PDM DEPOK – Oleh: Mursin

Mengenang jasa para pendahulu di Muhammadiyah perlu dihidupkan. Generasi penerus dan pelanjut sebaiknya tidak melupakan. Apalagi, bagi para tokoh perintis Persyarikatan. Meskipun, mereka tidak mengharapkan. Apalagi suatu penghargaan. Namun, mengenang perjuangan dan jasa jasa mereka perlu dilakukan. Diantaranya lewat tulisan.

Sa’adun Saleh, perintis Muhammadiyah di Abadijaya Kota Depok salah satunya. Ustadz asal Wonosobo ini yang mendakwahkan faham Muhammadiyah di Depok Timur setelah Perumnas didirikan (1977) dan banyak warga yang tinggal dan menempati rumah kreditnya (1978). Umumnya mereka pindahan dari Jakarta.

Merintis Muhammadiyah di Perumnas

Sebagai ustadz berpaham Muhammadiyah, Sa’adun Saleh mulai berkiprah setelah tinggal di Perumnas itu. Jamaah pengajiannya, terutama yang berlatar belakang Muhammadiyah dari Jakarta dan daerah lainnya mulai bertemu. Lama-lama mereka bersatu. Bermusyawarah membentuk Ranting Muhammadiyah Depok Timur tanpa ragu.

Karena daerah tempat tinggal Sa’adun dan warga Muhammadiyah di Perumnas II Depok Timur, maka nama yang digunakan ya Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Depok Timur, dengan diketuai oleh Sa’adun Saleh sendiri. Ia dibantu oleh beberapa orang pimpinan yang sebagian besar di Jalan Danau Tempe tinggalnya.

Salah satu amal usaha yang didirikan pada masanya adalah TK Aisiyah Bustanul Athfal (ABA). Tanah milik TK ada 500 meter persegi awalnya. Namun, sebagian tanah dikuasai oleh Kepala Sekolah ABA pertama. Sebagian tanah lagi tetap menjadi tempat kegiatan TK ABA, tetapi tidak jelas surat menyuratnya. PRM Depok Timur pengganti Sa’adun saat itu juga tidak memegang surat tanahnya.

Saat perumahan BTN mulai dibangun di area Perumnas Depok Timur yang masih kosong, warga Muhammadiyah pun bertambah jumlahnya. Saat Depok menjadi Kota Administratif (Kotip) tahun 1999, Perumnas II di bagi dua. Perumnas II Depok Tengah, masuk wilayah Kelurahan Mekarjaya. Dan Perumnas II Depok Timur, masuk wilayah Kelurahan Abadijaya dan Baktijaya.

PRM Berganti Nama

Karena menyesuaikan dengan nama kelurahan, PRM Depok Timur berganti nama menjadi PRM Abadijaya. Kepemimpinan Sa’adun pun sudah selesai masa baktinya. Maka, atas inisiatif beberapa jamaah pengajian, di antaranya Ustadz Halimi (asal Bumi Ayu, Brebes), Agus (asal Tegal, pendekar Tapak Suci Depok), Reno Asfia (Ketua Pimpinan Ranting Aisyiyah Depok Timur), dan lainnya.

Mereka bersepakat mengadakan Musyawarah Ranting (Musyran) Muhammadiyah Abadijaya (1990). Tempat acara di aula kantor Kelurahan Abadijaya. Penggunaan aula berkat hubungan baik dengan lurahnya. Sebelumnya biasa dipakai untuk pengajian Pimpinan Muhammadiyah bersama anggota.

Saat pemilihan ditetapkan tiga orang kandidat ketua, yakni Dr. Hasan Rahmat, Maulani MK, dan Muhsin MK. Ketiganya berasal dari Muhammadiyah di Jakarta. Maulani MK malah dikenal sebagai pendekar Tapak Suci dan juga seorang ustadz di lingkungannya. Hasan Rahmat dosen Fak MIPA UI, berasal dari keluarga Muhammadiyah di Bukit Duri Jakarta. Muhsin MK sebagai aktivis Pemuda Muhammadiyah di Jakarta.

