PDM DEPOK – Organisasi pada umumnya menggunakan istilah “pengurus” untuk menyebut hierarki strukturalnya. Hal ini berbeda dengan yang dipilih Muhammadiyah. Organisasi Islam modern terbesar ini tidak menggunakan istilah “pengurus”, melainkan “pimpinan”.

Hal ini tentu ada argumentasi filosofis dan konseptual yang mendasarinya. Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Abdul Mu’ti dalam berbagai kesempatan menjelaskan bahwa penggunaan istilah “pimpinan” dalam struktural Muhammadiyah memiliki fungsi moral.

Menurut beliau, setiap struktur formal organisasi di Muhammadiyah wajib menjadi teladan sebagai pemimpin (uswatun hasanah). Hal ini juga menegaskan bahwa anggota Muhammadiyah mesti memiliki etos kepemimpinan (leadership) dalam menjalankan amanahnya. Tidak sekadar “titip nama” dalam SK.

“Pimpinan itu mencerminkan kepribadian dengan tugas fungsi yang melekat dalam jabatan,” ungkap Abdul Mu’ti. Selain itu, Mu’ti juga mengungkapkan, istilah “pimpinan” memiliki tugas lebih luas dan kompleks dibandingkan “pengurus”, yang terkesan hanya menjalankan tugas sampai habis masa baktinya.

Selain itu, bila dilihat dari sisi historisnya, penggunaan istilah pimpinan tidak serta merta digunakan oleh Muhammadiyah. Pada masa lampau, Muhammadiyah menggunakan istilah Belanda, “Hoofdbestuur” atau disingkat HB.

Kemudian pada tahun 1944, di mana bertepatan dengan masa revolusi fisik, Muhammadiyah menetapkan penggunaan istilah pengurus besar (PB) untuk tataran pusat. Penggunaan istilah PB ini ditetapkan dalam Muktamar Darurat. Istilah PB saat ini jamak digunakan ormas Islam seperti NU.

Baru pada Muktamar ke-32 Muhammadiyah di Purwokerto pada tahun 1953, Muhammadiyah menetapkan menggunakan istilah pimpinan. Pimpinan Pusat (PP) untuk tataran nasional, Pimpinan Wilayah (PW) untuk tataran wilayah/provinsi, Pimpinan Daerah (PD) untuk tataran kabupaten/kota, Pimpinan Cabang (PC) untuk tataran kecamatan/kelurahan, dan Pimpinan Ranting (PR) untuk tataran kelurahan/wilayah tertentu.

Istilah pimpinan inilah yang masih digunakan Muhammadiyah hingga saat ini. Dengan demikian, alangkah baik kiranya para pimpinan Muhammadiyah dapat menghayati dan menjalankan amanah ini dengan penuh tanggung jawab. Semoga jalan kita mendapat ridha-Nya. Amien.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini