Ahmad Soleh

PDM DEPOK – Oleh: Ahmad Soleh*

Apa yang membuat Muhammadiyah bertahan sampai seabad lebih? Membangun negeri tanpa kenal kata lelah. Menegakkan nilai-nilai Islam dengan wajah yang ramah dan rahmah. Membina masyarakat menuju peradaban unggul lewat dedikasi amal usaha pendidikan, perguruan tinggi, dan sebagainya. Ya, jawabannya, Muhammadiyah memiliki konsistensi dan inner dynamic (kekuatan inti yang muncul dari dalam).

Konsistensi dalam hal apa? Muhammadiyah memegang teguh nilai-nilai, spirit, ajaran, dan ideologinya. Muhammadiyah konsisten membina warga dan menjaga marwah gerakan di akar rumput. Pertanyaan berikutnya, apa yang membuat Muhammadiyah bisa begitu mengakar? Padahal, konsekuensi dari perjalanan panjang sebuah organisasi ialah tak lepas dan tak luput dari beragam tantangan dan aral melintang.

Mengutip Kuntowijoyo (2018: 336), dalam memandang realitas sosial, terdapat struktur budaya, struktur sosial, dan struktur teknis. Dalam hal ini, Muhammadiyah merupakan struktur budaya dan struktur sosial dalam masyarakat. Muhammadiyah memperjuangkan tegaknya nilai-nilai agama, yakni ajaran Islam yang berumber pada Al-Quran dan sunah, di tengah masyarakat.

Selain itu, Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan berbasis Islam memiliki sentimen kolektif yang dalam hal ini dipandu oleh ideologi gerakannya atau matan keyakinan dan cita-cita hidup. Muhammadiyah sebagai gerakan jamaah atau organisasi kemasyarakatan dengan semangat dakwah amar ma’ruf nahi munkar juga menegaskan peran dan fungsinya di tengah kehidupan bangsa. Ini sebabnya Muhammadiyah memainkan peran sebagai struktur sosial. Meskipun tak terlibat dalam politik praktis, Muhammadiyah dapat memberikan pengaruh besar dalam urusan kebijakan publik.

Menempa Kader Bangsa

Bagi Kuntowijoyo, struktur teknik adalah struktur yang berperan dalam kepemimpinan dan kekuasaan. Maka, tugas ini sangat identik dengan peran parpol. Muhammadiyah tidak memainkan peran sebagai “alat untuk merebut kekuasaan”. Sebab itu, Muhammadiyah dapat bekerja dengan luwes dan gembira membangun masyarakat dari akar rumput tanpa terafilisasi atau tersandera oleh kepentingan apa pun.

Ya, Muhammadiyah sejak awal teguh pada pendiriannya, sebagaimana dijelaskan Buya Haedar Nashir, “Muhammadiyah terus berkiprah membangun Indonesia dan mengawal pemilu sesuai porsinya sebagai organisasi dakwah kemasyarakatan.” Kendati begitu, dalam perspektif Muhammadiyah, agaknya struktur teknik dapat mewujud dalam bentuk yang lain.

Jika dalam penjelasan Kunto struktur teknik lebih kepada peran parpol, yang murni untuk merebut kekuasaan dan memegang kepemimpinan, Muhammadiyah sebagai organisasi melahirkan kader-kader utama, mendorong lahirnya kader umat dan kader bangsa. Muhammadiyah tidak kekurangan stok kader berpotensi untuk memimpin umat dan bangsa.

Jadi, secara tak langsung, sebetulnya Muhammadiyah memainkan struktur teknik dengan berperan menjadi wadah bagi calon-calon pemimpin bangsa menempa diri dan menguatkan karakter pribadinya sebagai pemimpin. Hal ini membuat kader yang lahir dari rahim Muhammadiyah akan berbeda dengan orang yang murni lahir dari partai politik. Baik secara watak, pandangan, maupun komitmennya terhadap bangsa.

Semangat altruistik yang sejak awal ditanamkan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, begitu kuat mengakar dalam rekam jejak Persyarikatan. Watak mementingkan kemaslahatan dibandingkan kepentingan pribadi/golongan adalah ciri Muhammadiyah. Bahkan, pada level individu karakter ini begitu terpatri. Dan sudah seharusnya setiap kader, pimpinan, juga warga Muhammadiyah dapat mencerminkan sikap demikian dalam kata dan laku keseharian.

Membina dari Bawah

Dalam pidato Resepsi Milad 111 Muhammadiyah, Buya Haedar berpesan agar membangkitkan etos jamaah dan warga masyarakat untuk menjadi komunitas yang religius, bersosial, cerdas, berilmu, dan berdaya dalam berbagai aspek kehidupan. “Kembangkan kerja sama dan taawun antarwarga dan jamaah sehingga menjadi insan kolektif yang mau saling berbagi dan peduli,” ungkapnya.

Pesan ini bukan tanpa alasan. Apa yang diungkapkan Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut secara jelas menegaskan bahwa kekuatan Persyarikatan terletak pada komitmen dan kesadaran segenap warganya, kekuatan jamaah. Semangat jamaah yang tercipta mulai dari ranting sampai level pusat sangat menentukan apakah gerakan ini akan berhasil atau tidak. Hal ini bisa dimulai dengan adanya visi besar bersama. Bagaimanapun, narasi yang digaungkan harus teramplifikasi sampai ke ranting-ranting, sebab dengan begitulah narasi akan membumi dan mencapai level amaliah.

Buya Haedar meneruskan, “Makmurkan masjid dan Cabang-Ranting sehingga menjadi kekuatan pemandu kehidupan warga. Cerdaskan, cerahkan, dan makmurkan warga di akar rumput menuju Masyarakat Berkemajuan. Hidupkan Keluarga Sakinah sebagai pranata penting masyarakat berperadaban utama!” Penguatan di akar rumput, mulai dari level cabang-ranting, sampai level keluarga-juga individu, merupakan bagian penting dalam keberlangsungan dakwah Persyarikatan.

Apa yang diupayakan Muhammadiyah melalui amal usaha dan ortomnya, merupakan langkah nyata membangun peradaban yang maju dan unggul. Mimpi besar Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat berkemajuan, yang sejalan dengan visinya mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, pun menjadi keniscayaan bila penguatan itu dilakukan dari bawah. Maka, merefleksikan tema Milad 111 Muhammadiyah, Ikhtiar Menyelamatkan Semesta itu sangat bisa dimulai dari akar rumput.

Referensi

Kuntowijoyo. 2018. Muslim Tanpa Masjid. Yoyakarta: IrciSod
Nashir, Haedar. 2015. Dinamisasi Gerakan Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Nashir, Haedar. 2023. Pidato Milad 111 Muhammadiyah. Suaramuhammadiyah.id.
PP Muhammadiyah. 2023. Dokumen Hasil Muktamar 48, Risalah Islam Berkemajuan.
PP Muhammadiyah. 2014. Indonesia Berkemajuan, Rekonstruksi Kehidupan Kebangsaan yang Bermakna.

*Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Depok 2022-2027

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini