
PDM DEPOK – Oleh: Hilma Soleha
Di depan makam KH. Ahmad Dahlan, para santri tertunduk takzim. Doa-doa dilantunkan dengan syahdu, mengirimkan doa sekaligus rasa hormat yang mendalam bagi sang pendiri. Suasana emosional begitu terasa, sejarah yang biasanya hanya mereka baca di lembar-lembar tebal buku Kemuhammadiyahan, kini terasa begitu nyata dan dekat.
“Melihat langsung makam beliau membuat kami teringat perjuangan beliau yang bisa kami rasakan saat ini, bahwa muhammadiyah sudah tumbuh sangat besar dan mengingatkan kami kembali bahwa pendidikan muhammadiyah untuk dakwah amar ma’ruf sehingga dalam pendidikan tidak hanya untuk mencerdaskan anak bangsa, lebih luas dari itu untuk menguatkan tauhid mereka sehingga mereka mampu mengamalkan ilmu yang telah didapatnya dan kami mendoakan seluruh para pendiri muhammadiyah agar apa yang diusahakannya menjadi amal jariyah untuk mereka,” ujar ustadz Baharudin M. Izhar.

Perjalanan spiritual ini tak lengkap tanpa mengunjungi makam Nyai Siti Walidah di kompleks Masjid Gedhe Kauman. Sebagai sosok di balik berdirinya Aisyiyah, Siti Walidah adalah simbol emansipasi dan pergerakan perempuan Muslim di Indonesia. Menziarahi makam beliau memberikan suntikan inspirasi tersendiri, khususnya bagi para santriwati Darul Arqam Depok, bahwa dakwah Islam berkemajuan tidak pernah memandang gender. Dua figur ini adalah jangkar moral yang mengajarkan bahwa hidup harus diwakafkan untuk kebermanfaatan umat.

Usai melangitkan doa di pusara para tokoh bangsa, rute ziarah beralih menjadi ruang kelas raksasa. Para santri bergerak menyusuri gang-gang sempit Kampung Kauman sebuah perkampungan yang menjadi laboratorium sosial tempat KH. Ahmad Dahlan pertama kali menyemaikan benih-benih pembaruannya.
Mereka mengunjungi Masjid Gedhe Kauman, melihat langgar-langgar tua, hingga mengamati arsitektur bangunan yang menjadi saksi bisu bagaimana penentuan arah kiblat pertama kali diluruskan, dan bagaimana sekolah modern Islam pertama kali didirikan di atas tanah Jawa.
Di sini, sejarah tidak lagi terasa membosankan. Para santri belajar langsung dari sumbernya. Mereka mencatat, berdiskusi, dan mendengarkan kisah-kisah heroisme masa lalu tentang bagaimana Muhammadiyah bertahan dari hantaman sinisme masa lampau hingga kini tumbuh menjadi organisasi Islam modern terbesar di dunia.
Kunjungan ke Yogyakarta ini mengonfirmasi satu hal bagi keluarga besar Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam Depok : Muhammadiyah bukanlah sekadar organisasi, melainkan sebuah kata kerja. Ia adalah gerakan yang menuntut aksi nyata, pendidikan yang mencerahkan, dan pelayanan sosial tanpa batas.
Saat bus-bus yang membawa rombongan santri Sawangan mulai bergerak meninggalkan Kota Pelajar, Yogyakarta tetap berdiri dengan segala kenangan sejarahnya. Namun, ada yang berbeda dari diri para santri yang pulang menuju Depok. Mereka tidak sekadar membawa oleh-oleh khas Jogja, melainkan membawa pulang ‘api’ semangat KH. Ahmad Dahlan dan Siti Walidah yang siap mereka nyalakan kembali di bilik-bilik pesantren demi mencetak kader yang kuat iman, luas ilmu, akhlak mulia, dan terampil beramal.



