Ramadan sebagai Bulan Berliterasi
PDM DEPOK – Oleh: Ahmad Soleh*
Tidak keliru jika kita katakan bulan Ramadan sebagai bulan berliterasi. Pada bulan penuh berkah ini, umat Muslim kerap mengalami lonjakan semangat untuk membaca kitab suci Al-Qur’an. Bahkan, ada yang sangat bersemangat untuk mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali.
Ramadan, di dalamnya terdapat peristiwa bersejarah bagi spiritualitas umat Muslim. Di bulan inilah Al-Qur’an diturunkan secara bertahap. Peristiwa yang kerap kita sebut sebagai Nuzulul Qur’an inilah yang menjadi dasar dan penegasan Ramadan sebagai bulan berliterasi.
Wahyu pertama yang diterima Rasulullah Saw di Gua Hira pada tanggal 17 Ramadan adalah QS. Al-’Alaq ayat 1-5. Surah ini dengan tegas memerintahkan kita untuk berliterasi. Mari simak ayatnya berikut ini:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-’Alaq [19]: 1-5).
Perintah “Iqra!” secara makna merupakan seruan untuk membaca teks sekaligus membaca konteks dan fenomena. Kita diperintahkan untuk dapat “membaca” secara mendalam, memahami, menangkap konteks, mencermati menganalisis.
Dalam konteks Muslim secara umum, ayat ini memberikan seruan, semangat, arahan agar dapat terbuka terhadap segala macam pengetahuan. Islam tidak bertentangan dengan perkembangan pengetahuan. Membaca adalah jalan untuk memahami berbagai perkembangan itu.
Dalam tradisi intelektual-akademis, membaca dapat dimaknai sebagai kegiatan meneliti, mengobservasi, membongkar kembali teori. Ada semangat intelektual di dalamnya. Sebab itu, Allah Swt dalam Al-Qur’an Surah Al-Mujadalah ayat 11, menegaskan akan meninggikan derajat orang beriman dan berilmu.
Era Clipper dan Kelesuan Literasi
Kita hidup di era video vertikal. Banyak orang terpaku dalam layar berlama-lama. Entah konten apa yang akan kita temukan. Algoritma membawa kita ke dalam pusaran informasi yang begitu acak, tetapi telah diatur berdasarkan data-data digital kita.
Clipper atau video-video pendek menjadi sumber informasi yang begitu masif saat ini. Kebiasaan menonton video pendek terlalu lama dapat berdampak terhadap kinerja otak kita. Kita jadi sulit berkonsentrasi, sulit untuk fokus, dan gelisah saat sekejap saja tidak menatap layar. Layar gawai dengan ragam konten di dalamnya seolah telah menjadi candu.
Secara tidak sadar hal ini juga memengaruhi kemampuan membaca kita. Secara kuantitas, jelas waktu kita untuk membaca jadi semakin sedikit karena banyak waktu dihabiskan dengan menatap layar. Namun, lebih mengerikan lagi adalah konten-konten yang telah menjadi candu itu membuat semacam tembok besar di kepala kita.
Akibatnya, kita kehilangan daya baca. Sekadar melafalkan huruf mungkin bisa, tetapi untuk menangkap maknanya kadang membutuhkan usaha lebih. Kita membaca berulang-ulang. Paham tidak, hafal pun tidak. Kinerja otak menurun drastis.
Maka dari itu, kelesuan literasi ini harus kita atasi. Mari gunakan Ramadan ini sebagai momentum membangun kembali budaya literasi itu. Membaca Al-Qur’an barangkali bisa menjadi healing terbaik untuk kita. Di samping juga dilengkapi dengan membaca terjemahan atau tafsirnya. Sedikit-sedikit saja tak apa. Yang penting konsisten dilakukan.
1 Ramadan 1447 Hijriyah
*Sekretaris MPI PDM Kota Depok, Anggota Bidang SBO PDPM Kota Depok



