Esai/Opini

Ramadan, Antara Sedih dan Bahagia

PDM DEPOK – Oleh: Muhsin MK

Ramadan selama dunia masih berputar tetap hadir dalam kehidupan insan. Kali ini kembali hadir membawa berita dan harapan baru yang lebih berkesan. Berita dari langit tentang keindahan Ramadan dan berbagai hadiah yang disediakan. Harapan mendapatkan rahmat, berkah, dan maghfirah benar-benar akan menjadi kenyataan.

Kebahagiaan Ramadan ada pada ibadah yang wajib dijalankan. Ibadah shaum (puasa) tidak dapat ditinggalkan. Semua mukmin harus mentaati dan menjalankan dengan penuh keikhlasan. Tak ada alasan untuk mengabaikan. Apalagi, melanggarnya tidak mau bershaum dengan berjuta alasan.

Shalat Tarawih pada malam hari menjadi amalan kedua di bulan Ramadhan. Melaksanakannya secara berjamaah di masjid setiap malam hingga sebulan. Hanya tidak setiap Muslim benar-benar mengamalkan secara rutin karena berbagai kesibukan. Masjid pun makmur jamaah shalat Tarawih dan itu biasanya hanya sepekan. Setelah itu jamaah makin berkurang dan menurun jumlahnya hingga menjelang lebaran.

Sehabis shalat tarawih umumnya jamaah melakukan tadarus Al Qur’an. Baik itu dilakukan secara berjamaah di masjid atau di rumah hanya sendirian. Para jamaah berlomba-lomba untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Namun semangat tinggi pada saat awal-awal Ramadhan. Lama- kelamaan mulai diuji rasa kantuk, malas, dan bosan. Memang sikap istiqamah dalam beramal ibadah tidaklah mudah untuk dilaksanakan secara ajeg dan berkesinambungan.

Lebih berat lagi seorang Muslim menjalankan iktikaf di akhir Ramadhan. Apalagi menunaikannya selama sepuluh hari terus-menerus meninggalkan kesibukan dan pekerjaan. Siang dan malam berada di masjid meninggalkan kehidupan dunia yang menyenangkan. Padahal, saat itikaf ini sedemikian menentukan kesuksesan dalam mencapai tujuan Ramadhan, yaitu untuk meraih ketaqwaan. Selain itu, guna mendapatkan anugerah pahala 1.000 (seribu) bulan. Anugerah ini merupakan buah dari ibadah Ramadan yang dilaksanakan penuh ketaatan.

Menjelang akhir Ramadan tidak berarti amalan sudah selesai dan the end (tamat) karena merasa sepenuhnya dijalankan. Kewajiban berzakat dan fitrah harus ditunaikan sesuai ketentuan. Tanpa zakat, infak, dan sedekah tidak lengkap dalam perjuangannya meraih tujuan ibadah Ramadan yang diharapkan. Keberhasilan amaliah pribadi dalam bulan Ramadan selain karena keikhlasan niat juga kesungguhan dalam menjalankannya dengan penuh keimanan.

Demikian itu amal ibadah di bulan Ramadan yang selalu datang membawa berkah dan nilai- nilai kemanusiaan. Segala ibadah dan amalan lainnya selama Ramadhan tak ada yang berat untuk diamalkan. Semua itu bergantung dari niat yang kuat dan kesungguhan jiwa-raga setiap insan. Niat sangat berpengaruh pada setiap amal ibadah dalam setiap keadaan. Dalam keadaan sulit pun karena niat yang kuat dan mendalam, maka ibadah shaum Ramadan dapat dilakukan oleh setiap muslim yang beriman.

Ramadan sungguh memberikan banyak nilai -nilai kebahagiaan. Ada lima kebahagiaan yang didapatkan dalam bulan Ramadan. Pertama, kebahagiaan saat berbuka di waktu magrib setelah adzan dikumandangkan. Saat itu telah hilang haus dan dahaga di badan. Telah basah urat-urat di kerongkongan. Telah tetap pahala (dari Allah yang akan diberikan). In syaa Allaah ya Rahman. Wajah gembira tampak saat shaumin berbuka walau hanya dengan manisan.

