat sunah dua rakaat dan duduk di dalam masjid. (HR Muslim)[11]

عَنْ مُحَارِبٍ، سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ، يَقُولُ:  اشْتَرَى مِنِّي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعِيرًا، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ أَمَرَنِي أَنْ آتِيَ الْمَسْجِدَ، فَأُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ

Hadits riwayat Jabir, ia berkata, Rasulullah membeli untaku, sesampainya di Madinah, Rasulullah memerintahkan untuk mendatangi masjid lalu shalat dua rakaat.[HR  Muslim][12].

Al-Imam An-Nawawiyy ketika menjelaskan hadis jabir di atas menyatakan bahwa:

في هذه الأحاديث استحباب ركعتين للقادم من سفره في المسجد أول قدومه ، وهذه الصلاة مقصودة للقدوم من السفر ، لا أنها تحية المسجد

Hadits ini merupakan dalil dianjurkan shalat sunah dua rakaat di masjid bagi orang yang baru datang dari bepergian, dan shalat ini memang yang dimaksud qudūm minassafar (datang dari safar), bukan tahiyyatul masjid.[13]

Dari hadis hadis yang telah disebutkan diatas maka disimpulkan bahwa siapapun yang hendak melaksanakan safar/perjalanan maka disunnahkan untuk shalat sunah dua rakaat di rumahnya. Demikian juga ketika pulang disunahkan untuk shalat sunah dua rakaat terlebih dahulu di masjid sekitar rumahnya.

*Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kota Depok

[1] . At-Tabaraniyy (w 360 h), Al- Mu’jam Al-Kabiir , jilid 10, Hal 52, Dar Ibnu Taimiyah

[2] . Nasiruddin Al Albaniyy  (w 1420 H, Silsilah hadits Sahih, jilid 3 hal 397

[3] . Al-Hākim (w 405 h), Al-Mustadrak, jilid 1, hal 460.

[4] . Al-Munāwiyy (w 1031 h), Faiḍul qādīr, Dār Al-ma’rifah, jilid 1, hal 334.

[5] . At-ṭahṭāwiyy (w 1231 h) Hāsyiyah At-ṭahṭāwiyy, jilid 1, hal 265 .

[6] . Sālim An-Nafrāwiyy (w 1126 h), Al-Fawākih Ad-Dawāniyy, jilid 2, hal 838.

[7] . An-Nawawiyy (w 676 h), Al-Majmu’ Syarh Al-muhazzab, jilid 4, hal 387 .

[8] . Ibnu Muflih ( w 763 h), Al-Furū’, jilid 2 hal 373 .

[9] . Al- Bukhāri (w 256 h), Sāhīh Al-Bukhārīyy, jilid 1 hal 96.

[10] . Abu Dāwud (w 275 H), Sunan Abi Dāwud, jilid 3, hal 91 .

[11] . Muslim (w 261 h), ṣahīh Muslim, jilid 1 hal 496

[12] . Muslim (w 261 h), ṣahīh Muslim, jilid 1 hal 496

[13] . Al-Imām An-Nawaiyy (w 676 h) Syarh ṣahīh Muslim, jilid 5, hal 320.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini