Letto dan Tantri di Muktamar Muhammadiyah
Letto dan Tantri di Muktamar Muhammadiyah

PDM DEPOK – Agama kerap dipertentangkan dengan seni dan budaya. Hal yang demikian akan membuat pemeluk agama bersikap keras, kaku, dan sulit membaur dengan kehidupan masyarakat. Sebab, kehidupan manusia tak lepas dari seni dan budaya. Pergesekan di antaranya pun tak pelak sulit untuk dihindari.

Lalu, bagaimana Muhammadiyah memandang seni dan budaya? Islam adalah agama yang fitrah. Artinya, Islam sejatinya tidak bertentangan dengan fitrah manusia. Bahkan, Islam membantu manusia menyalurkan, mengatur, dan mengarahkan fitrah itu untuk kemuliaan dan kehormatan manusia sebagai makhluk Allah.

Mungkin kita sudah jamak mendengar ungkapan, “dengan seni hidup jadi indah, dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan agama hidup menjadi terarah”. Begitulah ajaran Islam yang memberi arah pada keindahan dalam kesenian dan kebudayaan. Dengan menjalankan ajaran Islam yang lurus, hidup kita akan lebih terarah dan dijauhkan dari keburukan.

Diskursus ini juga dibahas dalam dokumen Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Disebutkan di sana bahwa berdasarkan keputusan Munas Tarjih ke-22 tahun 1995, karya seni itu hukumnya mubah (boleh) selama tidak mengarah atau mengakibatkan fasad (kerusakan), dharar (bahaya), ishyan (kedurhakaan), dan ba’id ‘anillah (terjauhkan dari Allah).

Atas dasar itulah pengembangan kehidupan seni dan budaya di kalangan warga Muhammadiyah harus sejalan dengan etika atau norma-norma Islam. Mengingat kesenian merupakan suatu hal yang netral. Artinya, bisa berpotensi membawa kebaikan, juga bisa berpotensi pada keburukan.

“Rasa seni merupakan penjelmaan rasa keindahan dalam diri manusia merupakan salah satu fitrah yang dianugerahkan Allah SWT yang harus dipelihara dan disalurkan dengan baik dan benar sesuai dengan jiwa ajaran Islam,” tulis PHIWM (hlm 92).

Seni dan budaya dalam perspektif Muhammadiyah ialah sarana berdakwah. Dengan menikmati seni dan budaya diharapkan dapat menumbuhkan perasaan halus, keindahan, dan upaya meningkatkan kedekatan dengan Allah SWT.

Kuntowijoyo dalam buku Muslim Tanpa Masjid menegaskan bahwa seni dan budaya (termasuk di dalamnya sastra) bukanlah alat dakwah, melainkan dakwah itu sendiri. Ungkapan ini sebangun dengan pemikiran Muhammadiyah yang mendorong seni dan budaya sebagai dakwah. Dakwah yang barangkali menjadi bagian dari strategi dalam membangun peradaban. (sho)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini