Menangkal Krisis Reputasi Digital Muhammadiyah
PDM DEPOK, WATUBELAH — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat menyelenggarakan Pelatihan Manajemen Reputasi Digital Organisasi yang berlangsung selama tiga hari, 31 Juli hingga 2 Agustus 2026, di Hotel Lumina UMC, Watubelah, Cirebon, Jawa Barat. Pelatihan ini digelar untuk membekali pengurus dan pengelola media sosial PDM se-Jawa Barat dalam menghadapi dinamika komunikasi di era digital.
Pada hari kedua pelatihan, Jumat (1/8/2026), peserta mendapatkan materi bertajuk “Manajemen Krisis Reputasi Digital” yang disampaikan oleh tim Pusat Syiar Digital Muhammadiyah (PSDM) yang juga dosen ilmu komunikasi UMY, Erwan Sudiwijaya, MBA., MA. Dalam paparannya, Erwan menjelaskan empat jenis media yang perlu dipahami organisasi, yakni owned media atau media resmi si pembuat berita, paid media atau media berbayar, earned media atau media lainnya yang tidak terafiliasi, serta share media berupa komentar netizen yang juga berada di luar kendali organisasi.
Ia menegaskan, komentar di media sosial bukanlah sebuah settingan, melainkan respons alamiah atas persoalan nyata yang terjadi di masyarakat. “Media digital memiliki empat karakter utama, yaitu bersifat real time, meninggalkan jejak digital, mudah viral, dan sulit dikontrol,” ujarnya.

Erwan juga memaparkan bahwa di ruang digital, berbagai pemangku kepentingan turut terlibat dalam diskusi, mulai dari stakeholder internal, stakeholder eksternal media, stakeholder eksternal konsumen, hingga stakeholder eksternal pengamat energi. “Dalam merespons kritik maupun pertanyaan publik, organisasi harus tampil rasional dengan memperkuat argumen menggunakan data, serta memastikan jawaban disampaikan oleh pihak yang kredibel dan bertanggung jawab di bidangnya,” ujarnya.
Terkait konten media sosial yang kurang mendapat respons, Erwan menyarankan agar pengelola media aktif menelusuri kebutuhan dan hal-hal yang relevan bagi para pengikut (followers). Ia turut memaparkan tiga tahapan dalam menangani krisis reputasi digital, yaitu bersikap responsif dengan membangun narasi tandingan, bersikap terbuka dengan menunjuk satu juru bicara untuk menghindari blunder informasi, serta menunjukkan komitmen perbaikan melalui komunikasi yang lebih responsif dan transparan kepada publik.
Materi lain dalam pelatihan tersebut, “Perencanaan Reputasi Digital”, yang disampaikan oleh tim PSDM sekaligus konten kreator, Dr. Muhammad Najih Farihanto, S.I.Kom., M.A. Ia menyoroti pergeseran pola komunikasi dari analog menuju digital, di mana arus informasi kini tidak lagi berjalan satu arah, sehingga berpotensi menimbulkan kekacauan informasi. Sebab itulah, menurut dia, masyarakat kini tidak hanya berperan sebagai konsumen informasi, tetapi juga berpotensi menjadi produsen informasi.

Najih mengingatkan bahwa paradigma media massa analog yang hanya menonjolkan dokumentasi kegiatan organisasi perlu ditinggalkan, karena konten semacam itu cenderung minim penonton dan tidak menarik. “Kita harus angkat isu-isu yang sedang diperbincangkan masyarakat melalui akun-akun Muhammadiyah sesuai perspektif masing-masing, sekaligus diadopsi menjadi konten yang lebih menarik,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Najih juga menjelaskan konsep PESO Media, yang terdiri atas Paid media (media berbayar yang dapat bekerja sama dengan media massa maupun influencer), Earned media (akun personal yang turut membentuk citra organisasi), Shared media (interaksi dan penyebaran oleh publik), serta Owned media (media milik organisasi sendiri).
Selain itu, Najih mengungkap strategi Konten 4T sebagai pendekatan pembuatan konten, yaitu Tertawa (konten lucu), Terwakili (konten yang mewakili keresahan netizen), Tersindir (konten yang menyindir pihak tertentu secara implisit), dan Tercerahkan (konten berisi tips dan trik). “Pengelola media untuk memahami tren yang berkembang di masyarakat serta menerapkan pendekatan funnel marketing — dimulai dari tahap awareness hingga interest — dalam menyusun konten,” ujar Najih.
Najih menutup paparannya dengan menekankan pentingnya konten yang viral sebagai pintu masuk tercepat untuk membangun eksposur massal secara efisien, sekaligus mengajak peserta untuk memberi nilai tambah (value) dan unique selling point pada setiap konten yang diproduksi, alih-alih sekadar dokumentasi kegiatan semata.
Pelatihan Manajemen Reputasi Digital Organisasi ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengelola media Muhammadiyah se-Jawa Barat dalam merespons dinamika informasi digital secara lebih strategis, responsif, dan berbasis data. (soleh)