Dalam pemilihan Ketua PRM Abadijaya saat itu terpilih Muhsin MK. Dengan Maulani MK tidak ada hubungan keluarga. Dalam kepengurusan PRM Abadijaya (1990-1995), Maulani MK dan Dr. Hasan Rahmat duduk sebagai wakil ketua. Dalam kepengurusan periode ini tidak satu pun amal usaha yang berhasil didirikan. Kecuali kegiatan shalat Id di Jalan Baru (Proklamasi) Depok Timur, yang hingga kini masih tetap berjalan setiap tahunnya.

Kiprah Mubaligh Sejati

Setelah tidak memimpin PRM, Sa’adun masuk dalam kepengurusan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kecamatan Sukmajaya. Sebagai mubaligh, ia tetap aktif mengisi pengajian di ranting-ranting di Kec. Sukmajaya. Di wilayah ini, PRM yang sudah berdiri, antara lain PRM Abadi jaya, PRM Bakti jaya, PRM  Cisalak, PRM Sukamaju, PRM Cikumpa, PRM Bakti, dan PRM Mekarjaya.

Selain itu, Ustadz Sa’adun juga mengisi pengajian Aisyiyah yang diadakan Pimpinan Ranting Aisyiyah se-Kec.Sukmajaya. Di PRM Abadijaya pernah ia tidak diminta mengisi pengajian karena poligami, punya istri muda. Ketua PRM Abadijaya, Muhsin MK, yang diminta mengisinya. Lalu diceritakannya bahwa KH. Ahmad Dahlan itu berpoligami juga.

Sekalipun Sa’adun pindah rumah di daerah Cibinong, aktivitasnya tetap di Depok dan sekitarnya. Apalagi, saat itu ia masih duduk dalam kepengurusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok sejak periode 1995-2000 hingga wafatnya. Sebagai pimpinan Persyarikatan ia sedemikian aktif melaksanakan tugas tugasnya. Ia dipercaya mengurusi bidang tabligh, sesuai dengan profesinya.

Sebagai Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Depok Sa’adun pun aktif membina PCM-PCM yang ada. Waktu itu sudah berdiri, PCM Beji, PCM Pancoran Mas, PCM Depok Barat, PCM Sawangan, PCM Cimanggis, dan PCM Sukmajaya. Selain mengisi pengajian di PCM itu semua. Ia juga aktif mengisi khutbah dan membina masjid-masjid Muhammadiyah di Depok dan jamaahnya. Kemahirannya mengemudi mobil membuatnya bisa datang sendiri tanpa dijemput ke lokasi yang ditujunya.

Berdiri Klinik PKU

Alhamdulillah, TK ABA 10 Abadijaya sebagai amal usaha peninggalannya. Namun, surat-surat tanahnya yang belum selesai, akhirnya dapat diselesaikan juga. Diurus oleh Ketua PRA Abadijaya 1995-2000, Atimah HK dan pengurus lainnya. Dengan jalan melalui akta wakaf dan disahkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kec. Sukmajaya. Setelah itu, segera diselesaikan PRA Abadijaya surat sertifikat tanah wakafnya.

TK ABA 10 Abadijaya yang dirintisnya terus berkembang maju. Bangunan lama sudah dijadikan Klinik PKU Muhammadiyah Cabang Sukmajaya. TK ABA 10 sudah memiliki gedung sendiri dua lantai tidak jauh dari tempat yang lama. Murid-muridnya terus bertambah jumlahnya. Malah PRA Abadijaya sudah punya TK ABA 27 yang baru, dibangun dua lantai juga. Bangunan sekolahnya di dekat Pasar Agung Kec. Sukmajaya.

Saat Ustadz Sa’adun wafat, banyak warga Muhammadiyah Depok yang datang melayat di rumah duka. Jasa dan perannya dalam gerakan persyarikatan Muhammadiyah di Depok tak bisa dilupakan begitu saja. Kelebihan dan kekurangan pasti ada. Kelebihannya, semoga menjadi amal ibadahnya. Kekurangannya, semoga generasi penerus yang dapat memperbaikinya.

Depok, 30 Maret 2024

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini