Refleksi Hari Guru 2025: Meghargai Pilar Peradaban Bangsa di Tengah Tantangan Era Digital
PDMDEPOK.COM – Setiap tanggal 25 November, bangsa ini memperingati Hari Guru Nasional untuk mengenang jasa para pendidik yang telah mendedikasikan hidupnya bagi masa depan anak bangsa. Hari Guru bukan sekadar seremoni, tetapi sebuah momentum refleksi mengajak kita melihat lebih dalam betapa besar kontribusi guru dalam membangun peradaban, menanamkan nilai-nilai luhur, dan menuntun generasi pada cita-cita besar untuk masa depan Indonesia. Melalui ketulusan dan pengorbanan, para guru membentuk karakter anak didik dengan ilmu dan kebijaksanaan hidup.
Di balik penghormatan formal, profesi guru dan dosen masih sering menghadapi ketidakadilan sosial. Banyak candaan yang menggambarkan rendahnya apresiasi terhadap pendidik, mulai dari istilah “guru wagu tur kuru” hingga “dosen bukunya satu dus gajinya satu sen”. Meski terdengar lucu, candaan tersebut sesungguhnya mencerminkan realitas kesejahteraan yang kurang memadai. Betapa ironi ketika seseorang belajar dengan penuh perjuangan selama puluhan tahun untuk mendapat gelar sarjana atau magister, namun kesejahteraannya tidak sebanding dengan tuntutan profesinya sebagai pendidik bangsa.
Guru dan dosen sejatinya adalah ujung tombak peradaban. Mereka bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi membentuk karakter, menuntun pola pikir, dan menanamkan integritas moral yang menjadi fondasi generasi masa depan. Di tangan mereka lahir para pemimpin, intelektual, ilmuwan, profesional, hingga wirausahawan yang membangun bangsa. Namun sangat sulit mengharapkan pendidik memberikan performa terbaik bila kebutuhan dasarnya masih sulit terpenuhi. Ketika kesejahteraan pendidik terabaikan, maka sesungguhnya negara sedang melemahkan fondasi peradabannya sendiri.
Guru Pembangun Karakter dan Masa Depan Bangsa
Guru tidak hanya mengajarkan konsep akademik, tetapi juga membentuk kepribadian siswa agar tumbuh dengan karakter kuat, berakhlak mulia, dan memiliki rasa tanggung jawab sosial. Melalui teladan dan bimbingan, guru mengarahkan murid untuk memahami makna kedisiplinan, kerja keras, empati, dan kejujuran—nilai-nilai penting yang menjadi bekal kehidupan jangka panjang. Tanpa sentuhan nilai kemanusiaan yang ditanamkan guru, pendidikan hanya akan menghasilkan generasi cerdas secara intelektual, tetapi kosong secara moral.
Peran guru dalam membangun masa depan bangsa menjadi semakin krusial di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi. Anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar wawasan kognitif; mereka memerlukan pendampingan agar mampu menyaring informasi, mengelola emosi, dan mengembangkan karakter personal yang tangguh. Guru membantu peserta didik agar tidak terseret arus budaya instan dan perilaku reaktif era media sosial. Dari ruang kelas yang sederhana, guru sesungguhnya merancang arah peradaban bangsa—karena kualitas masa depan Indonesia ditentukan oleh karakter generasi yang saat ini mereka bina.
Tidak berhenti pada persoalan kesejahteraan, tantangan lain yang kini muncul adalah fenomena kriminalisasi guru. Dalam beberapa kasus, tindakan pendisiplinan siswa, teguran edukatif, atau sanksi pembelajaran sering disalahartikan sebagai tindakan merugikan dan bahkan berujung pada proses hukum. Minimnya pemahaman masyarakat mengenai otoritas pendidik sebagai pembimbing karakter mengakibatkan lahirnya stigma negatif terhadap mereka yang menjalankan peran pembinaan. Kondisi ini menciptakan iklim ketakutan yang secara perlahan meruntuhkan kewibawaan guru dalam proses pendidikan.
Ketika otoritas guru melemah karena tekanan sosial maupun ancaman hukum, proses pendidikan kehilangan unsur pentingnya. Anak-anak tumbuh dengan persepsi keliru bahwa pendidik tidak boleh menegakkan kedisiplinan. Sebuah generasi yang kehilangan rasa hormat terhadap pendidik adalah potensi krisis karakter di masa depan. Guru bukan hanya pengajar, tetapi pembentuk watak dan pelindung moral. Jika mereka tidak lagi memiliki ruang aman untuk membimbing, maka sesungguhnya bangsa sedang membiarkan kehancuran etika sosial dimulai dari ruang kelas.
Guru Bukan Beban Negara
Selama ini masih muncul pandangan keliru bahwa alokasi anggaran untuk pendidikan dan kesejahteraan guru membebani negara. Padahal guru bukan beban, melainkan investasi terbesar bagi masa depan bangsa. Tidak ada pembangunan ekonomi, kemajuan sains, pertahanan negara, bahkan pemerintahan yang baik tanpa kehadiran guru yang mencetak manusia-manusia unggul. Negara maju adalah negara yang menjadikan guru prioritas, bukan hanya infrastruktur fisik. Mengalokasikan anggaran bagi guru bukan pemborosan, melainkan pondasi bagi kemajuan bangsa.
Jika pendidik tidak dihargai secara layak, maka bangsa ini pada dasarnya sedang meruntuhkan pondasi pembangunan jangka panjangnya. Setiap profesi unggul lahir dari tangan guru—dokter, insinyur, hakim, pengusaha, pejabat publik, dan pemimpin bangsa. Karena itu, memuliakan guru berarti memuliakan seluruh masa depan Indonesia. Guru tidak boleh lagi dipandang sebagai entitas yang menghabiskan anggaran, tetapi sebagai penentu arah perjalanan peradaban. Semakin tinggi martabat guru dijaga negara, semakin kuat harapan untuk kejayaan Indonesia di masa depan.
Dalam konteks inilah, Hari Guru seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kembali kedudukan pendidik sebagai profesi yang bermartabat. Pemerintah perlu terus memastikan adanya peningkatan kesejahteraan pendidik sebagai representasi penghargaan atas jasa mereka. Masyarakat pun perlu menempatkan guru sebagai mitra mendidik, bukan sebagai pihak yang harus selalu disalahkan ketika menghadapi persoalan perilaku anak. Penguatan kesadaran kolektif mengenai peran guru menjadi urgensi yang tidak boleh diabaikan.
Selain itu, pengembangan kualitas sumber daya pendidik menjadi aspek penting di era digital saat ini. Guru dan dosen membutuhkan dukungan pelatihan, penguatan kompetensi, literasi teknologi, serta ruang untuk terus mengembangkan kreativitas dalam proses pembelajaran. Dunia pendidikan terus mengalami transformasi, dan pendidik perlu dibekali kemampuan agar tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman. Namun upaya peningkatan kompetensi tersebut harus dibarengi dengan apresiasi dan penghargaan yang setimpal agar motivasi pengabdian tidak padam di tengah tuntutan kerja yang semakin kompleks.
Peringatan Hari Guru seyogianya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi evaluasi serius tentang bagaimana bangsa ini menghargai pilar peradabannya. Pendidikan bukan sekadar sistem akademik, melainkan sistem kebudayaan. Guru menjadi penjaga nilai-nilai moral, penuntun akal sehat, sekaligus perisai generasi terhadap perilaku destruktif yang ditimbulkan perkembangan teknologi dan media sosial. Meningkatkan martabat guru berarti membangun ketahanan sosial bangsa.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam atau kemajuan teknologi, tetapi oleh ketangguhan kualitas manusia yang dibentuk melalui pendidikan. Selama bangsa ini menaruh hormat pada gurunya, selama itu pula harapan untuk masa depan Indonesia tetap terjaga. Sebaliknya, jika penghormatan kepada guru terus dibiarkan merosot, maka risiko kemunduran generasi akan terbuka lebar. Menghormati guru bukan hanya tradisi, melainkan investasi terbesar bangsa.
Selamat Hari Guru 2025. Semoga penghormatan kepada pendidik tidak berhenti pada ucapan seremonial, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata untuk meningkatkan kesejahteraan, perlindungan, dan martabat profesi guru dan dosen demi masa depan pendidikan Indonesia.
Penulis: Dr. Heri Solehudin Atmawidjaja
(Pemerhati Sosial Politik Uhamka Jakarta, Wakil Ketua Forum Doktor Sosial Politik UI, Wakil Ketua PDM Depok).
.



