Webinar Nasional Literasi Digital secara daring melalui Zoom Meeting dan live streaming YouTube yang digelar Komunitas Laskar Impian (KLI), Sabtu (26/8/2023).

PDM DEPOK, PALEMBANG – Penguatan literasi digital di kalangan anak muda diperlukan di era gempuran teknologi informasi seperti sekarang ini. Pasalnya, warganet di Indonesia masih belum bisa menggunakan internet secara bijak, sehingga banyak terjadi hal negatif. Hal ini disampaikan Ahmad Soleh dalam kegiatan Webinar Nasional Literasi Digital secara daring melalui Zoom Meeting dan live streaming YouTube yang digelar Komunitas Laskar Impian (KLI), Sabtu (26/8/2023).

Dia mengungkapkan sejumlah kasus yang beberapa waktu lalu viral, antara lain soal mahasiswa KKN yang harus dipulangkan akibat konten di media sosialnya. “Mahasiswa KKN itu bermasalah karena kontennya membuat warga desa tersinggung. Seharusnya ia menyadari ada konsekuensi dari konten yang ia buat, sehingga bisa lebih bijak menimbang konten tersebut melukai orang atau tidak, berpotensi buruk atau tidak,” ungkapnya.

Soleh juga mengungkapkan, bermedsos harus bijak, cerdas, dan tetap mengedepankan adab. “Gunakan medsos untuk mengonsumsi, membuat, dan menyebarkan konten positif, edukatif, dan kreatif. Media sosial juga merupakan ruang berkreasi yang dapat digunakan untuk memberikan pengaruh positif kepada publik,” pesannya.

Dia berharap publik Indonesia dapat lebih melek literasi dan mampu menggunakan medsos dengan sebagaimana mestinya. “Saya berharap Komunitas Laskar Impian terus berkomitmen menyebarkan virus-virus literasi dan nalar intelektual kepada seluruh lapisan anak muda,” ungkap Soleh.

Dalam kegiatan yang mengusung tema, “Literasi Digital: Bijak dalam Menggunakan Sosial Media” tersebut, sekretaris MPI PDM Kota Depok yang juga pegiat literasi dan penulis itu mengatakan bahwa ruang diskusi semacam ini sangat diperlukan untuk menambah wawasan mengenai literasi digital dan menggembirakan literasi.

“Literasi digital penting karena kita hidup di era digital. Tidak melulu soal menggunakan perangkat secara operasional, melainkan juga bagaimana menjaga kemanusiaan di tengah gempuran teknologi,” ungkap dia.

Menurut dia, banyak hal negatif di ruang digital disebabkan kurangnya penguasaan literasi digital. “Menanggulangi dampak negatifnya dengan menguatkan literasi digital. Hal ini bisa dilakukan secara mandiri, melalui komunitas, maupun dengan program pemerintah. Penguatan literasi berperan penting karena banyak hal negatif terjadi karena kita tak menguasai literasi digital,” ujarnya.

Ketua Umum Komunitas Laskar Impian (KLI), Prely Yulianto, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan program kerja dari Divisi Literasi Digital kolaborasi dengan Divisi Riset dan Kajian Keilmuan upaya membangun paradigma intelektual sebagaimana tujuan Komunitas Laskar Impian.

Prely mengungkapkan, komunitas Laskar Impian berdiri sejak 20 Mei 2017 berupaya terus membangun paradigma intelektual. Komunitas ini bergerak pada 3 bidang yakni intelektual, sosial, dan akidah. KLI, menurut dia, memiliki tanggungan terhadap problem kebangsaan yang mengalami persebaran nilai informasi berupa hoax yang merajalela di era post-truth (pascakebenaran) ini.

“Webinar literasi digital sangatlah penting agar tidak ceroboh menggunakan media sosial dan bisa tetap mawas diri sehingga bijak bermedia. KLI berkomitmen sebagai mortir mercusuar peradaban bangsa mencerdaskan kehidupan bangsa melalui lapak keilmuan seperti webinar kali ini. KLI akan terus membangun paradigma intelektual, dan menebar kebaikan, menjadikan pemuda dan mahasiswa utamanya, masyarakat umumnya tercerahkan,” ungkap Prely. (PY)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini