PDM DEPOK – Oleh: Erni Nurmayanti

Masjid Al-Furqon Meruyung, menapaki pelatarannya serasa sedang kembali ke masa silam, berpuluh tahun lalu, aku tumbuh besar bersamanya. Aku menghabiskan banyak waktu dengan membaca Qur’an dan buku-buku Islami di dalamnya. Selain itu, aku pun menulis banyak puisi yang masih tersimpan dalam diary hingga saat ini. Masjid ini  menjadi saksi atas apa yang pernah kulalui dalam perjalanan hidup yang panjang dan berliku.

Masjid ini dibangun oleh Para Tetua, pendahulu Muhammadiyah Ranting Meruyung, dengan tokoh sentralnya Kong Haji Muhidin. Kong Idin begitu aku memanggilnya, adalah adik dari kakek dari garis bapak. Pengajian di Masjid ini  digelar berkala, menghadirkan guru-guru yang sangat menginspirasi. Pada saat itu, usiaku masih SD, tapi sangat tertarik dengan ceramah-ceramah Ustaz H. M Awwab Utsman dari Rawadenok. Caranya menyampaikan ajaran Islam dengan metode tadabbur makna ayat per ayat dan kata per kata sangat mengesankan.

Selain itu, ada Ustaz Mujtaba kami memanggilnya Ustaz Jahaba, aku dan beberapa kawan rutin membuat halaqah Qur’an  setiap bakda Maghrib. Kami melingkar membaca Qur’an bergantian dihadapannya. Walaupun matanya tidak melihat, tapi selalu tahu kalau kami salah dalam membacanya. Masih terbayang beliau selalu duduk bersandar di tempat yang sama dan meletakkan kopiah di lututnya, sambil sesekali berdehem kalau kami salah baca.

Pada tahun 1997, di masjid ini, Aku bersama kawan-kawan Nasyiatul Aisyiyah Meruyung mendirikan TPA yang diberi nama Nasyiatul ‘Ulum. Banyak santri kami yang berhasil, dari tidak bisa membaca Al-Qur’an menjadi mahir. Bahkan, saat ini banyak di antara santri kami menjadi guru, guru bermurid, murid bermurid, semoga menjadi amal jariyah yang tak putus pahalanya.

Ibu Nurhasanah, Pimpinan Cabang Aisyiyah Limo, menyambutku. Beliaulah sahabat seperjuangan pada saat mendirikan TPA dahulu. Hari ini, Ahad 10 Desember 2023, aku diminta oleh beliau untuk mengisi tausiyah dalam pengajian rutin tiga bulanan. Alhamdulillah, Pengajian dihadiri oleh sekitar 45 orang dari Aisyiyah dan simpatisan. Seluruh Ranting yang tergabung dalam Cabang Aisyiyah Limo, yaitu Ranting Meruyung sebagai tuan rumah, Ranting Cinere, dan Ranting Bojong hadir dalam pengajian tersebut.

Ibu-ibu tampak antusias menyimak kajian karena pilihan tema yang disampaikan sangat dekat dengan kehidupan mereka, yaitu tentang bahagia. Bahagia adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kepuasan. Sikap syukur dan Ikhlas dapat menghadirkan kebahagiaan. Ibu-ibu Aisyiyah harus bahagia. Al Jannatu tahta aqdamil ummahat. Surga di bawah telapak kaki ibu. Alih-alih mendapatkan baiti jannati, yang terjadi malah berasa di neraka disebabkan ibu yang tidak bahagia. Naudzubillah mindzalik.

Selesai acara, Mak Haji Ana, beliau adalah istri Almarhum H Mujtaba, menghampiri dan memelukku. “Alhamdulillah, Si Eneng yang waktu kecilnya emak tahu banget, sekarang sudah jadi guru.” “MasyaAllah semua berkat doanya  Mak Haji… jangan putus doanya ya Mak..!” Aku terharu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini