PKDTM 1 SMA Muhammadiyah 4 Depok, Dinda Tito Ajak Gen-Z Berani Bermimpi, Bangun Kapasitas, dan Mulai Melangkah

PDMDEPOK.COM – Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati (PKDTM) 1 SMA Muhammadiyah 4 Depok menjadi ruang bagi para pelajar untuk memperkuat karakter, kepemimpinan, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan. Dalam kegiatan tersebut, Dinda Puspita Tito hadir sebagai narasumber dengan membawakan materi “Impian Terbesar Gen-Z” pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Dalam pemaparannya, Dinda mengajak para peserta untuk tidak takut memiliki mimpi, meskipun berada di tengah berbagai ketidakpastian yang dihadapi generasi muda saat ini. Tantangan seperti kondisi ekonomi, biaya hidup dan pendidikan, fenomena Fear of Missing Out (FOMO), perkembangan kecerdasan buatan (AI), perubahan dunia kerja, hingga kekhawatiran terhadap masa depan menjadi bagian dari realitas yang perlu dihadapi secara bijak.
Menurut Dinda, rasa takut gagal, merasa tertinggal, kebingungan menentukan masa depan, maupun kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain merupakan hal yang kerap dialami generasi muda. Namun, kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti melangkah.
“Kita tidak harus memiliki semua jawaban hari ini. Yang paling penting adalah memiliki arah untuk mulai. Jangan sampai ketakutan terhadap masa depan justru membuat kita berhenti membangun masa depan itu sendiri,” ujar Dinda.
Ia juga mengajak peserta untuk melakukan refleksi sederhana mengenai tiga pertanyaan penting dalam menentukan arah kehidupan, yakni ingin menjadi siapa, ingin berkontribusi melalui apa, dan mengapa hal tersebut penting bagi diri sendiri. Menurutnya, proses menemukan tujuan tidak harus selalu dimulai dengan kesempurnaan, tetapi dengan keberanian untuk menentukan arah dan mengambil langkah pertama.
Dinda menilai keterbatasan ekonomi juga tidak seharusnya membuat generasi muda menurunkan standar terhadap mimpi mereka. Yang perlu dilakukan adalah mengubah strategi dengan memanfaatkan berbagai alternatif, seperti beasiswa, bekerja sambil belajar, mengembangkan keterampilan yang bernilai, maupun mencari jalur pendidikan dan pengembangan diri lainnya.
“Kalau kondisi kita terbatas hari ini, itu bukan berarti masa depan kita juga harus terbatas. Yang perlu kita ubah adalah strateginya, bukan standar mimpi. Keterbatasan hari ini tidak sama dengan ketidakmungkinan selamanya,” tegasnya.
Memasuki era kecerdasan buatan, Dinda juga menekankan pentingnya kesiapan pelajar untuk tidak sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu bekerja dan berkolaborasi dengan teknologi. Menurutnya, generasi muda perlu membangun kombinasi antara human skills, digital skills, dan proof of work sebagai modal menghadapi perubahan dunia kerja.
Dalam konteks tersebut, kemampuan komunikasi, empati, dan kepemimpinan tetap menjadi keterampilan penting yang tidak dapat diabaikan. Pada saat yang sama, pelajar perlu meningkatkan literasi AI, kemampuan mengolah data, serta penguasaan berbagai perangkat digital. Kemampuan tersebut idealnya dibuktikan melalui karya, proyek, maupun portofolio.
“Teknologi akan terus berubah, termasuk AI. Tetapi karakter, komunikasi, empati, dan kepemimpinan tetap menjadi kekuatan manusia. Karena itu, pelajar harus membangun dua hal sekaligus: kemampuan digital dan kemampuan manusia,” kata Dinda.
Lebih lanjut, Dinda mengajak para peserta untuk mengubah cara pandang terhadap kegagalan. Alih-alih terus memikirkan kemungkinan buruk seperti takut gagal, salah memilih jurusan, atau tidak sukses, pelajar diarahkan untuk bertanya mengenai hal yang dapat dipersiapkan sejak hari ini. Pendekatan tersebut dirumuskan melalui empat langkah, yakni Recognize, Reframe, Respond, dan Repeat.
Ia juga mendorong peserta untuk mulai membangun berbagai “aset” masa depan sejak masih berada di bangku sekolah. Beasiswa, keterampilan, prestasi, karya, pengalaman organisasi, kemampuan kepemimpinan, teamwork, dan jaringan merupakan modal yang dapat memperluas pilihan generasi muda dalam menentukan masa depan.
“Jangan hanya bermimpi, tetapi bangun aset yang membuat mimpi itu semakin mungkin. Skill, prestasi, pengalaman organisasi, karya, dan relasi adalah bagian dari kapasitas yang akan memperluas pilihan kalian di masa depan,” tuturnya.
Sebagai langkah praktis, Dinda memperkenalkan tantangan tujuh hari dari “pengen” menuju “gerak”. Peserta diajak menuliskan mimpi dan alasannya, melakukan riset terhadap tiga jalur yang mungkin ditempuh, memilih satu keterampilan yang relevan, mencari peluang, membuat satu karya, menemukan mentor atau komunitas, kemudian menetapkan target selama 30 hari.
Menurut Dinda, kepemimpinan pelajar tidak hanya ditunjukkan melalui kemampuan memimpin orang lain, tetapi juga melalui kemampuan memimpin diri sendiri. Keberanian menentukan arah, membangun kapasitas, mengambil keputusan, serta konsisten melakukan evaluasi menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Ia pun menutup materi dengan mengajak para peserta untuk tidak menunggu kondisi sempurna untuk memulai. Masa depan, menurutnya, bukan sesuatu yang cukup ditebak atau ditunggu, melainkan harus dibangun melalui proses yang terencana dan konsisten.
“Dream, map, build, move. Tentukan arah, cari jalur, bangun kapasitas, lalu mulai sekarang. Naikkan kapasitasmu, perluas pilihanmu, dan jangan takut mengambil langkah pertama,” pungkas Dinda Puspita Tito.



