Esai/OpiniPersyarikatan

Gen Z dan Ruang Digital, Tantangan Dakwah Kader Muhammadiyah

PDM DEPOK – Oleh: Ahmad Soleh*

Dalam sehari, rata-rata berapa jam kita menatap layar ponsel? Dua jam, tiga jam, atau lebih dari lima jam? 

Data terbaru yang dirilis We Are Social menyebutkan, rata-rata durasi bermain gawai pada orang Indonesia sudah mencapai delapan jam per hari. Artinya, sepertiga hidup kita habis untuk aktivitas menatap layar. Ironisnya, penetrasi internet tertinggi justru didominasi oleh usia produktif, dengan generasi milenial di angka 90,34 persen dan Gen Z menyusul di 89,02 persen.

Angka-angka ini bukan sekadar hitungan statistik. Ini menggambarkan wajah generasi yang lahir dan besar di tengah deras arus informasi digital. Bagi kader Persyarikatan, realitas ini adalah panggilan sekaligus tantangan. Bagaimana dakwah bisa tetap hadir dan relevan di tengah generasi yang hidupnya nyaris tak terpisahkan dari layar.

Gen Z merupakan digital native. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang harus beradaptasi dengan teknologi, mayoritas Gen Z tidak mengenal dunia tanpa internet dan media sosial. Bagi mereka, dunia maya bukan pelengkap, melainkan bagian dari keseharian itu sendiri.

Sayangnya, generasi ini kerap terjebak stereotip yang timpang. Di satu sisi, mereka dicap manja, kurang etos kerja, kecanduan gawai, bahkan niradab. Padahal, di sisi lain, ada fakta yang sering luput dari sorotan, bahwa Gen Z memiliki kepedulian pada isu kesehatan mental, peka pada isu sosial dan lingkungan, terbuka pada informasi, serta kreatif dalam mencoba hal baru. Dua sisi ini semestinya membuat kita tidak buru-buru menghakimi. Justru di titik inilah dakwah mesti hadir secara cerdas, merangkul potensi positif mereka sekaligus menyembuhkan dampak buruk yang mereka alami.

Terlalu banyak waktu terbuang untuk scrolling berpotensi memicu kecanduan gawai, bahkan brain rot–penurunan kemampuan kognitif akibat konsumsi konten secara berlebihan. Belum lagi gangguan mental, seperti cemas, overthinking, dan FOMO yang muncul dari kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di medsos. Bahkan, kebiasaan berkomunikasi lewat media membuat sebagian dari mereka mengalami canggung ketika bersosialisasi secara langsung di dunia nyata.

Mengoneksikan Pesan Dakwah

Schwab (2016) pernah menulis, kita saat ini hidup dalam dunia yang terhubung, di mana kehadiran digital mewakili kehadiran kita di dunia nyata. Ungkapan ini relevan dipahami para pendakwah hari ini. Jika dulu mimbar masjid dan majelis taklim menjadi ruang utama syiar, kini ruang itu telah meluas hingga ke linimasa media sosial.

Namun, perluasan ruang ini tidak datang tanpa tantangan. Maraknya disinformasi dan hoaks menjadi ancaman nyata bagi kejernihan pesan dakwah. Ditambah lagi, minimnya literasi digital di kalangan sebagian dai membuat konten dakwah kerap kalah menarik dibanding konten hiburan semata. Belum lagi persoalan isu-isu ideologis, polarisasi informasi, hingga lemahnya pengelolaan media dakwah itu sendiri.

Meski begitu, di balik tantangan itu tersimpan peluang besar. Media sosial memungkinkan dakwah menjangkau audiens yang jauh lebih luas, lintas usia dan lintas wilayah. Konten dakwah pun bisa dikemas secara variatif, mulai dari video pendek, podcast, hingga infografis, sembari membuka ruang berjejaring dan silaturahmi yang lebih luas antarumat.

Mauludi (2018) mengingatkan, literasi digital sejatinya bukan sekadar kecakapan menggunakan perangkat teknologi. Ia juga mencakup kemampuan bersosialisasi, kemampuan belajar, serta sikap kritis, kreatif, dan inspiratif. Modal inilah yang mestinya dimiliki setiap kader yang hendak terjun ke ranah dakwah digital, agar pesan yang disampaikan tak sekadar viral, tetapi juga membekas dan mencerahkan.

Etika Bermedia Sosial

Kebebasan berekspresi di ruang digital semestinya tetap berpijak pada etika. Sayangnya, laporan Digital Civility Index Microsoft pernah mencatat netizen Indonesia sebagai salah satu yang paling tidak sopan di Asia Tenggara, dengan skor kesopanan digital yang justru menurun dari tahun ke tahun. Kemunduran ini paling banyak didorong oleh pengguna usia dewasa, bukan hanya remaja.

Di sinilah pentingnya etika bagi kader Muhammadiyah dalam bermedia sosial, sebagaimana diatur dalam Kode Etik NetizMu yang diterbitkan PP Muhammadiyah. Media sosial hendaknya dijadikan wahana silaturahmi, tukar informasi, dan tabayun. Sesama warga Persyarikatan juga dianjurkan saling mengingatkan dengan etika tinggi, serta berani mengoreksi dan meminta maaf ketika keliru.

Sebaliknya, ada garis tegas yang tak boleh dilanggar, yakni ghibah, fitnah, namimah, perundungan, ujaran kebencian, hingga penyebaran permusuhan yang menyinggung SARA. Kader Muhammadiyah, sebagai bagian dari umat yang mengemban misi amar ma’ruf nahi munkar, semestinya menjadi teladan kesantunan digital, bukan justru larut dalam arus ketidaksopanan.

Modal untuk Berdakwah

Wajah dakwah digital hari ini telah banyak berubah. Sejumlah anak muda tampil dengan konten yang ringkas, visual yang segar, dan bahasa yang dekat dengan keseharian anak muda. Ada yang mengemas nasihat agama lewat video pendek yang menyentuh, ada pula yang menyisipkan pesan kebaikan di tengah konten edukasi dan hiburan yang ringan. Pendekatan semacam ini terbukti mampu menembus linimasa Gen Z yang serba cepat dan visual.

Sebab, inti dari dakwah sesungguhnya sederhana. Menyeru, mengajak, dan membimbing manusia ke jalan kebenaran, agar mereka memperoleh keselamatan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Media sosial hanyalah alat, sebagaimana mimbar dan pengeras suara. Maka, sebaik-baik pengguna media sosial adalah mereka yang memanfaatkannya untuk menebarkan kebaikan, bukan sekadar mengejar validasi dan sensasi belaka.

Kader Muhammadiyah, dengan segala potensi dan modal keilmuannya, memiliki tanggung jawab besar untuk hadir di ruang digital. Bukan untuk latah mengikuti tren tanpa arah, melainkan untuk menghadirkan konten yang cerdas, kreatif, dan berakhlak, sehingga generasi yang hidup akrab dengan layar ini tetap dapat menemukan cahaya kebenaran di tengah gemerlap linimasa yang tak pernah padam.

*Sekretaris MPI PDM Kota Depok; Dosen Univ. Saintek Muhammadiyah

Pasang Iklan-Mu di Sini (In Content)

Related Articles

Back to top button

https://dolanlink.com/

https://dolankumau88.com/

https://opalsaya88.com/

https://gokumania88.com/

https://gokunih.com/

https://opalkhusus01.org/

https://opalsaya89.com/

https://opalutama.com/

https://skwslot.net/

https://cairbos569.com/

https://cairbosjp.com/

https://caiboswild.com/

https://cairbos.net/