
PDM DEPOK – Oleh: Abu Reza Fahlefi*
Setiap tanggal 1 Oktober berulang kali kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan yang seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial belaka, upacara, pemasangan spanduk, atau sekadar mengulang kembali sejarah yang sama sama sudah kita ketahui.
Lebih dari itu, Hari Kesaktian Pancasila mestinya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri kita sendiri : Apakah nilai-nilai Pancasila benar-benar masih hidup dalam cara kita berpikir dan mengambil keputusan ?
Pertanyaan ini menjadi penting karena tantangan terhadap Pancasila hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk ancaman yang terlihat secara langsung. Tantangannya bisa muncul dalam bentuk yang lebih sederhana, yaitu ketika masyarakat mulai kehilangan kemampuan untuk berpikir secara rasional, objektif, dan kritis.
Kita hidup di tengah arus informasi yang sangat cepat. Apa pun bisa menjadi viral dalam hitungan menit. Sebuah potongan video bisa membentuk persepsi. Sebuah tulisan bisa dipercaya hanya karena banyak yang membagikannya. Bahkan terkadang seseorang lebih percaya pada informasi karena sesuai dengan apa yang ingin ia dengar, bukan karena informasi tersebut benar.
Di sinilah nalar kritis menjadi penting. Berpikir kritis bukan berarti selalu membantah atau selalu merasa paling benar. Berpikir kritis justru berarti berani bertanya, mau memeriksa, mau mendengar pendapat yang berbeda, melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, dan kemudian mengambil kesimpulan berdasarkan pertimbangan yang masuk akal.
Sayangnya, dalam kehidupan kita sehari-hari, hal tersebut semakin sering terpinggirkan. Bahkan dalam lingkup yang lebih kecil, misalnya dalam sebuah perhelatan permusyawaratan organisasi, kita terkadang melihat bagaimana kepentingan pragmatis lebih dominan dibandingkan rasionalitas berpikir yang sehat.
Musyawarah yang seharusnya menjadi ruang untuk menguji gagasan, melihat persoalan secara objektif, dan mencari keputusan terbaik, terkadang justru berubah menjadi arena untuk memperjuangkan kepentingan tertentu.
Ukuran benar dan salah akhirnya bukan lagi berdasarkan argumentasi yang kuat, data, rekam jejak, atau gagasan yang ditawarkan, tetapi bisa bergeser menjadi: siapa yang mendukung siapa, siapa yang dekat dengan siapa, atau kepentingan apa yang sedang dibawa.
Saya kira fenomena seperti ini perlu kita renungkan bersama. Sebab ketika pragmatisme mulai mengalahkan rasionalitas, maka musyawarah berpotensi kehilangan substansinya.
Kita bisa saja tetap duduk bersama dalam satu ruangan, berbicara tentang demokrasi, musyawarah, kaderisasi, dan kepentingan organisasi. Tetapi jika keputusan sudah ditentukan oleh kepentingan sesaat, sementara argumentasi hanya menjadi pelengkap, maka sesungguhnya kita sedang kehilangan esensi dari musyawarah itu sendiri.
Lebih jauh lagi, kita perlu bertanya: apakah kita masih benar-benar menggunakan akal sehat dalam mengambil keputusan?
Berbeda pendapat seharusnya merupakan sesuatu yang biasa. Bahkan dalam organisasi, perbedaan pendapat justru diperlukan agar sebuah keputusan tidak lahir dari satu sudut pandang saja. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan pendapat kemudian berubah menjadi persoalan pribadi.
Orang yang berbeda pandangan dianggap sebagai lawan. Orang yang memberikan kritik dianggap tidak loyal. Orang yang bertanya dianggap menghambat. Bahkan terkadang orang yang menyampaikan argumentasi berbeda justru dicurigai memiliki kepentingan tertentu.
Kalau budaya seperti ini terus berkembang, lama-kelamaan kita akan kehilangan ruang untuk berpikir secara sehat. Padahal, loyalitas tidak seharusnya berarti kehilangan daya kritis. Loyalitas kepada organisasi semestinya justru mendorong kita untuk memberikan kritik ketika ada sesuatu yang menurut kita perlu diperbaiki. Loyalitas kepada bangsa juga tidak berarti membenarkan semua hal. Begitu pula mencintai sebuah organisasi tidak berarti harus selalu mengatakan “iya” terhadap setiap keputusan.
Menurut saya, justru orang yang berani menyampaikan pendapat dengan argumentasi yang sehat merupakan bagian penting dari kehidupan organisasi.
KETIKA MENJADI MINORITAS
Namun, ada satu hal yang terkadang lebih sulit daripada sekadar berpikir kritis : tetap teguh ketika kita berada di posisi minoritas. Terkadang kita tahu bahwa sebuah persoalan perlu dikritisi, tetapi mayoritas memilih diam. Terkadang kita memiliki pandangan yang berbeda, tetapi lingkungan sekitar menginginkan kita mengikuti arus. Terkadang kita menyampaikan sesuatu yang menurut kita benar, tetapi justru kita yang dianggap berbeda, keras kepala, tidak loyal, atau tidak sejalan.
Di titik seperti inilah keteguhan hati diuji. Menjadi kritis ketika pendapat kita didukung banyak orang mungkin tidak terlalu sulit. Tetapi tetap menyampaikan pandangan dengan santun ketika kita tahu bahwa kita berada dalam posisi minoritas, itulah yang membutuhkan keberanian.
Tidak semua yang sedikit itu salah, dan tidak semua yang banyak itu benar. Jumlah suara memang penting dalam sebuah musyawarah, tetapi kebenaran tidak selalu ditentukan oleh jumlah.
