Menjawab Panggilan 1928: Menghidupkan Semangat Sumpah Pemuda di Era Digital

PDM DEPOK – Oleh: Tirta Anhari*
Setiap tanggal 28 Oktober, kita kembali diingatkan pada sebuah peristiwa penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Pada 1928, para pemuda dari berbagai daerah berkumpul di Batavia untuk menyatukan tekad. Mereka datang membawa identitas, bahasa, dan latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki satu kesadaran yang sama: Indonesia harus menjadi rumah bersama.
Melalui Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928, lahirlah sebuah keputusan bersejarah yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Sebuah ikrar tentang satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Jika kita melihat kembali peristiwa tersebut, ada satu hal menarik yang patut direnungkan. Para pemuda saat itu hidup dalam keterbatasan. Komunikasi belum semudah sekarang, perjalanan antardaerah membutuhkan waktu panjang, dan perbedaan latar belakang masih menjadi tantangan besar. Namun, dalam keadaan tersebut, mereka justru mampu membangun kesadaran untuk bersatu.
Hampir satu abad kemudian, situasinya jauh berbeda. Kita hidup di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat. Internet memungkinkan siapa saja saling terhubung, media sosial membuka ruang untuk menyampaikan pendapat, dan kecerdasan buatan mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Akan tetapi, kemudahan untuk terhubung belum tentu membuat kita semakin dekat. Di tengah derasnya informasi dan kebebasan berekspresi, kita justru sering melihat perdebatan yang berujung pada permusuhan, perbedaan yang dibesar-besarkan, hingga lunturnya kepedulian terhadap sesama.
Lantas, bagaimana kita memaknai kembali semangat Sumpah Pemuda di tengah kehidupan yang semakin digital?
Menjaga Bahasa, Merawat Identitas Bangsa
Salah satu pesan penting dari Sumpah Pemuda adalah komitmen untuk menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Keputusan tersebut bukan perkara sederhana. Di tengah banyaknya bahasa dan budaya yang dimiliki masyarakat Nusantara, para pemuda menyadari perlunya sebuah bahasa yang mampu menjembatani perbedaan.
Kini, bahasa Indonesia telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Namun, perkembangan teknologi dan globalisasi menghadirkan tantangan tersendiri.
Dalam keseharian, kita semakin akrab dengan penggunaan istilah asing, baik di lingkungan pendidikan, pekerjaan, maupun media sosial. Tidak jarang, istilah bahasa Inggris dianggap lebih menarik atau terdengar lebih modern dibandingkan padanan dalam bahasa Indonesia.
Kecenderungan menyukai penggunaan bahasa asing secara berlebihan dikenal dengan istilah xenoglosofilia. Tentu, tidak ada yang salah dengan mempelajari dan menguasai bahasa asing. Bahkan, kemampuan tersebut menjadi kebutuhan penting untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Persoalannya muncul ketika kita mulai merasa bahwa bahasa sendiri kurang menarik, kurang bergengsi, atau tidak cukup mampu mewakili gagasan yang ingin disampaikan.
Padahal, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Di dalamnya terdapat identitas, sejarah, dan cara suatu masyarakat memahami kehidupan.
Karena itu, prinsip Trigatra Bangun Bahasa yang mengajak kita untuk mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing masih sangat relevan.
Ketiga hal tersebut sebenarnya dapat berjalan beriringan. Kita bisa tetap bangga menggunakan bahasa Indonesia, menjaga bahasa daerah sebagai kekayaan budaya, sekaligus menguasai bahasa asing untuk memperluas wawasan dan membangun hubungan dengan masyarakat dunia.
Teknologi pun dapat menjadi sarana untuk mendukung upaya tersebut. Mulai dari membuat konten edukatif berbahasa Indonesia, mendokumentasikan cerita rakyat dalam bahasa daerah, hingga memperkenalkan kebudayaan Nusantara melalui berbagai platform digital.
Dengan cara itu, semangat menjunjung bahasa Indonesia tidak berhenti sebagai bagian dari ikrar sejarah, tetapi hadir dalam kebiasaan dan karya yang kita hasilkan.
Tetap Bersatu di Tengah Ramainya Dunia Digital
Jika pada 1928 para pemuda berjuang menyatukan berbagai kelompok yang terpisah oleh jarak dan perbedaan, generasi hari ini menghadapi persoalan yang agak berbeda.
Kita memang semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu semakin mudah memahami satu sama lain.
Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui ruang digital, kita dapat memperoleh informasi, bertukar pikiran, serta menyampaikan pandangan mengenai berbagai persoalan. Namun, ruang yang sama juga kerap dipenuhi informasi yang belum tentu benar, komentar yang saling menyerang, bahkan perdebatan yang memecah hubungan sosial.
Perbedaan pandangan yang sebenarnya wajar terkadang berubah menjadi alasan untuk saling menjauh. Kita lebih mudah bereaksi daripada memahami, lebih cepat membagikan informasi daripada memeriksa kebenarannya.
Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, juga membuat persoalan ini semakin kompleks. Konten berupa gambar, suara, dan video kini dapat dibuat menyerupai kenyataan. Tanpa kemampuan berpikir kritis, kita bisa saja ikut menyebarkan sesuatu yang sebenarnya tidak benar.
