Khutbah Idul Fitri 1447 H: Dari Madrasah Ramadhan Menuju Kebangkitan Umat


Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Jama’ah sidang shalat id rahimakumullah
Pagi ini adalah pagi yang sangat istimewa. Pagi yang dipenuhi dengan gema takbir yang mengguncang langit dan bumi. Pagi yang dipenuhi dengan rasa syukur karena kita telah menyelesaikan satu perjalanan spiritual yang sangat agung, yaitu perjalanan ibadah selama bulan Ramadhan.
Sebulan penuh kita telah berpuasa, menahan lapar dan dahaga, menahan amarah, mengendalikan hawa nafsu, memperbanyak doa, memperbanyak istighfar, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, serta memperbanyak sedekah dan amal kebaikan. Hari ini kita berkumpul dalam keadaan sehat, aman, dan penuh kebahagiaan untuk merayakan Idul Fitri.
Namun pada saat yang sama, kita juga menyadari bahwa tidak semua saudara kita di berbagai penjuru dunia dapat merasakan kebahagiaan yang sama. Di berbagai wilayah dunia masih terdapat saudara-saudara kita yang menjalani kehidupan dalam suasana konflik, peperangan, dan penderitaan kemanusiaan.
Di sebagian wilayah, anak-anak kehilangan orang tuanya akibat peperangan. Rumah-rumah hancur akibat serangan. Masyarakat sipil hidup dalam ketakutan akibat konflik yang berkepanjangan.
Situasi dunia hari ini menunjukkan bahwa umat manusia masih menghadapi berbagai ketidakadilan dan ketegangan geopolitik yang melibatkan berbagai kekuatan besar dunia, agresi amerika serikat dan Israel, ke negara Iran, menimbulkan dampak besar bagi stabilitas kawasan dan dunia, juga penderitaan masyarakat sipil, instabilitas ekonomi, sosial, dan politik dunia.
Karena itu, Idul Fitri yang kita rayakan hari ini tidak hanya menjadi hari kegembiraan, tetapi juga harus menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian, persatuan, dan tanggung jawab umat Islam terhadap kemanusiaan dan keadilan dunia.
1. Hakikat Puasa: Membentuk Manusia Bertakwa
Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Jama’ah sidang shalat id rahimakumullahAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Seorang ulama besar, Al-Ghazali, menjelaskan bahwa taqwa adalah kemampuan manusia untuk menjaga dirinya dari segala sesuatu yang dapat menjauhkan dirinya dari keridhaan Allah.
Dengan demikian Ramadhan adalah madrasah spiritual yang mendidik manusia untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih jujur, lebih peduli terhadap sesama, dan lebih bertanggung jawab terhadap kehidupan.
2. Ramadhan sebagai Madrasah Integritas
Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Jamaah sidang shalat id rahimakumullah
Salah satu pelajaran terbesar yang diberikan oleh Ramadhan kepada umat Islam adalah integritas. Integritas berarti kejujuran, konsistensi antara ucapan dan perbuatan, serta kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap tindakan kita, baik ketika dilihat manusia maupun ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Puasa adalah ibadah yang sangat unik dibandingkan ibadah lainnya. Shalat dapat dilihat orang lain, zakat dapat diketahui orang lain, haji juga terlihat oleh manusia. Namun, puasa adalah ibadah yang sangat pribadi antara seorang hamba dengan Allah.
Seseorang bisa saja berpurapura berpuasa di hadapan manusia, tetapi sebenarnya ia makan atau minum secara sembunyisembunyi. Akan tetapi seorang mukmin yang sejati tidak akan melakukan hal itu, karena ia sadar bahwa Allah selalu mengetahui apa yang dilakukan oleh hamba-Nya. Karena itulah puasa menjadi latihan kejujuran yang sangat kuat bagi seorang muslim.
Rasulullah Saw menyampaikan dalam sebuah hadis qudsi:
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Allah berfirman: Semua amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa keistimewaan puasa dalam hadits ini menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah yang sangat bergantung pada kejujuran seorang hamba kepada Allah. Seorang ulama besar, Al-Ghazali, menjelaskan bahwa puasa yang sejati bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Puasa harus menjaga mata dari melihat yang haram, menjaga lisan dari berkata dusta, menjaga telinga dari mendengar keburukan, dan menjaga hati dari niat yang tidak baik.
Jika seseorang mampu menjaga semua itu, maka ia telah mencapai puasa yang melahirkan integritas moral. Selain itu Rasulullah Saw juga bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Oleh karena itu, Ramadhan sesungguhnya adalah madrasah integritas. Selama satu bulan penuh umat Islam dilatih untuk jujur kepada Allah, jujur kepada diri sendiri, dan jujur kepada sesama manusia.
Apabila nilai integritas ini benar-benar tertanam dalam diri umat Islam, maka ia akan tercermin dalam seluruh aspek kehidupan: dalam pekerjaan, dalam kepemimpinan, dalam aktivitas ekonomi, dalam kehidupan keluarga, bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Bangsa yang masyarakatnya memiliki integritas yang tinggi akan menjadi bangsa yang kuat dan bermartabat. Sebaliknya, bangsa yang kehilangan integritas akan mudah dilanda berbagai persoalan seperti korupsi, penipuan, ketidakadilan, dan hilangnya kepercayaan di tengah masyarakat.
Karena itu setelah Ramadhan berakhir, kita harus menjaga nilai-nilai integritas yang telah kita pelajari selama bulan suci tersebut. Jangan sampai kejujuran yang kita latih selama Ramadhan hilang begitu saja setelah Ramadhan berlalu.
Marilah kita jadikan Ramadhan sebagai titik awal untuk menjadi manusia yang lebih jujur, lebih amanah, dan lebih bertanggung jawab, sehingga kita tidak hanya menjadi pribadi yang saleh secara ibadah, tetapi juga menjadi pribadi yang membawa kebaikan bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
3. Ramadhan Menumbuhkan Empati Sosial
Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Jamaah sidang shalat id rahimakumullah
Salah satu hikmah besar dari ibadah puasa Ramadhan adalah menumbuhkan empati sosial, yaitu kemampuan merasakan penderitaan orang lain dan terdorong untuk membantu mereka.
Selama bulan Ramadhan, setiap muslim merasakan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Kondisi ini bukan sekadar ibadah ritual, tetapi juga pendidikan jiwa agar manusia dapat memahami bagaimana rasanya hidup dalam kekurangan.
Orang yang setiap hari hidup berkecukupan sering kali tidak merasakan bagaimana beratnya hidup orang yang tidak memiliki makanan yang cukup. Namun ketika ia berpuasa, ia mulai merasakan lapar, haus, dan kelemahan tubuh. Dari pengalaman inilah tumbuh rasa kasih sayang dan kepedulian kepada sesama manusia.
Karena itulah Ramadhan menjadi bulan di mana umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak sedekah dan membantu orang lain. Rasulullah Saw adalah teladan terbaik dalam hal ini. Dalam sebuah hadis disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ
“Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa tidak hanya melatih hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga memperkuat hubungan manusia dengan sesama manusia.
Puasa mendorong seseorang untuk berbagi makanan, memberi makan orang yang berbuka, membantu fakir miskin, dan memperhatikan kebutuhan masyarakat yang lemah. Rasulullah Saw juga bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan bahwa salah satu ciri orang yang beriman adalah mereka yang peduli kepada orang lain.
Allah berfirman:
وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا ٨
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8)
Karena itu, Ramadhan menjadi bulan yang sangat kuat dalam menumbuhkan solidaritas sosial di tengah masyarakat. Kita melihat bagaimana di bulan Ramadhan banyak orang yang berbagi makanan berbuka, memberikan sedekah kepada fakir miskin, membantu anak yatim, dan memperbanyak zakat serta infak.
Bahkan dalam syariat Islam terdapat kewajiban zakat fitrah yang harus dikeluarkan menjelang Idul Fitri agar kaum fakir miskin juga dapat merasakan kebahagiaan pada hari raya.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak menginginkan adanya kesenjangan sosial yang tajam di tengah masyarakat.
Dengan demikian, puasa Ramadhan bukan hanya ibadah yang bersifat spiritual, tetapi juga ibadah yang memiliki dampak sosial yang sangat besar. Ia mendidik umat Islam agar memiliki hati yang lembut, penuh kasih sayang, dan selalu siap membantu orang lain.
Apabila nilai empati sosial yang dilatih selama Ramadhan ini terus dijaga sepanjang tahun, maka masyarakat akan menjadi masyarakat yang penuh kepedulian, saling menolong, dan saling menguatkan.
Inilah salah satu hikmah besar dari puasa Ramadhan: membentuk manusia yang tidak hanya taat kepada Allah, tetapi juga peduli kepada sesama manusia.
4. Ramadhan Momentum Menguatkan Persatuan Umat
Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Jama’ah sidang shalat id rahimakumullah
Salah satu hikmah besar dari bulan Ramadhan adalah bahwa ia menjadi momentum yang sangat kuat untuk mempererat persatuan umat Islam. Pada bulan ini umat Islam di seluruh dunia melakukan ibadah yang sama, pada waktu yang sama, dengan tujuan yang sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, umat Islam di berbagai penjuru dunia menahan lapar dan dahaga secara bersama-sama. Ketika waktu maghrib tiba, jutaan kaum muslimin berbuka puasa secara serentak. Pada malam hari mereka berdiri bersama dalam shalat tarawih, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak doa dan dzikir.
Kesamaan ibadah ini menciptakan rasa kebersamaan yang sangat kuat di antara umat Islam. Perbedaan suku, bangsa, bahasa, dan status sosial menjadi tidak berarti ketika semua berdiri dalam satu barisan shalat yang sama. Inilah gambaran nyata dari persatuan umat yang diajarkan oleh Islam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ
“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)
Pada bulan Ramadhan kita melihat bagaimana semangat persatuan itu tampak dalam berbagai aktivitas keagamaan. Masjid-masjid menjadi ramai dengan jamaah yang datang dari berbagai latar belakang. Orang kaya dan orang miskin duduk bersama dalam majelis ilmu. Mereka berbuka puasa bersama tanpa memandang status sosial.
Semangat berbagi makanan berbuka, memberikan sedekah, serta memperhatikan kaum fakir miskin juga memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat. Rasulullah Saw menggambarkan kuatnya persaudaraan di antara orang-orang beriman dalam sabdanya:
مَثَلُ المُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وتَرَاحُمِهِمْ، وتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ شَيءٌ؛ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ بالسَّهَرِ وَالحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling peduli adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Para ulama juga menjelaskan bahwa perpecahan adalah salah satu sebab utama kelemahan umat. Ulama besar Islam, Ibn Taymiyyah, menegaskan bahwa kekuatan umat Islam terletak pada persatuan mereka, sedangkan perpecahan akan melemahkan mereka dalam menghadapi berbagai tantangan.
Karena itu Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan di antara sesama umat Islam. Jika selama ini terdapat perselisihan, permusuhan, atau kesalahpahaman, maka bulan Ramadhan dan Idul Fitri adalah waktu yang tepat untuk saling memaafkan dan mempererat kembali tali persaudaraan. Rasulullah Saw juga bersabda:
لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا
“Janganlah kalian saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Apabila semangat persatuan yang dilatih selama bulan Ramadhan ini terus dijaga setelah Ramadhan berlalu, maka umat Islam akan menjadi umat yang kuat, solid, dan mampu memberikan kontribusi besar bagi kemajuan masyarakat, bangsa, dan dunia.
Oleh karena itu marilah kita menjadikan Ramadhan sebagai titik awal untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, mempererat persaudaraan, serta menghindari segala bentuk perpecahan yang dapat melemahkan umat.
5. Sikap Umat Islam terhadap Ketidakadilan Dunia
Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Jama’ah sidang shalat id rahimakumullah
Di tengah suasana Idul Fitri yang penuh kebahagiaan ini, kita juga tidak boleh melupakan kenyataan bahwa dunia saat ini masih diliputi berbagai konflik dan ketidakadilan. Banyak masyarakat sipil yang menjadi korban peperangan, penjajahan, dan perebutan kekuasaan yang melibatkan negara-negara besar.
Salah satu konflik kemanusiaan yang paling banyak menyita perhatian dunia adalah konflik yang terjadi di wilayah Palestine, khususnya di Gaza. Selama bertahun-tahun wilayah ini mengalami kekerasan, blokade, serta berbagai tindakan militer yang menyebabkan penderitaan besar bagi masyarakat sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Tidak diragukan lagi bahwa konflik tersebut telah menimbulkan korban jiwa yang sangat besar, kehancuran infrastruktur, serta krisis kemanusiaan yang berkepanjangan. Rumah sakit, sekolah, dan tempat tinggal warga sering kali menjadi korban dalam konflik bersenjata tersebut.
Dalam dinamika geopolitik dunia, kebijakan negara besar seperti Amerika Serikat yang memberikan dukungan politik maupun militer kepada Israel sering menjadi sorotan dan kritik dari berbagai pihak di dunia internasional.
Banyak kalangan menilai bahwa dukungan tersebut berpengaruh terhadap keberlanjutan konflik dan memperumit upaya perdamaian yang adil. Namun sebagai umat Islam, sikap kita terhadap persoalan ini harus tetap dilandasi oleh nilai keadilan, kemanusiaan, dan kebijaksanaan sebagaimana yang diajarkan oleh Islam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8).
Islam mengajarkan bahwa penindasan terhadap siapa pun adalah sesuatu yang harus ditolak. Rasulullah Saw bersabda:
“Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu sikap umat Islam dalam menghadapi konflik dan ketidakadilan global harus diwujudkan dalam beberapa bentuk Menumbuhkan Kepedulian dan Solidaritas Kemanusiaan, mengupayakan Perdamaian dan Keadilan, Mendukung Upaya Kemanusiaan, dan Menjaga Persatuan dan Kedewasaan Sikap. Bahwa Dalam menyikapi konflik global, umat Islam harus tetap menjaga persatuan, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan, serta tetap mengedepankan nilai perdamaian.
6. Kondisi Bangsa Saat Ini dan Sikap Umat Islam
Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Jamaah sidang shalat id rahimakumullah
Selain memperhatikan persoalan dunia internasional, kita juga harus jujur melihat kondisi bangsa kita sendiri, yaitu Indonesia. Para pakar sosial, ekonomi, dan politik sering menyampaikan bahwa bangsa kita masih menghadapi sejumlah persoalan besar yang perlu mendapat perhatian bersama.
Permasalahan-permasalahan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat, termasuk umat Islam yang merupakan bagian terbesar dari bangsa ini. Permasalahan-permasalahan dimaksud antara lain:
- Korupsi dan Krisis Integritas,
- Ketimpangan Ekonomi dan Kemiskinan
- Polarisasi Sosial dan Perpecahan
- Tantangan Moral di Era Digital
Lalu, bagaimana Sikap Umat Islam Menghadapi Permasalahan Bangsa sebagai hasil didikan Madrasah Ramadhan?
Menghadapi berbagai persoalan bangsa tersebut, umat Islam seharusnya mengambil sikap yang konstruktif dan penuh tanggung jawab, antara lain:
- Menjadi Teladan dalam hal Akhlak dan sikap
- Aktif Berkontribusi dalam Pembangunan dengan segala kemampuan yang ada
- Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa
- Menguatkan Spirit Kepedulian Sosial
Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Jamaah sidang shalat id rahimakumullah
Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh akhlak dan kesadaran masyarakatnya. Jika umat Islam mampu menjaga nilai-nilai yang diajarkan oleh Ramadhan, seperti kejujuran, kepedulian sosial, dan persatuan, maka umat Islam dapat menjadi kekuatan moral yang besar dalam membangun bangsa yang adil, makmur, dan bermartabat.
Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Jamaah sidang shalat id rahimakumullah
Hari ini adalah hari kemenangan. Tetapi kemenangan yang sejati bukanlah sekadar kemenangan setelah menahan lapar dan dahaga selama sebulan penuh. Kemenangan yang sejati adalah ketika Ramadhan benar-benar meninggalkan jejak dalam kehidupan kita.
Jika setelah Ramadhan kita menjadi lebih rajin beribadah, lebih lembut kepada keluarga, lebih peduli kepada tetangga, lebih jujur dalam pekerjaan, dan lebih menjaga persatuan di tengah masyarakat, maka itulah tanda bahwa Ramadhan benar-benar telah mendidik kita.
Namun, jika setelah Ramadhan kehidupan kita kembali seperti semula, ibadah kita kembali berkurang, kepedulian kita kembali melemah, dan persaudaraan kita kembali renggang, maka sesungguhnya kita harus terus berusaha memperbaiki diri.
Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Jamaah sidang shalat id rahimakumullah
Hari ini kita juga diingatkan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Ramadhan datang dan pergi setiap tahun. Idul Fitri datang dan berlalu setiap tahun. Umur kita terus berjalan, waktu kita terus berkurang, dan suatu saat nanti kita semua akan kembali menghadap Allah.
Karena itu marilah kita jadikan momentum Idul Fitri ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbaiki hubungan kita dengan Allah, memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia, dan memperkuat komitmen kita untuk menjadi umat yang membawa kebaikan bagi dunia.Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita selama bulan Ramadhan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian, dan kembali kepada kehidupan yang penuh dengan kebaikan.
Dan semoga Allah memberikan kedamaian bagi negeri-negeri yang sedang dilanda konflik, memberikan pertolongan kepada orang-orang yang tertindas, serta menjadikan bangsa kita bangsa yang aman, damai, dan penuh keberkahan.
Akhirnya, marilah kita tutup khutbah ini dengan doa kiranya Allah mengabulkan doa-doa kita semua.





