DinamikaPersyarikatan

Forum Strategis Muktamar Ke-15 NA Bahas Peran Perempuan di Era AI dan Society 5.0

PDM DEPOK, SURAKARTA — Rangkaian Muktamar Ke-15 Nasyiatul Aisyiyah (NA) turut diisi dengan Forum Strategis yang menghadirkan dua pembicara membahas isu perempuan, teknologi, dan kepemimpinan di era digital. Forum ini menjadi salah satu agenda penting yang memperkaya pembahasan tema besar Muktamar, “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan”.

Sesi pertama forum mengangkat topik “Wanita, Sains, dan Kecerdasan Buatan (AI): Menghapus Bias atau Justru Memperkuatnya?” yang disampaikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, A.B., Ph.D.

Dalam paparannya, Stella Christie menjelaskan bahwa perkembangan AI membuka peluang besar bagi perempuan di bidang STEM, namun kesempatan itu belum dimanfaatkan secara merata.

“Perkembangan kecerdasan buatan membuka peluang yang semakin luas bagi perempuan untuk berkontribusi di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika,” ujarnya.

Ia menegaskan, dari sisi kemampuan dasar, tidak ada alasan ilmiah yang mendasari kesenjangan tersebut.

“Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan matematika antara laki-laki dan perempuan. Setiap manusia memiliki potensi yang sama dalam memahami konsep angka dan ruang,” katanya.

Meski demikian, ia menyoroti kesenjangan yang masih terjadi di lapangan, di mana jumlah perempuan yang menempuh pendidikan maupun berkarier di bidang STEM masih lebih sedikit dibandingkan laki-laki.

“Kondisi tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh stereotip, bias sosial, dan ekspektasi masyarakat daripada perbedaan kemampuan,” tegasnya.

Stella juga mengingatkan bahwa AI membawa peluang sekaligus tantangan bagi kesetaraan gender.

“Pemanfaatan AI secara luas dapat meningkatkan produktivitas dan mendorong transformasi di berbagai sektor. Namun, apabila sistem AI dikembangkan menggunakan data historis yang mengandung bias, AI justru berpotensi memperkuat ketidakadilan yang sudah ada, termasuk bias gender,” jelasnya.

Ia menambahkan, dampak dari bias tersebut tidak hanya dirasakan perempuan secara individu, tetapi juga berimbas pada pembangunan secara luas.

“Akibatnya, kesempatan perempuan untuk berkembang dapat semakin terbatas, sekaligus menimbulkan inefisiensi dalam pembangunan karena potensi sumber daya manusia belum dimanfaatkan secara optimal,” ungkapnya.

Menutup paparannya, Stella menegaskan pentingnya peran bersama untuk menghapus stereotip gender, termasuk peran strategis Nasyiatul Aisyiyah.

“Diperlukan peran seluruh elemen masyarakat untuk mengurangi stereotip gender dan menciptakan kesempatan yang setara. Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi perempuan memiliki peran penting dalam mendorong lahirnya generasi perempuan yang percaya diri, berdaya, dan siap berkiprah di bidang sains serta teknologi,” pungkasnya. “Dengan dukungan lingkungan yang inklusif, AI diharapkan menjadi sarana yang memperluas kesempatan, bukan memperkuat bias.”

Perempuan di Era Society 5.0

Sesi kedua forum menghadirkan Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Ifa Rosita, yang membahas topik “Meningkatkan Kapasitas Perempuan Muda di Era Society 5.0”.

Ifa Rosita menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas perempuan muda dalam menghadapi era baru yang penuh disrupsi teknologi.

“Era Society 5.0 ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, big data, dan internet of things. Transformasi tersebut membuka peluang yang semakin besar bagi perempuan untuk berkontribusi dalam kehidupan sosial, ekonomi, maupun politik,” ujarnya.

Meski peluang terbuka lebar, ia mengingatkan bahwa perempuan muda masih menghadapi sejumlah tantangan nyata di lapangan.

“Perempuan muda masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti kesenjangan akses dan literasi digital, stereotip gender, budaya patriarki, keterbatasan akses terhadap ruang pengambilan keputusan, serta rendahnya keterwakilan perempuan dalam politik,” ungkapnya.

Menjawab tantangan tersebut, Ifa Rosita menekankan pentingnya penguatan kapasitas sebagai langkah strategis untuk mempersiapkan generasi muda perempuan menyongsong masa depan.

“Peningkatan kapasitas melalui penguatan literasi digital, literasi politik, dan kepemimpinan menjadi langkah penting untuk mempersiapkan perempuan muda sebagai pemilih yang cerdas dan kritis, agen pendidikan politik, penggerak partisipasi masyarakat, pelopor demokrasi digital, sekaligus calon pemimpin masa depan,” tandasnya.

Kedua materi dalam Forum Strategis ini memberikan penegasan bahwa tantangan bias gender dan kesenjangan digital masih menjadi pekerjaan rumah bersama, sekaligus membuka ruang bagi Nasyiatul Aisyiyah untuk memperkuat perannya dalam mencetak kader perempuan muda yang melek sains, teknologi, dan politik di tengah percepatan transformasi digital. (ris)

Pasang Iklan-Mu di Sini (In Content)

Related Articles

Back to top button

https://dolanlink.com/

https://dolankumau88.com/

https://opalsaya88.com/

https://gokumania88.com/

https://gokunih.com/

https://opalkhusus01.org/

https://opalsaya89.com/

https://opalutama.com/

https://skwslot.net/

https://cairbos569.com/

https://cairbosjp.com/

https://caiboswild.com/

https://cairbos.net/