Esai/OpiniTokoh

Dari Nyangku ke Panjalu Emas 2030: Ketika Warisan Karuhun Menjadi Kekuatan Budaya Wisata Ziarah, dan Ekonomi Kerakyatan

Iklan-Mu (Banner)

PDMDEPOK.COM – Di tengah derasnya arus globalisasi, digitalisasi, dan perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat, pertanyaan penting bagi masyarakat Panjalu bukan lagi sekadar bagaimana mempertahankan tradisi, tetapi bagaimana menjadikan warisan leluhur sebagai sumber kekuatan untuk membangun masa depan. Dalam perspektif tersebut, Upacara Adat Nyangku dan Festival Budaya Panjalu 2026 memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sebuah seremoni tahunan.

Nyangku adalah ruang perjumpaan antara sejarah, budaya, keislaman, pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat. Perayaan Nyangku 2026 secara tegas mengusung tema, “Melalui Nyangku dan Festival Budaya Panjalu, Kita Tingkatkan Pendalaman Nilai-nilai Budaya dan Keislaman dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara,” dengan motto “Nyukcruk Galurna Karuhun, Ngudag Lacak Laratan anu Baheula, Kiwari Ngancik Bihari, Ayeuna Sampeureun Jaga.”( Menelusuri jejak leluhur, menggali warisan masa lalu, menghidupkan nilainya di masa kini, dan menjadikannya bekal untuk membangun masa depan).

Motto tersebut sesungguhnya mengandung filosofi pembangunan yang sangat relevan. Kita menelusuri jejak karuhun bukan untuk hidup di masa lalu, tetapi untuk menemukan nilai-nilai luhur yang dapat menjadi pijakan menghadapi masa kini dan menyiapkan masa depan.

Nyangku: Merawat Warisan Budaya dan Nilai Keislaman

Panjalu memiliki sejarah dan tradisi yang kuat. Dalam narasi sejarah yang diwariskan masyarakat Panjalu, Prabu Sanghyang Borosngora memiliki posisi penting dalam perjalanan Islam di Panjalu. Peringatan Nyangku 2026 mencatat keberadaan berbagai benda pusaka yang disimpan di Bumi Alit, antara lain Pedang Cis dan Genta yang dikaitkan dengan Prabu Sanghyang Borosngora. Dalam narasi tersebut, pusaka tidak semata-mata dipandang sebagai benda peninggalan sejarah, tetapi sebagai simbol perjuangan mencari ilmu dan mengembangkan ajaran Islam.

Pesan moral tersebut kemudian dirumuskan dalam Papagon Ka-Panjaluan, yang mengandung unsur Papagon, Agama, Nagara, Jadikeun, Amalan, Lahir Batin, dan Ulah Salah. (Jadikan ajaran agama dan aturan negara sebagai pedoman serta amalkan dalam kehidupan lahir dan batin agar tidak salah dalam menjalani kehidupan). Nilai tersebut kemudian diwujudkan dalam falsafah kehidupan: “Mangan Karana Halal, Pake Karana Suci, Ucap Lampah Sabenere” (Carilah dan makanlah rezeki yang halal, gunakanlah sesuatu dengan kesucian dan kebersihan, serta jagalah setiap ucapan dan perbuatan agar selalu benar dan baik).

Upacara Adat Nyangku dan FestivalBudaya Panjalu-Ciamis, Senin, 9 Oktober 2023 M/1445 H lalu.

Inilah yang harus menjadi salah satu inti Nyangku: membersihkan pusaka sekaligus melakukan refleksi dan “pembersihan” diri manusia. Tradisi menjadi bermakna ketika mampu melahirkan perilaku sosial yang lebih baik, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan kehidupan yang berlandaskan nilai agama. Referensi sejarah tentang Panjalu juga dapat ditemukan dalam tulisan Sejarah Kerajaan Panjalu di Wira Fokus, yang menjadi salah satu bahan dokumentasi sejarah dalam pengembangan narasi Panjalu.

Wisata Ziarah Islami: Mengembangkan Panjalu sebagai Destinasi

Potensi berikutnya adalah wisata ziarah Islami. Panjalu memiliki kombinasi yang sangat menarik antara sejarah, spiritualitas, budaya dan alam. Bumi Alit, Nusa Gede, Situ Lengkong dan kawasan Taman Borosngora dapat dikembangkan dalam sebuah ekosistem perjalanan wisata yang terintegrasi. Perayaan Nyangku 2026 bahkan secara eksplisit menggambarkan cita-cita mewujudkan Panjalu sebagai Desa Wisata, yang mengintegrasikan wisata ziarah, wisata alam dan wisata budaya.

Konsep ini harus dikembangkan secara hati-hati. Wisata ziarah bukan semata-mata aktivitas mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya, tetapi menghadirkan pengalaman spiritual, edukatif, historis dan kultural. Wisatawan perlu memahami sejarah Panjalu, mengenal nilai-nilai Islam yang berkembang di dalam tradisinya, menikmati keindahan Situ Lengkong, sekaligus berinteraksi dengan masyarakat lokal. Dengan demikian, Panjalu dapat menawarkan sebuah model cultural and Islamic pilgrimage tourism yang memiliki karakter khas Indonesia.