Kedua, kebahagiaan karena mampu dan dapat mengamalkan ibadah shaum tanpa ada halangan. Bahkan mampu menghindari berbagai macam godaan. Terutama godaan mata yang senantiasa muncul dalam setiap pandangan. Mata manusia adalah pintu masuknya setan. Dari mata jatuh ke hati, sehingga memberikan dorongan untuk berbuat dosa dan kemaksiatan. Mata dapat mengurangi nilai ibadah shaum apalagi bagi mereka yang suka jelalatan.

Ketiga, kebahagiaan juga dirasakan saat berbagi makanan berbuka kepada siapa saja, tetangga dan handai taulan. Apalagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan suatu tuntunan. Yaitu bagi siapa yang memberikan makanan (minuman) untuk orang berbuka, maka dia akan mendapatkan pahala puasa itu, tanpa mengurangi nilai puasa orang tersebut, asalkan dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Keempat, kebahagiaan pada saat puasa Ramadhan berakhir tak ada lagi menjadi beban. Dia merasa bahagia karena akan mendapatkan gelar taqwa, sebagai orang paling mulia tanpa cacat dan tidak ada cela kekurangan. Orang bertaqwa disediakan surga yang luasnya seluas langit dan bumi tak ada tandingan. Mereka pun dimurahkan rezekinya dan diberikan jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka pada setiap menghadapi berbagai kesulitan. Selain itu banyak kemudahan yang didapatkan.

Kelima, kebahagiaan yang dirasakan pada saat datangnya Idhul Fitri, hari raya ummat Islam yang spesial dan tidak dapat dilewatkan. Saat itu tidak ada satupun orang yang bersedih, semua merasa gembira dan senang disaat merayakan lebaran. Wajah mereka berseri-seri dan ceria, apalagi pada saat bersilaturahim; mendatangi orang tua, karib kerabat, saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Pakaian baru, bersih dan indah telah menjadikan suasana lebaran bertambah meriah dan penuh kegembiraan.

Namun, setelah suasana kebahagiaan dan keceriaan mereka di saat Idul Fitri, lalu berubah menjadi kesedihan atas kepergian Ramadan. Kesedihan yang dialami karena minimal ada dua faktor yang berpengaruh dalam kehidupan setiap muslim setelah lebaran. Pertama, kepergian bulan Ramadhan. Sebab, kesempatan meraih nilai-nilai mulia di bulan Ramadan tidaklah datang untuk kedua kali sebagai prosesi tahunan. Sedangkan menunggu datangnya Ramadan tahun depan belumlah dapat dipastikan. Apakah mereka akan berjumpa kembali atau tidak dengan Ramadan.

Kedua, suasana Ramadan yang dialami saat berada di dalamnya dirasakan banyak kenikmatan dan keberkahan yang tak kan terlupakan selama hayat dikandung badan. Bagaimana saat-saat diri nya menjalankan ibadah shaum dengan tenang, damai dan tanpa halangan. Termasuk pada saat shalat taraweh dan tadarus Al-Qur’an. Pun ketika beritikaf di masjid ditunaikan dengan penuh kenikmatan.

Apalagi waktu mereka berbuka dan bersahur bersama keluarga dan orang lain dalam ifthor jamai menikmati hidangan. Kesedihan setiap Muslim ditinggal Ramadan sama seperti kesedihan seorang hamba ditinggalkan orang yang dicintai dan disayanginya karena merasa kehilangan. Apalagi hatinya telah terikat dalam satu jalinan persaudaraan.

Karena itu, saat bulan Ramadan hendaknya setiap muslim berusaha untuk perbanyak amal ibadah dengan sebaik-baiknya tanpa ada yang dilewati, apalagi sampai tidak dikerjakan dan dikesampingkan. Manfaatkan waktu setiap hari, jam, menit dan detik selama bulan Ramadhan semaksimal mungkin untuk beramal ibadah dalam mendulang pahala, rahmat, berkah dan maghfirah dari Allah sebanyak-banyaknya, tanpa ada satu pun yang terlewati dan terabaikan. Selamat menunaikan ibadah Ramadan 1447 H dengan penuh semangat di dasari iman. (MK.16. 2.26).

Related Articles

Back to top button