Karena itu, menjadi minoritas tidak perlu membuat kita kehilangan keberanian. Selama pendapat yang kita sampaikan memiliki dasar, disampaikan dengan cara yang baik, dan lahir dari niat untuk memperbaiki keadaan, maka tidak ada alasan untuk merasa rendah hanya karena kita tidak berada di barisan mayoritas.
Namun demikian, menjadi minoritas juga bukan berarti merasa paling benar. Kita tetap harus membuka diri terhadap kemungkinan bahwa kita juga bisa keliru. Kritik harus disertai kerendahan hati. Keteguhan harus berjalan bersama kebijaksanaan.
Teguh bukan berarti keras kepala. Kritis bukan berarti merasa paling benar. Berani berbeda bukan berarti harus memusuhi yang berbeda. Justru kedewasaan berpikir terlihat ketika seseorang mampu mempertahankan prinsip tanpa kehilangan rasa hormat kepada orang lain.
Ada kalanya kita harus berdiri sendiri untuk mempertahankan apa yang kita yakini benar. Bukan karena ingin menjadi berbeda, tetapi karena hati nurani tidak selalu bisa diajak berkompromi dengan keadaan. Dan mungkin, di situlah makna perjuangan yang sebenarnya.
Ketika tidak ada yang bertepuk tangan, apakah kita masih mau berbuat baik? Ketika pendapat kita tidak populer, apakah kita masih berani menyampaikannya? Ketika berada di posisi minoritas, apakah kita masih mampu menjaga prinsip tanpa membenci mereka yang berbeda ?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan menunjukkan seberapa kuat karakter kita. Sebab pada akhirnya, perjuangan tidak selalu tentang menjadi pemenang dalam sebuah forum. Kadang perjuangan adalah tetap menjaga akal sehat, menjaga integritas, dan tetap berdiri pada prinsip yang diyakini benar, meskipun tidak banyak yang berdiri bersama kita.
PANCASILA DAN AKAL SEHAT
Di sinilah saya melihat hubungan antara Pancasila dan nalar kritis. Sila keempat berbicara tentang kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Ada kata yang sangat penting di sana, Hikmat Kebijaksanaan
Musyawarah bukan sekadar berkumpul dan mengambil keputusan. Musyawarah membutuhkan kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan membutuhkan kemampuan untuk berpikir, mendengar, mempertimbangkan, serta melihat persoalan secara lebih luas.
Karena itu, Pancasila seharusnya tidak hanya kita hafalkan. Nilai-nilainya harus tercermin dalam cara kita memperlakukan perbedaan, menyampaikan kritik, mengambil keputusan, dan menyikapi kepentingan.
Kita membutuhkan keberanian untuk mengatakan bahwa sesuatu itu salah ketika memang salah, sekaligus kerendahan hati untuk mengakui bahwa pendapat kita sendiri mungkin juga keliru.
Berpikir kritis bukan berarti anti terhadap organisasi. Berbeda pendapat bukan berarti tidak loyal. Mengkritik bukan berarti membenci. Dan menerima kritik bukan berarti kalah. Justru dari proses itulah sebuah organisasi, masyarakat, bahkan bangsa dapat berkembang.
Hari Kesaktian Pancasila bagi saya bukan hanya tentang mengingat masa lalu. Ia juga menjadi pengingat tentang bagaimana kita menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila di tengah perubahan zaman.
Kalau dulu tantangan terhadap Pancasila bisa datang dalam bentuk ideologi dan konflik politik, hari ini kita juga menghadapi tantangan berupa banjir informasi, polarisasi golongan, pragmatisme, fanatisme kelompok, dan semakin menurunnya kemauan untuk memeriksa kebenaran secara objektif.
Maka menjaga Pancasila juga berarti menjaga akal sehat. Jangan sampai kita begitu mudah percaya hanya karena informasi tersebut datang dari orang yang kita sukai. Jangan sampai kita menolak sebuah gagasan hanya karena datang dari orang yang berbeda dengan kita.
Dan jangan sampai keputusan dalam sebuah organisasi ditentukan semata-mata karena kepentingan jangka pendek, sementara pertimbangan rasional dan kepentingan yang lebih besar justru kita abaikan.
Pada akhirnya, Kesaktian Pancasila bukan hanya tentang bagaimana kita mempertahankan sebuah dasar negara, tetapi juga tentang bagaimana kita mempertahankan nilai-nilai yang membuat kehidupan bersama tetap sehat.
Pancasila membutuhkan manusia yang mau berpikir, Manusia yang mampu membedakan antara fakta dan opini, manusia yang mampu membedakan kritik dan kebencian manusia yang mampu berbeda tanpa bermusuhan dan manusia yang mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pragmatis sesaat.
Mungkin inilah salah satu bentuk pengamalan Pancasila yang sering kali kita lupakan. Berpikir dengan jernih sebelum mengambil keputusan, mendengar sebelum menghakimi, dan menggunakan akal sehat sebelum mengikuti arus, dan bagi siapa pun yang hari ini sedang berada di posisi minoritas karena memilih untuk tetap kritis, jangan buru-buru merasa sendirian.
Tetaplah berpikir, belajar, terbuka. Dan jika prinsip yang diperjuangkan memang diyakini benar, jagalah dengan keteguhan hati, Sebab terkadang, kebenaran memang tidak datang bersama tepuk tangan. Namun, keteguhan hati akan selalu diuji ketika kita harus memilih antara mengikuti arus atau tetap berdiri dengan prinsip.
Selamat Hari Kesaktian Pancasila.
Semoga kita tidak hanya menjadi orang yang mampu menghafal Pancasila, tetapi juga menjadi manusia yang mampu berpikir, bermusyawarah, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
*Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Kota Depok