Festival Budaya Panjalu sebagai Living Heritage

Festival Budaya Panjalu juga harus ditempatkan sebagai living heritage, yaitu warisan budaya yang terus hidup karena dipraktikkan, dimaknai dan diwariskan oleh masyarakat. Rangkaian Nyangku 2026 memperlihatkan dimensi tersebut. Agenda kegiatan mencakup Mapag Cai/Tirta Kahuripan (Menyambut air kehidupan sebagai simbol keberkahan, kesucian, kesejahteraan, dan tanggung jawab manusia untuk menjaga sumber kehidupan)., Samida, khotaman Al-Qur’an, Maulid Nabi Muhammad SAW, pagelaran seni, gembyung, helaran budaya, kirab pusaka, pencucian pusaka dan pengembalian pusaka.

Pengalaman penyelenggaraan Nyangku 2025 juga menunjukkan besarnya potensi tradisi ini. KBA News mencatat bahwa kegiatan berlangsung di Bumi Alit, Nusa Gede/Situ Lengkong dan Alun-alun Panjalu, dihadiri masyarakat dan wisatawan, serta melibatkan rangkaian arak-arakan pusaka dan prosesi penyucian. Karena itu, festival harus diarahkan bukan hanya menjadi tontonan, tetapi tuntunan dan tuntutan untuk melestarikan kebudayaan.

Ekonomi Kreatif dan Kewirausahaan Masyarakat

Kebudayaan akan semakin kuat apabila masyarakat memperoleh manfaat ekonomi secara adil dari pelestariannya. Inilah titik temu antara Nyangku dan kewirausahaan. Setiap kegiatan budaya sesungguhnya menciptakan rantai ekonomi: transportasi, kuliner, penginapan, perdagangan, kerajinan, fesyen, dokumentasi, fotografi, seni pertunjukan, suvenir, jasa pemandu wisata dan berbagai produk ekonomi kreatif. Perayaan Nyangku 2026 telah memberikan ruang khusus untuk Pemberdayaan UMKM, dengan melibatkan BUMDes Desa Panjalu, Dinas KUKMP dan Koperasi Merah Putih.

Ke depan, UMKM Panjalu harus naik kelas dari sekadar pedagang musiman menjadi pelaku ekonomi kreatif berbasis budaya. Produk lokal dapat dikemas secara modern, dipasarkan melalui platform digital, dikembangkan menjadi oleh-oleh khas Panjalu, dan dipromosikan melalui storytelling mengenai sejarah serta filosofi budaya yang menyertainya. Dengan demikian, pengunjung tidak sekadar membeli produk, tetapi membawa pulang cerita Panjalu.

Dari Nyangku Menuju Panjalu Emas 2030

Saya melihat gagasan Panjalu Emas 2030 dapat dibangun di atas lima fondasi: budaya yang lestari, nilai keislaman yang kuat, pariwisata yang berkelanjutan, ekonomi kreatif yang produktif, dan masyarakat yang berdaya secara ekonomi. Nyangku 2026, yang puncaknya dijadwalkan pada Senin, 7 September 2026, dapat menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi tersebut.

Silsilah Kerajaan Panjalu mengingatkan bahwa identitas Panjalu memiliki kesinambungan sejarah dan genealogis yang panjang. Sebagai bagian dari garis keturunan yang tercantum dalam silsilah tersebut dan sebagai bagian dari keluarga besar Yayasan Borosngora, kita memandang warisan karuhun bukan sekadar kebanggaan sejarah, melainkan amanah untuk dijaga dan diterjemahkan menjadi kemaslahatan masyarakat.

Karena itu, visi Panjalu ke depan tidak cukup berhenti pada pelestarian. Kita membutuhkan hilirisasi budaya: sejarah menjadi pendidikan, tradisi menjadi destinasi wisata, festival menjadi ruang ekonomi kreatif, UMKM menjadi kewirausahaan yang berdaya saing, dan nilai keislaman menjadi fondasi etika kehidupan masyarakat.“Nyukcruk galurna karuhun, ngudag lacak laratan anu baheula, kiwari ngancik bihari, ayeuna sampeureun jaga”. (Menelusuri jejak para leluhur, menggali warisan masa lalu, menghayati nilai-nilainya pada masa kini, dan menjadikannya bekal untuk menjaga masa depan.)Kita belajar dari masa lalu untuk membangun hari ini dan menyiapkan hari esok.

Dari Nyangku menuju Panjalu Emas 2030: budaya lestari, nilai Islami, wisata berkelanjutan, ekonomi kreatif tumbuh, UMKM berdaya saing, dan masyarakat Panjalu/Ciamis semakin sejahtera.

Oleh: Dr. Rd. Heri Solehudin Atmawidjaja, MM.

(Pemerhati Sosial Politik UHAMKA, Keturunan ke XVII Raja Galuh Panjalu Ciamis, Wakil Ketua PDM Kota Depok, Wakil Ketua Forum Doktor UI, Tokoh Masyarakat Ciamis)

Iklan-Mu (In Content)
Iklan-Mu (In Content)

Related Articles

Back to top button

https://dolanlink.com/

https://dolankumau88.com/

https://opalsaya88.com/

https://gokumania88.com/

https://gokunih.com/

https://opalkhusus01.org/

https://opalsaya89.com/

https://opalutama.com/

https://skwslot.net/

https://cairbos569.com/

https://cairbosjp.com/

https://caiboswild.com/

https://cairbos.net/