Dalam keadaan seperti ini, semangat persatuan yang diwariskan para pemuda 1928 menjadi semakin penting.
Persatuan bukan berarti kita harus selalu sepakat dalam segala hal. Justru, persatuan mengajarkan bahwa perbedaan tidak seharusnya menghilangkan rasa hormat terhadap orang lain.
Kita boleh berbeda pandangan, pilihan, maupun cara berpikir. Namun, di balik semua itu, ada tanggung jawab bersama untuk menjaga kehidupan sosial agar tetap sehat dan saling menghargai.
Mungkin, salah satu cara paling sederhana untuk menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda hari ini adalah dengan lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Tidak terburu-buru menyebarkan informasi, tidak mudah terpancing provokasi, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan sesama.
Sebab, menjaga persatuan tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Terkadang, semuanya dimulai dari cara kita memperlakukan orang lain, termasuk di balik layar gawai.
Mengubah Kemajuan Teknologi Menjadi Karya Nyata
Ada hal penting yang bisa kita pelajari dari generasi muda 1928. Mereka tidak hanya membicarakan perubahan, tetapi juga berusaha mewujudkannya melalui gerakan dan tindakan bersama.
Pada masa itu, organisasi kepemudaan, media cetak, pendidikan, dan forum diskusi menjadi sarana untuk menyebarkan gagasan tentang kebangsaan. Dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki, mereka tetap berusaha menghadirkan sesuatu yang berarti bagi masa depan Indonesia.
Hari ini, generasi muda memiliki peluang yang jauh lebih besar.
Berbagai teknologi tersedia dan dapat dimanfaatkan untuk belajar, bekerja, membangun usaha, hingga menciptakan inovasi. Bahkan, melalui sebuah perangkat yang ada di tangan, seseorang dapat menjangkau ribuan orang, menyampaikan gagasan, atau membangun gerakan sosial.
Namun, pertanyaannya bukan lagi sekadar seberapa canggih teknologi yang kita gunakan, melainkan untuk apa teknologi tersebut dimanfaatkan.
Kemajuan teknologi seharusnya tidak hanya membuat kehidupan semakin praktis, tetapi juga membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Misalnya, bagaimana teknologi dapat membantu anak-anak di daerah yang masih memiliki keterbatasan akses pendidikan? Bagaimana platform digital dapat mendukung usaha kecil agar mampu berkembang? Atau bagaimana kecerdasan buatan dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik tanpa mengabaikan etika dan kepentingan manusia?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting untuk terus diajukan, terutama oleh generasi muda yang tumbuh bersama perkembangan teknologi.
Kita tentu membutuhkan anak muda yang cakap secara digital. Namun, kemampuan teknis saja tidak cukup. Dibutuhkan pula kepekaan sosial, kepedulian, kreativitas, dan kemauan untuk menjadikan pengetahuan sebagai sesuatu yang bermanfaat.
Jika dahulu para pemuda menggunakan organisasi dan pemikiran untuk memperjuangkan persatuan, hari ini teknologi dapat menjadi salah satu jalan untuk melanjutkan semangat perjuangan tersebut.
Bukan untuk sekadar mengikuti perubahan zaman, tetapi juga ikut menentukan ke arah mana perubahan itu membawa bangsa ini.
Menjawab Panggilan 1928
Sumpah Pemuda telah melewati perjalanan sejarah yang panjang. Setiap generasi tentu memiliki cara dan tantangannya sendiri dalam memahami makna persatuan.
Bagi generasi 1928, persatuan merupakan langkah penting untuk membangun kesadaran kebangsaan dan memperjuangkan kemerdekaan. Sementara bagi generasi hari ini, persatuan perlu terus dijaga di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan derasnya arus informasi.
Karena itu, memperingati Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau unggahan ucapan di media sosial. Peringatan ini dapat menjadi kesempatan untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita berkontribusi bagi bangsa?
Apakah teknologi yang kita gunakan telah membawa manfaat? Apakah kehadiran kita di ruang digital ikut membangun suasana yang sehat? Dan apakah kita masih memiliki kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat di sekitar kita?
Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya dapat menjadi ukuran bagaimana kita memaknai semangat kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Menjaga bahasa Indonesia, menghargai keberagaman, bersikap kritis terhadap informasi, serta memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan karya yang bermanfaat merupakan beberapa langkah nyata yang bisa dilakukan.
Pada akhirnya, Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi muda yang mengikuti perkembangan zaman. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu memberi arah pada perubahan, tanpa kehilangan identitas dan kepeduliannya terhadap sesama.
Para pemuda 1928 telah memberikan teladan tentang keberanian untuk bersatu di tengah perbedaan. Kini, giliran kita untuk melanjutkan semangat itu melalui cara yang sesuai dengan tantangan zaman.
Sebab, semangat Sumpah Pemuda tidak hanya hidup dalam ikrar yang diucapkan setiap 28 Oktober, tetapi juga dalam pilihan, sikap, dan karya yang kita hadirkan untuk Indonesia setiap hari, Majulah terus para pemuda, pemuda yang selalu memiliki kecenderungan perubahan dan idealisme.
Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”-Tan Malaka
*Ketua Bidang Kominfo PDPM/ Anggota MPI PDM Kota Depok/Dosen FTII Uhamka



